TOKYO – Bank of Japan atau BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25 persen dari 1 persen dalam rapat dua hari yang dimulai Kamis. Jika terealisasi, level itu menjadi yang tertinggi dalam 31 tahun.
Kyodo News, dikutip Jumat, 18 September, menyebut langkah tersebut diperkirakan diambil untuk meredam risiko inflasi yang meningkat akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan yen.
BOJ sebelumnya menaikkan suku bunga tiga bulan lalu. Jika kembali menaikkan bunga, jarak antarkenaikan menjadi yang paling pendek sejak bank sentral Jepang memulai siklus kenaikan suku bunga pada Maret 2024.
Pelemahan yen ke level terendah dalam beberapa dekade terhadap dolar AS membuat biaya impor naik. Pada saat yang sama, harga minyak mentah melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Kombinasi itu meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi Jepang bisa melampaui perkiraan BOJ.
Dolar AS baru-baru ini sempat menembus 160 yen meski otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ pada September kemudian membantu yen kembali menguat tipis.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga meminta Jepang mengambil langkah untuk memperkuat yen. Ia juga menyarankan agar BOJ menaikkan suku bunga.
Bessent bertemu Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Gubernur BOJ Kazuo Ueda pada akhir bulan lalu. Ia khawatir yen yang lemah dapat mendorong inflasi Jepang, sementara kenaikan imbal hasil atau tingkat keuntungan obligasi pemerintah Jepang dapat ikut mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatkan biaya pinjaman.
Awal bulan ini, Ueda mengatakan BOJ akan membahas kemungkinan kenaikan suku bunga dalam setiap rapat, termasuk pertemuan September. Namun, keputusan akhir tetap akan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan harga.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang juga menghadapi tekanan naik di tengah kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal negara tersebut. Kekhawatiran itu muncul di tengah kebijakan fiskal ekspansif pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Biaya pinjaman yang lebih tinggi berisiko menekan belanja modal dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi itu menjadi tantangan bagi BOJ untuk menahan inflasi tanpa menekan pertumbuhan.
BOJ masih dijadwalkan menggelar dua rapat kebijakan lagi tahun ini, masing-masing pada Oktober dan Desember. Pasar akan mencermati apakah bank sentral Jepang akan melanjutkan kenaikan suku bunga dan seberapa cepat langkah berikutnya akan dilakukan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
