{"id":95233,"date":"2026-07-26T13:51:08","date_gmt":"2026-07-26T13:51:08","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/26\/peneliti-china-kloning-padi-hibrida-buka-jalan-benih-dipakai-lintas-generasi\/"},"modified":"2026-07-26T13:51:08","modified_gmt":"2026-07-26T13:51:08","slug":"peneliti-china-kloning-padi-hibrida-buka-jalan-benih-dipakai-lintas-generasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/26\/peneliti-china-kloning-padi-hibrida-buka-jalan-benih-dipakai-lintas-generasi\/","title":{"rendered":"Peneliti China Kloning Padi Hibrida, Buka Jalan Benih Dipakai Lintas Generasi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Peneliti China mencapai terobosan penting dalam kloning padi hibrida. Temuan ini membuka jalan untuk mengubah cara produksi benih yang selama ini harus dilakukan berulang setiap tahun.<\/p>\n<p>Xinhua dikutip Sabtu, 25 Juli, melaporkan, tim yang dipimpin peneliti Wang Kejian dari China National Rice Research Institute berhasil mengidentifikasi gen alami pada padi. Gen itu diberi nama HUAXU.<\/p>\n<p>Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Vita pada Selasa. Hasilnya menunjukkan gen HUAXU dalam sel telur padi hibrida dapat memicu partenogenesis secara efisien dan menghasilkan keturunan haploid.<\/p>\n<p>Partenogenesis adalah proses terbentuknya keturunan dari sel telur tanpa pembuahan. Sementara haploid berarti keturunan itu hanya membawa satu set kromosom.<\/p>\n<p>Ketika digabungkan dengan strategi gamet kloning, sejumlah galur apomiktik yang dikembangkan tim itu mencapai efisiensi kloning mendekati 100 persen.<\/p>\n<p>Gamet adalah sel reproduksi, seperti sel telur atau serbuk sari. Adapun apomiksis adalah cara tanaman menghasilkan benih tanpa pembuahan, sehingga sifat tanaman induk dapat dipertahankan.<\/p>\n<p>Dalam berbagai kondisi, efisiensi kloning tetap konsisten di atas 99 persen. Hasil itu terlihat pada varietas padi hibrida berbeda, lintas beberapa generasi, populasi tanam yang beragam, hingga uji coba lapangan skala besar.<\/p>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<p>Hasil panennya juga tetap berada pada tingkat normal.<\/p>\n<p>Capaian ini disebut sebagai realisasi awal target \u201cdari 1 ke 100\u201d untuk sistem padi hibrida satu-galur. Sistem ini menjadi langkah penting menuju perbanyakan padi hibrida yang bisa diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.<\/p>\n<p>Efisiensi kloning mengacu pada persentase benih yang dihasilkan lewat apomiksis buatan dan secara genetik identik dengan tanaman induk. Ukuran ini penting untuk melihat apakah sifat unggul padi hibrida bisa dipertahankan.<\/p>\n<p>Wang mengatakan sistem padi hibrida tiga-galur dan dua-galur yang banyak dipakai saat ini belum bisa mempertahankan vigor hibrida pada generasi berikutnya.<\/p>\n<p>Vigor hibrida adalah keunggulan tanaman hasil persilangan, misalnya lebih kuat, lebih produktif, atau punya hasil lebih baik dibandingkan induknya.<\/p>\n<p>Masalahnya, sifat unggul itu dapat terpecah pada keturunan berikutnya karena segregasi genetik. Segregasi genetik adalah pemisahan sifat keturunan, sehingga hasil generasi berikutnya tidak selalu sama dengan tanaman hibrida awal.<\/p>\n<p>Karena itu, sistem yang ada masih membutuhkan produksi benih buatan setiap tahun antara galur mandul jantan dan galur pemulih kesuburan.<\/p>\n<p>Tujuan utama sistem satu-galur adalah membuat tanaman hibrida menghasilkan benih klonal melalui apomiksis. Dengan begitu, heterosis atau keunggulan hasil persilangan dapat dipertahankan.<\/p>\n<p>Secara teori, pendekatan ini memungkinkan satu kali hibridisasi diteruskan lintas generasi. Artinya, satu benih hibrida dapat dipakai untuk pemanfaatan berkelanjutan tanpa perlu produksi benih tahunan seperti sistem lama.<\/p>\n<p>Wang mengatakan terobosan ini menjawab tantangan lama dalam pemuliaan tanaman, yakni mempertahankan heterosis padi hibrida secara permanen melalui benih.<\/p>\n<p>Xinhua menyebut temuan ini berpotensi memberi dukungan teknologi baru bagi ketahanan pangan global.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/586659\/peneliti-china-kloning-padi-hibrida-buka-jalan-benih-dipakai-lintas-generasi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Peneliti China mencapai terobosan penting dalam kloning padi hibrida. Temuan ini membuka jalan untuk mengubah cara produksi benih yang selama ini harus dilakukan berulang setiap tahun. Xinhua dikutip Sabtu, 25 Juli, melaporkan, tim yang dipimpin peneliti Wang Kejian dari China National Rice Research Institute berhasil mengidentifikasi gen alami pada padi. Gen itu diberi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":95234,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-95233","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95233"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95233\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}