The Fed Naikkan Suku Bunga Pertama Sejak 2023, Peluang Kenaikan Lanjutan Masih Terbuka


WASHINGTON – Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Bank sentral AS juga memberi sinyal masih ada peluang kenaikan lanjutan tahun ini karena inflasi tetap tinggi di tengah dampak perang di Iran.

Menurut Kyodo News, dikutip Kamis, 17 September, keputusan itu membawa kisaran target federal funds rate menjadi 3,75 persen hingga 4 persen. Federal funds rate merupakan suku bunga pinjaman semalam antarbank komersial di Amerika Serikat.

Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC, yang menentukan arah kebijakan moneter The Fed, mengambil keputusan tersebut secara bulat.

Dari 18 pembuat kebijakan yang menyampaikan proyeksi terbaru, 12 memperkirakan masih ada satu kenaikan lagi sebesar 0,25 poin persentase hingga akhir tahun. Empat lainnya memperkirakan dua kenaikan tambahan, sedangkan dua anggota melihat suku bunga bertahan di level baru.

Proyeksi itu menunjukkan perubahan arah kebijakan The Fed. Hingga akhir tahun lalu, bank sentral masih berada dalam jalur penurunan suku bunga. Sejak Desember, kisaran bunga dipertahankan pada 3,50 persen hingga 3,75 persen.

“Aktivitas ekonomi berkembang dengan laju yang solid. Meski ketidakpastian tetap tinggi, sebagian karena perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh,” kata FOMC setelah rapat kebijakan dua hari.

Komite juga menegaskan inflasi masih tinggi dan kenaikan suku bunga diarahkan untuk mempercepat kembalinya inflasi ke target 2 persen.

Inflasi AS sudah berada di atas target tersebut selama lebih dari lima tahun. The Fed masih memiliki dua rapat kebijakan tahun ini, yakni pada Oktober dan Desember.

Perang melawan Iran yang dimulai Presiden Donald Trump bersama Israel pada akhir Februari, menurut Kyodo, telah mendorong kenaikan harga energi dan sejumlah barang konsumsi lainnya.

Tekanan harga terlihat dalam data inflasi Agustus. Indeks harga konsumen naik 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sama dengan Juli.

Namun secara bulanan, indeks naik 0,4 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1 persen pada Juli. Kenaikan tersebut terutama didorong harga bensin.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bank sentral kini lebih memusatkan perhatian pada stabilitas harga dalam mandat gandanya, yakni menjaga inflasi dan mendukung lapangan kerja maksimum.

“Faktanya sederhana, inflasi terlalu tinggi dan sudah terlalu lama berada di level tinggi. Data inflasi musim panas ini belum menunjukkan kepada saya bahwa tren dasarnya membaik secara berarti,” kata Warsh dikutip Kyodo News.

“Stabilitas harga adalah fondasi pertumbuhan ekonomi, dan saya kira hari ini kami mengambil langkah penting untuk mewujudkannya,” lanjutnya.

Keputusan The Fed itu berpotensi mempertajam perbedaan pandangan Warsh dengan Trump, yang berulang kali meminta suku bunga lebih rendah untuk mendorong belanja dan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa jam setelah rapat kebijakan, Trump kembali meminta The Fed segera memangkas suku bunga. Melalui media sosial, ia mengatakan bunga seharusnya berada di level 1 persen atau lebih rendah karena menurutnya ekonomi AS sedang mengalami lonjakan investasi.

Kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman bagi konsumen lebih mahal, termasuk kredit perumahan, kendaraan, dan kartu kredit.

Rapat kali ini merupakan yang ketiga dipimpin Warsh sejak menggantikan Jerome Powell pada Mei. Sebelumnya, Trump berulang kali menekan Powell agar memangkas suku bunga.

The Fed juga memperbarui proyeksi ekonomi. Median proyeksi inflasi tahun ini naik menjadi 3,7 persen dari 3,6 persen pada Juni. Proyeksi tingkat pengangguran turun dari 4,3 persen menjadi 4,1 persen.

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,3 persen pada 2026, sedikit lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,2 persen.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *