JAKATA – Korea Selatan menegaskan tidak bisa memperlambat pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Negara itu masih mengejar pemimpin teknologi global sekaligus berusaha menciptakan pasar baru.
Menurut Anadolu Agency, disitat, Kamis, 17 September yang mengutip Yonhap News, Menteri Sains Korea Selatan Bae Kyung-hoon menyampaikan sikap tersebut melalui media sosial pada Rabu.
“Bagi negara yang sudah berada di depan, menyesuaikan kecepatannya adalah persoalan yang sama sekali berbeda dibandingkan negara yang masih mengejar sambil sekaligus harus menciptakan pasar baru,” kata Bae.
“Kami tidak mampu memperlambat laju pengembangan AI,” lanjutnya.
Bae mengatakan kesenjangan teknologi berisiko semakin lebar antara negara yang memiliki model AI mutakhir dan negara yang belum memilikinya.
Model AI mutakhir yang dimaksud adalah sistem AI dengan kemampuan paling maju dan terus dikembangkan mendekati kemampuan kecerdasan manusia.
Menurut Bae, ketertinggalan itu tidak hanya menyangkut teknologi. Dampaknya dapat menjalar ke daya saing industri, keamanan nasional, hingga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Namun, ia tidak mendorong pengembangan AI tanpa batas. Bae menegaskan keamanan teknologi dan kepercayaan publik harus berkembang seiring dengan kemajuan AI.
Pernyataan tersebut muncul saat perdebatan global mengenai kecepatan pengembangan AI semakin menguat.
CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan Elon Musk termasuk tokoh teknologi yang menyerukan perlambatan pengembangan AI mutakhir. Mereka berpendapat langkah pengamanan perlu diberi waktu untuk mengejar laju perkembangan teknologi.
Mereka juga mendorong pengawasan independen yang lebih kuat terhadap pengembangan AI.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil posisi berbeda. Ia menolak seruan perlambatan tersebut dan menyebut kekhawatiran AI akan mengancam umat manusia sebagai “hoaks”.
Trump berpendapat perlambatan pengembangan AI di Amerika Serikat justru dapat memberi keuntungan kepada China.
China juga menolak pendekatan yang mendorong perlambatan. Beijing menyatakan “menebar ketakutan, konfrontasi, dan persaingan tidak sehat” dapat menghambat tata kelola AI global.
Sebaliknya, China menyerukan pengembangan AI yang terbuka dan inklusif.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
