{"id":99879,"date":"2026-08-17T08:15:34","date_gmt":"2026-08-17T01:15:34","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/08\/17\/81-tahun-merdeka-dari-rafale-di-langit-hingga-upah-kupas-bawang-di-pasar\/"},"modified":"2026-08-17T08:15:34","modified_gmt":"2026-08-17T01:15:34","slug":"81-tahun-merdeka-dari-rafale-di-langit-hingga-upah-kupas-bawang-di-pasar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/08\/17\/81-tahun-merdeka-dari-rafale-di-langit-hingga-upah-kupas-bawang-di-pasar\/","title":{"rendered":"81 Tahun Merdeka, dari Rafale di Langit hingga Upah Kupas Bawang di Pasar"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Dua jet Rafale akan membelah langit Jakarta pada peringatan 81 tahun <strong><a title=\"kemerdekaan\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/589891\/hut-ri-ke-81-besok-lalu-lintas-kawasan-monas-hingga-dukuh-atas-direkayasa-mulai-pagi-hingga-malam\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kemerdekaan<\/a><\/strong> Indonesia. Di sekitar Istana, pesawat tempur baru TNI AU itu menjadi bagian dari atraksi udara. Merah Putih dikerek. Pidato kebangsaan disampaikan.<\/p>\n<p>Negara punya banyak cara menunjukkan Republik ini berdiri tegak. Namun <strong><a title=\"kemerdekaan\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/589891\/hut-ri-ke-81-besok-lalu-lintas-kawasan-monas-hingga-dukuh-atas-direkayasa-mulai-pagi-hingga-malam\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kemerdekaan<\/a><\/strong> punya ukuran lain. Lebih sederhana. Kadang justru lebih jujur.<\/p>\n<p>Ia ada di pasar. Di meja makan. Di slip gaji. Juga di uang yang dibawa pulang buruh setelah bekerja seharian.<\/p>\n<p>Karena itu, satu angka dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR mencuri perhatian di tengah deretan capaian besar pemerintah.<\/p>\n<p>Prabowo memperkenalkan Susanah, warga Bogor penerima Program Keluarga Harapan. Dalam pidatonya, Presiden menyebut Susanah bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram.<\/p>\n<p>Angka itu membuat kening berkerut. Pasalnya, harga bawang sendiri hanya puluhan ribu rupiah per kilogram. Kalau ongkos mengupasnya Rp700.000, pengupas bawang barangkali layak masuk daftar pekerjaan paling menjanjikan tahun ini.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Kenyataan di Pasar Legi, Solo, berbeda jauh. Kompas menulis Siti Amirah, 72 tahun, yang lebih dari 20 tahun mengupas bawang, dibayar sekitar Rp2.000 untuk membersihkan satu kilogram bawang putih. Untuk pekerjaan awal, bayarannya Rp10.000 per karung berisi sekitar 20 kilogram.<\/p>\n<p>Penghasilannya sehari berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000. Seorang pedagang bahkan berseloroh, kalau benar upah mengupas bawang Rp700.000 per kilogram, lebih baik menjadi buruh daripada berdagang.<\/p>\n<p>Lalu dari mana angka Rp700.000 itu?<\/p>\n<p>Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari kemudian mengakui dalam wawancara televisi bahwa Presiden salah ucap.<\/p>\n<p>Bukan cuma angkanya yang keliru. Pekerjaan Susanah juga berbeda.<\/p>\n<p>Susanah sebenarnya menjahit kain majun dengan upah Rp700 per kilogram. Ia kemudian bekerja mencuci ompreng di dapur Makan Bergizi Gratis atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.<\/p>\n<p>Jadi, bukan hanya tiga angka nol yang terselip. Jenis pekerjaannya pun berubah.<\/p>\n<p>Di sini menjadi lebih serius. Presiden bisa salah ucap. Siapa pun bisa. Tetapi pidato kepala negara bukan percakapan di warung kopi. Ada data yang disiapkan, diperiksa, lalu dibacakan kepada jutaan orang. Apalagi data itu dipakai untuk menggambarkan kehidupan rakyat kecil.<\/p>\n<p>Soal angka yang diterima Presiden juga pernah memicu perdebatan lain.<\/p>\n<p>Publik mungkin masih ingat pernyataan tentang penggilingan padi yang disebut meraup keuntungan Rp2 triliun per bulan. Prabowo mengatakan angka itu berasal dari laporan yang diterimanya.<\/p>\n<p>Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kemudian menjelaskan bahwa Rp2 triliun bukan gambaran keuntungan normal sebuah penggilingan padi. Angka tersebut berkaitan dengan dugaan keuntungan tidak wajar dari penjualan beras yang mutunya tidak sesuai standar.<\/p>\n<p>Penjelasan itu meredakan satu soal, tetapi memunculkan pertanyaan lain. Seberapa ketat informasi yang diterima Presiden diperiksa sebelum dibawa ke podium?<\/p>\n<p>Presiden tentu tidak menghitung sendiri upah buruh, harga bawang, atau keuntungan penggilingan padi. Ada staf, kementerian, lembaga, dan birokrasi yang memasok informasi.<\/p>\n<p>Jadi persoalannya tidak berhenti pada siapa yang salah mengucapkan. Yang utama adalah kualitas informasi yang sampai ke meja Presiden.<\/p>\n<p>Data keliru mungkin lucu selama beberapa menit di media sosial. Dampaknya tidak selalu lucu ketika dipakai membaca keadaan masyarakat. Kebijakan lahir dari data. Kalau angkanya meleset, gambaran masalah pun bisa ikut melenceng.<\/p>\n<p>Menjelang 17 Agustus, Forum Wartawan Kebangsaan atau FWK mencatat sejumlah keresahan masyarakat. Ada PHK, pengangguran, pendapatan yang menurun, harga kebutuhan pokok, hingga penegakan hukum yang dinilai belum memberi rasa adil.<\/p>\n<p>Pemerintah diminta lebih peka terhadap persoalan yang langsung menyentuh warga. Ukuran kemerdekaan yang rasanya jarang tampil di panggung upacara.<\/p>\n<p>Rafale tentu penting. Negara perlu pertahanan yang kuat. Paskibraka penting. Merah Putih juga harus tetap berkibar. Tetapi Republik tidak selesai ketika pesawat tempur melintas dan lagu \u201cIndonesia Raya\u201d berhenti dimainkan.<\/p>\n<p>Ketua DPR Puan Maharani mengatakan setiap pemerintahan akan meninggalkan warisan. Generasi berikutnya yang akan menilai apakah keputusan hari ini membawa bangsa lebih dekat kepada keadilan, kesejahteraan, persatuan, dan martabat rakyat.<\/p>\n<p>Kalimat itu lebih menarik jika dibawa turun dari ruang sidang ke pasar. Sebab 81 tahun terlalu panjang jika kemerdekaan hanya dibaca dari perayaan.<\/p>\n<p>Di Aceh, menjelang 17 Agustus, penghormatan terhadap simbol negara bahkan memicu perdebatan keras. Muncul kasus penurunan Merah Putih dan dugaan perusakan lambang Garuda. Aparat diminta mengusut pelakunya. Pada saat yang sama, pemerintah diminta mendengar sumber kekecewaan masyarakat.<\/p>\n<p>Merah Putih harus dihormati. Semua sepakat soal itu. Namun, suara rakyat juga mesti didengar.<\/p>\n<p>Persatuan tidak tumbuh hanya karena semua orang berdiri tegak ketika \u201cIndonesia Raya\u201d dimainkan. Ia lebih kokoh ketika rakyat merasa negara tahu apa yang mereka hadapi.<\/p>\n<p>Rafale boleh melesat di langit. Merah Putih harus tetap berkibar. Tetapi angka dan data di meja Presiden juga harus berpijak di tanah.<\/p>\n<p>Sebab bagi orang yang bekerja seharian demi membawa pulang beberapa puluh ribu rupiah, tiga angka nol bukan soal kecil.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/opini\/589950\/81-tahun-merdeka-dari-rafale-di-langit-hingga-upah-kupas-bawang-di-pasar\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua jet Rafale akan membelah langit Jakarta pada peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Di sekitar Istana, pesawat tempur baru TNI AU itu menjadi bagian dari atraksi udara. Merah Putih dikerek. Pidato kebangsaan disampaikan. Negara punya banyak cara menunjukkan Republik ini berdiri tegak. Namun kemerdekaan punya ukuran lain. Lebih sederhana. Kadang justru lebih jujur. Ia ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":99880,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-99879","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99879"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99879\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99880"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}