
JAKARTA – Pengembangan kawasan tidak selalu berarti membangun sesuatu yang baru. Di Kota Tua Jakarta, PT MRT Jakarta (Perseroda) justru ingin mempertahankan identitas yang telah melekat selama puluhan hingga ratusan tahun sebagai bagian dari wajah baru kawasan.
Pendekatan tersebut disiapkan MRT Jakarta melalui konsep placemaking, yang menempatkan karakter kawasan dan aktivitas masyarakat sebagai bagian penting dalam pengembangan ruang kota.
Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta (Perseroda) Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan setiap kawasan memiliki karakter berbeda sehingga konsep placemaking tidak dapat diterapkan secara seragam.
Kota Tua merupakan salah satu kawasan yang telah memiliki identitas kuat. Karena itu, pengembangan placemaking di kawasan tersebut tidak diarahkan untuk menggantikan karakter lama dengan identitas baru.
“Heritage-nya enggak boleh hilang karena itu kekayaan kota kita juga,” ujar Samuel dalam kelas Fellowship MRT Jakarta, Rabu, 9 September.
Menurut Samuel, identitas tersebut justru dapat menjadi modal untuk menciptakan aktivitas baru di kawasan. Kota Tua tidak hanya dipertahankan sebagai kawasan wisata sejarah, tetapi juga diarahkan memiliki tema baru yang dapat menghidupkan aktivitas seni dan ekonomi kreatif.
“Nah yang kembali ke human-nya tadi ya, interaksi fisik itu akan dipertahankan jadi identitas di sana. Tapi pastinya akan ada tema baru yang ini juga akan disematkan ke Kota Tua,” kata Samuel.
Salah satu tema yang tengah dilirik adalah industri film. Samuel menyebut pengembangan aktivitas tersebut sejalan dengan gerakan perfilman yang sedang didorong di Jakarta.
“Kebetulan di Jakarta ini juga lagi ada didorong gerakan untuk film. Ada Jakarta Film Commission ya,” ujarnya.
Gagasan tersebut juga mendapat dukungan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang disebut Samuel menjabat sebagai Ketua Revitalisasi Kawasan Kota Tua dan memiliki latar belakang sebagai seniman.
“Kebetulan Bapak Wakil Gubernur kita juga Ketua Revitalisasi Kawasan Kota Tua, nanti timnya itu yang mengepalai Pak Wakil Gubernur kita dan karena beliau background-nya dulu juga memang seniman ya. Jadi memang beliau juga sangat mendukung bahwa Kota Tua ini punya visi untuk seninya tadi,” kata Samuel.
Dukungan tersebut membuka peluang Kota Tua tidak hanya menjadi ruang wisata heritage, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas seni dan produksi film.
“Jadi mungkin akan banyak tuh, di sana nanti akan ada art exhibition, mungkin banyak yang syuting di Kota Tua, bikin film-film di sana. Atau bahkan mungkin ada banyak studio-studio film baru yang mungkin juga akan dikembangkan di arah Kota Tua,” ujarnya.
Meski membawa aktivitas baru, identitas lama Kota Tua tetap menjadi bagian yang dipertahankan. Samuel mencontohkan kawasan Glodok yang selama ini dikenal sebagai Pecinan sekaligus sentra perdagangan elektronik.
“Pasti orang ingatnya di situ ya kalau enggak belanja elektronik, belanja ke area China Town-nya, area Glodok Pecinanya. Nah sebetulnya itu identitas yang akan dipertahankan, untuk revitalisasi Kota Tua. Heritage-nya enggak boleh hilang karena itu kekayaan kota kita juga gitu,” kata Samuel.
Identitas sejarah tersebut juga akan diangkat melalui gagasan Little Amsterdam. Samuel menyebut sejumlah bangunan di Kota Tua memiliki kemiripan dengan bangunan di Amsterdam dan Den Haag.
“Jadi memang, di Kota Tua itu, kalau ditelusuri, gedung-gedung yang ada di sini, ternyata ada kembarannya di Amsterdam, di Den Haag. Itu ada kembarannya. Bahkan gedungnya bentuknya sama persis,” ucapnya.
Bagi MRT Jakarta, aktivitas baru yang hadir melalui placemaking diharapkan tidak hanya menghidupkan kawasan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Yang utamanya itu justru surrounding-nya. Bukan apa yang MRT dapatkan secara langsung, tapi bagaimana sekitarnya ini hidup memberikan ekonomi yang lebih besar buat Jakarta,” tutupnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
