{"id":95738,"date":"2026-07-28T16:30:57","date_gmt":"2026-07-28T16:30:57","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/28\/pickleball-vs-badminton-sama-sama-gunakan-raket-apa-bedanya\/"},"modified":"2026-07-28T16:30:57","modified_gmt":"2026-07-28T16:30:57","slug":"pickleball-vs-badminton-sama-sama-gunakan-raket-apa-bedanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/28\/pickleball-vs-badminton-sama-sama-gunakan-raket-apa-bedanya\/","title":{"rendered":"Pickleball vs Badminton, Sama-sama Gunakan Raket, Apa Bedanya?"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>YOGYAKARTA \u2013 Sekilas, pickleball dan badminton memang terlihat mirip. Keduanya dimainkan di lapangan yang dipisahkan oleh net, dapat dimainkan secara tunggal maupun ganda, serta mengandalkan ketangkasan pemain dalam mengembalikan bola ke area lawan. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, kedua olahraga ini memiliki banyak perbedaan, mulai dari peralatan, aturan permainan, teknik, hingga tingkat intensitasnya. Artikel ini akan membandingkan pickleball vs badminton secara umum.<\/p>\n<h3>Beda Pickleball vs Badminton<\/h3>\n<p>Memahami pickleball dan badminton akan membantu Anda memilih olahraga yang cocok untuk Anda. Berikut perbedaan pickleball dan badminton.<\/p>\n<ol>\n<li>Peralatan yang digunakan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Perbedaan paling mudah dikenali adalah alat yang digunakan. Pada pickleball, pemain menggunakan paddle dengan permukaan padat tanpa senar. Bolanya terbuat dari plastik keras yang memiliki banyak lubang kecil sehingga laju bola lebih stabil namun tidak terlalu cepat.<\/p>\n<p>Sementara itu, badminton menggunakan raket bersenar yang lebih ringan serta shuttlecock berbahan bulu atau sintetis. Shuttlecock memiliki karakteristik aerodinamis yang memungkinkan kecepatan pukulan sangat tinggi. Karena karakter bolanya berbeda, teknik memukul pada kedua olahraga ini juga tidak sama.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Kecepatan permainan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Badminton dikenal sebagai salah satu olahraga dengan kecepatan pukulan tercepat di dunia. Shuttlecock dapat melesat sangat cepat saat dipukul dengan teknik smash sehingga pemain harus memiliki refleks yang baik untuk mengembalikannya.<\/p>\n<p>Sebaliknya, bola pickleball bergerak lebih lambat karena hambatan udara yang dihasilkan oleh lubang-lubang pada bola. Hal ini membuat pemain memiliki lebih banyak waktu untuk membaca arah bola dan menyusun strategi.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<ol start=\"3\">\n<li>Lapangan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Walaupun ukuran lapangan keduanya hampir serupa, terdapat perbedaan penting pada tata letaknya. Lapangan pickleball memiliki area khusus di dekat net yang disebut non-volley zone atau kitchen. Di area ini pemain tidak diperbolehkan melakukan pukulan voli sehingga strategi permainan menjadi lebih beragam.<\/p>\n<p>Badminton tidak memiliki zona seperti itu. Pemain bebas melakukan pukulan di dekat net selama sesuai dengan aturan permainan.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Cara servis<\/li>\n<\/ol>\n<p>Servis pada pickleball dilakukan dengan pukulan dari bawah pinggang (underhand serve). Setelah servis dilakukan, bola harus memantul terlebih dahulu di kedua sisi lapangan sebelum pemain diperbolehkan melakukan pukulan voli.<\/p>\n<p>Aturan tersebut dikenal sebagai double bounce rule dan menjadi salah satu ciri khas pickleball. Sementara itu, servis pada badminton langsung dimainkan menggunakan shuttlecock tanpa harus memantul terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Itulah informasi terkait pickleball vs badminton. Kunjungi <strong><em><a href=\"https:\/\/voi.id\/\">VOI.id<\/a><\/em><\/strong> untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/olahraga\/586974\/pickleball-vs-badminton\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA \u2013 Sekilas, pickleball dan badminton memang terlihat mirip. Keduanya dimainkan di lapangan yang dipisahkan oleh net, dapat dimainkan secara tunggal maupun ganda, serta mengandalkan ketangkasan pemain dalam mengembalikan bola ke area lawan. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, kedua olahraga ini memiliki banyak perbedaan, mulai dari peralatan, aturan permainan, teknik, hingga tingkat intensitasnya. Artikel ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":95739,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-95738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95738"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95738\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95739"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}