JAKARTA – Saat menonton festival musik atau pertunjukan teater, perhatian penonton biasanya tertuju pada apa yang terjadi di atas panggung. Namun, ada satu elemen yang sering kali luput dari perhatian meski perannya sangat besar, yakni kualitas audio atau suara.
Suara yang terdengar jernih dari awal hingga akhir pertunjukan bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Di baliknya, ada tim audio yang memastikan mikrofon, in-ear monitoring (IEM), koneksi wireless, dan berbagai perangkat pendukung dapat bekerja secara bersamaan. Ketika jumlah performer dan perangkat semakin banyak, pekerjaan tersebut pun menjadi semakin kompleks.
Bagi penonton, kerumitan itu biasanya tidak terlihat. Yang terdengar hanyalah suara penyanyi yang tetap jelas ketika bergerak di atas panggung, dialog pemain teater yang dapat diikuti dengan baik, atau musik yang terdengar utuh dari kursi penonton. Justru ketika sistem audio bekerja dengan baik, keberadaannya seolah menghilang dari perhatian.
Perkembangan teknologi audio profesional kini semakin diarahkan untuk mendukung pengalaman tersebut. Salah satunya melalui Spectera, ekosistem wireless audio profesional dari Sennheiser yang resmi diperkenalkan di Indonesia.
Menggunakan teknologi Wireless Multichannel Audio Systems (WMAS), Spectera memungkinkan sejumlah koneksi audio berjalan melalui satu kanal RF wideband, sekaligus menghadirkan komunikasi dua arah antara perangkat dan sistem.
Bagi para profesional di balik panggung, pendekatan ini memberikan cara yang lebih terintegrasi untuk mengelola kebutuhan audio. Satu Spectera Base Station dapat mendukung hingga 64 link audio, yang terdiri dari 32 input dan 32 output, dalam perangkat berukuran 1U.
Sistem ini juga memungkinkan engineer memantau sejumlah kondisi secara remote, mulai dari level audio dan performa RF hingga status baterai.
“Pengelolaan wireless dapat dengan cepat menjadi kompleks dalam produksi berskala besar, terutama ketika harus menangani mikrofon, in-ear monitoring,dan koordinasi RF secara bersamaan,” ujar Roland Lim, Sales Director, Sennheiser Asia dalam keterangan persnya kepada VOI, Jumat, 18 September.
Di Indonesia, Spectera telah digunakan dalam sejumlah produksi, termasuk di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), konser Raisa’s Love & Let Go, serta Festival Pagelaran Sabang Merauke. Penggunaannya di berbagai jenis pertunjukan tersebut menunjukkan kebutuhan audio di atas panggung dapat memiliki karakter yang sangat beragam.
Dalam sebuah konser, misalnya, performer dapat bergerak aktif sambil menggunakan mikrofon dan IEM. Sementara dalam pertunjukan teater, kejernihan dialog dan koordinasi berbagai elemen suara menjadi bagian penting dari pengalaman penonton.
Di tengah kebutuhan yang berbeda-beda tersebut, kemampuan untuk memantau dan mengatur sistem secara terpusat menjadi salah satu aspek yang ditawarkan Spectera.
“Spectera mengintegrasikan berbagai elemen tersebut dalam satu ekosistem, sehingga memberikan cara yang lebih efisien bagi engineer untuk mengelola konfigurasi wireless mereka. Respons dan feedback yang kami terima sejauh ini sangat positif, dan kami berharap semakin banyak profesional dapat merasakan kemampuan yang ditawarkan oleh Spectera,” tambah Roland Lim.
Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari peluncuran Spectera di Jakarta. Bertempat di Bengkel Space, SCBD, acara tersebut mempertemukan para profesional dari komunitas audio sekaligus memberikan kesempatan bagi para tamu untuk melihat langsung bagaimana sistem tersebut digunakan dalam pertunjukan musik live dan musikal singkat.

Seiring ekosistem Spectera berkembang, Sennheiser juga memperkenalkan Spectera SKM, handheld transmitter terbaru yang akan mulai tersedia di Indonesia pada kuartal keempat 2026. Perangkat ini membawa arsitektur wideband dan komunikasi dua arah Spectera ke penggunaan mikrofon handheld, dengan sasaran penggunaan profesional seperti live sound, teater, broadcast, dan rumah ibadah.
SKM hadir dengan bodi aluminium anodized dan layar OLED, serta kompatibel dengan berbagai kapsul Sennheiser dan Neumann. Melalui koneksi dua arah dengan Spectera Base Station, tim audio dapat memantau kondisi baterai, performa RF, level audio, kekuatan sinyal, hingga kualitas koneksi. Pengaturan seperti gain dan low-cut juga dapat disesuaikan secara remote.
Bagi orang yang berada di atas panggung, teknologi semacam ini bukan tentang berapa banyak spesifikasi yang dimiliki sebuah perangkat, tapi teknologi tersebut memberi ruang bagi performer untuk berkonsentrasi pada pertunjukan, sementara tim di belakang layar dapat menjaga agar semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Sebab, pengalaman menonton yang baik sering kali justru dibangun oleh berbagai hal yang tidak terlihat. Penonton mungkin tidak mengetahui perangkat apa yang digunakan atau bagaimana sinyal audio dikelola sepanjang pertunjukan.
Mereka hanya merasakan ketika suara terdengar jelas, musik terasa hidup, dan performer dapat tampil tanpa terganggu persoalan teknis.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
