
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan Rabu, 16 September. Investor akan mencermati perkembangan pasar global menjelang keputusan kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, IHSG ditutup melemah 1,13 persen atau 73,54 poin ke level 6.461,15. Sebanyak 312 saham ditutup menguat, 314 saham melemah, dan 165 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,72 triliun dengan frekuensi sekitar 1,77 juta kali transaksi.
Tekanan terhadap pasar saham domestik terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut meningkat setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga masih relatif tinggi. Selain itu, harga minyak dunia yang berada di atas 100 dolar AS per barel turut menjadi perhatian karena berpotensi mempertahankan tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG berpotensi tetap volatil karena investor akan mencermati tidak hanya keputusan suku bunga, tetapi juga arah kebijakan The Fed setelah rapat FOMC. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek kebijakan moneter selanjutnya akan menjadi salah satu sentimen penting bagi pasar.
Dari sisi teknikal, penurunan IHSG hingga level 6.461,15 membuat indeks kembali berada di bawah level psikologis 6.500. Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan IHSG masih memiliki risiko menguji area support yang lebih rendah apabila tekanan jual berlanjut.
MNC Sekuritas sebelumnya memperkirakan IHSG masih rawan menguji area 6.290-6.370, dengan support berada di 6.279 dan 6.201. Sementara itu, level resistance berada di 6.585 dan 6.633.
Selain sentimen The Fed, investor domestik juga akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah serta bursa saham global. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dapat menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat dan Eropa mengalami tekanan pada Selasa, sementara imbal hasil Treasury AS 10 tahun mendekati 5 persen. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga dan inflasi.
Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG pada perdagangan Rabu diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas. Investor akan mencermati level 6.400 sebagai area psikologis berikutnya, sementara level 6.500 menjadi perhatian apabila indeks mampu melakukan rebound.
Pelaku pasar juga disarankan mencermati saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi, sekaligus memperhatikan perkembangan harga komoditas serta arus dana investor asing di tengah meningkatnya volatilitas pasar.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
