{"id":97828,"date":"2026-08-07T01:05:28","date_gmt":"2026-08-06T18:05:28","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/08\/07\/luksemburg-tolak-schengen-dijadikan-alat-tekanan-politik-hadapi-krisis-migran\/"},"modified":"2026-08-07T01:05:28","modified_gmt":"2026-08-06T18:05:28","slug":"luksemburg-tolak-schengen-dijadikan-alat-tekanan-politik-hadapi-krisis-migran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/08\/07\/luksemburg-tolak-schengen-dijadikan-alat-tekanan-politik-hadapi-krisis-migran\/","title":{"rendered":"Luksemburg Tolak Schengen Dijadikan Alat Tekanan Politik Hadapi Krisis Migran"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">JAKARTA &#8211; Menteri Dalam Negeri Luksemburg Leon Gloden mengatakan negara-negara Uni Eropa tidak seharusnya menjadikan kawasan Schengen sebagai alat tekanan politik dalam menghadapi krisis migrasi.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">&#8220;Saya menegaskan, saya tidak dapat menerima jika setiap kali terjadi insiden terkait migrasi, Schengen selalu dijadikan sandera,&#8221; kata Gloden kepada Euractiv dalam wawancara yang dipublikasikan pada Kamis, 6 Agustus saat mengomentari perdebatan yang muncul setelah peristiwa di wilayah kantong (enklave) Spanyol, Ceuta.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Gloden mengatakan pemeriksaan berkepanjangan di perbatasan internal dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap integrasi Eropa.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">&#8220;Jika Anda terjebak kemacetan selama tiga atau empat jam akibat pemeriksaan perbatasan, Anda akan kehilangan kepercayaan terhadap Eropa dan Schengen,&#8221; ujarnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Setelah krisis migran di Ceuta, sejumlah negara Uni Eropa mengusulkan pemberian tekanan terhadap Spanyol. Italia memberlakukan pemeriksaan terhadap pendatang dari Spanyol, sementara Jerman memperpanjang kontrol di perbatasan internal negara tersebut, termasuk dengan Luksemburg.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Gloden mengatakan dirinya tidak memandang peningkatan pemeriksaan di perbatasan internal sebagai cara yang efektif untuk menghadapi meningkatnya dukungan terhadap partai-partai sayap kanan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p4\"><span class=\"s2\">&#8220;Hanya membuat kebijakan dengan tujuan menekan ekstremisme sayap kanan bukanlah pendekatan yang tepat. Jika kebijakan tersebut justru mengganggu kehidupan sehari-hari warga, mereka tidak akan mendukung partai Anda,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Menteri tersebut juga menyatakan dukungannya terhadap upaya memperkuat perlindungan di perbatasan eksternal Uni Eropa.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Perdebatan mengenai Schengen dipicu oleh krisis migran di enklave Spanyol, Ceuta. Pada akhir Juli, Ceuta yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan dengan Maroko menghadapi gelombang besar migran.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 72.000 orang memasuki kota tersebut, sementara sekitar 70.000 di antaranya kemudian kembali ke Maroko. Beberapa puluh orang dilaporkan meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Setelah peristiwa itu, sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa, atas prakarsa Denmark dan Italia, mengirimkan surat yang menyatakan kesiapan mereka untuk memberlakukan kembali pemeriksaan di perbatasan internal sebagai respons terhadap langkah-langkah Spanyol dalam menangani situasi tersebut.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Luksemburg termasuk di antara lima negara yang menolak menandatangani dokumen itu.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Para migran di Ceuta tetap berada di enklave Spanyol tersebut dan tidak diberikan akses bebas ke daratan utama Spanyol maupun ke negara-negara lain di kawasan Schengen.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Karena itu, sejumlah negara dan pakar mempertanyakan perlunya pemberlakuan kembali pemeriksaan di perbatasan internal.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\">Sumber: Sputnik\/RIA Novosti<\/span><\/p>\n<p class=\"p8\"><span class=\"s1\">Pewarta : Primayanti<\/span><\/p>\n<p class=\"p9\"><span class=\"s2\">Editor :<\/span><\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/588564\/luksemburg-tolak-schengen-dijadikan-alat-tekanan-politik-hadapi-krisis-migran\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Menteri Dalam Negeri Luksemburg Leon Gloden mengatakan negara-negara Uni Eropa tidak seharusnya menjadikan kawasan Schengen sebagai alat tekanan politik dalam menghadapi krisis migrasi. &#8220;Saya menegaskan, saya tidak dapat menerima jika setiap kali terjadi insiden terkait migrasi, Schengen selalu dijadikan sandera,&#8221; kata Gloden kepada Euractiv dalam wawancara yang dipublikasikan pada Kamis, 6 Agustus saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":97829,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-97828","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97828"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97828\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97829"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}