{"id":94972,"date":"2026-07-25T03:31:50","date_gmt":"2026-07-25T03:31:50","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/25\/desainer-korea-selatan-hadirkan-karya-penuh-cerita-di-jf3-fashion-festival-2026\/"},"modified":"2026-07-25T03:31:50","modified_gmt":"2026-07-25T03:31:50","slug":"desainer-korea-selatan-hadirkan-karya-penuh-cerita-di-jf3-fashion-festival-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/07\/25\/desainer-korea-selatan-hadirkan-karya-penuh-cerita-di-jf3-fashion-festival-2026\/","title":{"rendered":"Desainer Korea Selatan Hadirkan Karya Penuh Cerita di JF3 Fashion Festival 2026"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Fesyen tidak hanya tentang pakaian yang dikenakan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, emosi, cerita, hingga budaya.<\/p>\n<p>Hal tersebut terlihat dalam JF3 Fashion Festival 2026 yang menghadirkan sejumlah desainer dan seniman asal Korea Selatan dengan karya yang memadukan fesyen, seni rupa, musik, pertunjukan, dan pengalaman langsung.<\/p>\n<p>Tiga nama yang hadir, yakni Studio di Perla, OHGYO, dan CONSTELLER D.L., menawarkan pendekatan berbeda dalam menerjemahkan seni ke dalam dunia fesyen.<\/p>\n<p>Studio di Perla memperkenalkan koleksi terbaru bertajuk &#8220;APORIA&#8221;. Nama tersebut menggambarkan kondisi ketika nilai dan aturan yang selama ini dikenal tidak lagi mampu memberikan jawaban mutlak.<\/p>\n<p>Melalui koleksi ini, Studio di Perla mengeksplorasi berbagai batas sosial, mulai dari gender, kelas, ras, hingga otoritas budaya. Koleksi &#8220;APORIA&#8221; menggambarkan perjalanan individu dalam menghadapi struktur yang telah terbentuk sekaligus membuka ruang untuk melihat kembali identitas dan keberagaman manusia.<\/p>\n<p>Eksplorasi seni dan fesyen juga hadir melalui OHGYO dengan koleksi JULY SEVEN. Merek berbasis seni yang didirikan seniman sekaligus desainer Korea Selatan, Oh Hye-young ini mengangkat hubungan antarmanusia, memori emosional, serta proses membangun kembali hubungan melalui fesyen, lukisan, suara, dan pertunjukan.<\/p>\n<p>JULY SEVEN berawal dari lima lukisan dalam pameran tunggal Oh Hye-young bertajuk Human Connection pada 2020. Berbagai emosi seperti cinta, perpisahan, kerinduan, kehilangan, hingga proses penyembuhan kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk busana.<\/p>\n<p>Bagi Oh Hye-young, pakaian bukan hanya benda yang dikenakan, tetapi juga bentuk patung bergerak yang membawa emosi dan kenangan.<\/p>\n<p>&#8220;JULY SEVEN bukanlah merek yang berawal dari tren atau mode musiman. Titik awal proyek ini adalah penyelidikan mendalam yang telah berlangsung lama mengenai kemanusiaan dan pengalaman hidup,&#8221; ujarnya, saat ditemui di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta pada Jumat, 24 Juli 2026.<\/p>\n<p>&#8220;Sudah sejak lama, saya mengeksplorasi pertanyaan &#8216;Apa yang menghubungkan sesama manusia?&#8217; melalui filsafat dan seni. Cinta dan kehilangan, pertemuan dan perpisahan, serta emosi-emosi yang dialami sepanjang perjalanan tersebut semuanya telah menjadi inspirasi penting bagi koleksi ini,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p>Selain pengalaman manusia, alam juga menjadi sumber inspirasi dalam koleksi tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Inspirasi utama lainnya adalah alam. Hutan, laut, kabut, dan langit malam melambangkan keteraturan dan siklus yang telah ada jauh sebelum kemunculan manusia, dan hal ini tercermin secara mendalam dalam warna, bahan, serta arah spasial koleksi ini,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>JULY SEVEN menghadirkan siluet skulptural dan gender-fluid dengan bentuk tiga dimensi, konstruksi asimetris, draping, serta permainan tekstur. Material dipilih dengan mempertimbangkan bobot, tekstur, transparansi, kekakuan, hingga respons kain terhadap gerakan.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut juga terlihat dalam pertunjukan yang menggabungkan busana, tubuh, gerakan, musik, pencahayaan, video, dan ruang.<\/p>\n<p>&#8220;Peragaan busana ini bukan sekadar panggung untuk memamerkan busana, melainkan sebuah proyek seni yang menggabungkan mode, seni rupa, suara, dan pertunjukan menjadi satu narasi. Setiap busana melambangkan sebuah emosi, dan gerakan para model, musik, visual, serta pencahayaan dipadukan menjadi satu kisah,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Melalui JULY SEVEN, Oh Hye-young ingin mengajak penonton melihat kembali hubungan mereka dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.<\/p>\n<p>&#8220;Pesan inti yang ingin disampaikan oleh JULY SEVEN adalah \u2018Hubungan Antarmanusia\u2019. Melalui bahasa mode, kami berusaha mengekspresikan proses di mana makhluk-makhluk yang berbeda bertemu, menjalin hubungan, mengatasi luka, dan pada akhirnya bergerak menuju terbentuknya satu komunitas,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, CONSTELLER D.L. hadir dengan filosofi &#8220;Fashion is a Canvas&#8221;. Merek seni, fesyen, dan gaya hidup asal Korea tersebut memandang pakaian sebagai kanvas untuk menghadirkan karya seni sekaligus menyampaikan gagasan kreatif.<\/p>\n<p>CONSTELLER D.L. menghadirkan peragaan busana seni dan pameran pop-up melalui M8 SHOWROOM milik MCC GLOBAL. Karya yang ditampilkan memadukan fesyen dengan seni orisinal, media art, live painting, musik, dan pertunjukan.<\/p>\n<p>Desainer Consteller DL menjelaskan karya-karya tersebut lahir dari proses menggabungkan berbagai disiplin seni dan kemudian diterjemahkan menjadi pengalaman fesyen.<\/p>\n<p>&#8220;Saya menjadikan berbagai karya seni sebagai inspirasi untuk menciptakan karya-karya baru. Dari hasil karya tersebut, saya menciptakan karya hidup yang memiliki nyawa, sehingga dapat dinikmati bersama dalam acara ini. Ada juga beberapa karakter yang diciptakan untuk kemudian dituangkan ke dalam karya yang ditampilkan di Fashion Street,&#8221; beber Consteller.<\/p>\n<p>Menurutnya, perpaduan berbagai elemen seni membuat penonton tidak hanya melihat fesyen, tetapi juga memahami fesyen sebagai bagian dari budaya.<\/p>\n<p>&#8220;Melalui kombinasi karya orisinal, fesyen, live painting, dan performance, penonton tidak hanya dapat menikmati fesyen, tetapi juga merasakan dan mempelajari lebih jauh tentang fesyen sebagai bagian dari kultur yang disampaikan oleh para seniman,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Kehadiran seniman dan desainer Korea Selatan di JF3 Fashion Festival 2026 juga menjadi ruang pertukaran budaya antara Korea dan Indonesia. Bagi Baek Jinjoo, pengalaman tampil di Indonesia memberikan inspirasi baru untuk mengembangkan karya dan kolaborasi di masa mendatang.<\/p>\n<p>&#8220;Ini adalah pertama kalinya saya datang ke acara ini. Saya sudah membuat karya-karya yang disiapkan khusus untuk acara ini. Ketika datang ke sini, saya merasakan adanya berbagai perbedaan budaya antara Korea dan Indonesia. Dari perbedaan budaya tersebut, saya mendapatkan semangat dan inspirasi untuk terus maju ke depannya, bukan hanya tahun ini, tetapi juga untuk tahun-tahun berikutnya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Baek Jinjoo juga melihat keberagaman Indonesia sebagai pengalaman yang menarik dan memberikan perspektif baru.<\/p>\n<p>&#8220;Saat berada di Indonesia, saya banyak melihat perbedaan yang sangat beragam, terutama perbedaan warna kulit dan warna pakaian yang dikenakan. Dari keberagaman tersebut, saya merasa semakin dekat dengan Indonesia dan mendapatkan inspirasi untuk terus datang kembali serta mengembangkan kolaborasi di masa depan,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Consteller D.L menilai karya seni dapat dinikmati melalui pengalaman yang lebih luas, tidak hanya secara visual.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&#8220;Karya kami bukan sekadar gambar di atas kanvas. Melalui perpaduan berbagai unsur, penonton dapat menikmati pengalaman budaya. Mereka tidak hanya melihat gambar, tetapi juga mendengarkan musik dan merasakan pertunjukan. Dengan begitu, berbagai unsur budaya tersebut dapat dinikmati bersama.&#8221; tutur Consteller.<\/p>\n<p>Kehadiran Studio di Perla, OHGYO, dan CONSTELLER DL menunjukkan bahwa fesyen kini berkembang menjadi medium yang lebih luas. Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan cerita, mengolah emosi, memperkenalkan budaya, dan menciptakan pengalaman.<\/p>\n<p>Melalui JF3 Fashion Festival 2026, fesyen dan seni bertemu dalam berbagai bentuk, mulai dari eksplorasi identitas, perjalanan emosional manusia, hingga perpaduan seni rupa dan pertunjukan.<\/p>\n<p>Karya-karya tersebut mengajak penonton melihat fesyen bukan sekadar tentang tren dan penampilan, melainkan bagian dari cerita manusia, budaya, dan pengalaman yang terus berkembang.<\/p>\n<p>JF3 Fashion Festival merupakan inisiatif Summarecon yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia, serta turut didukung oleh BRImo.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/lifestyle\/586560\/desainer-korea-selatan-hadirkan-karya-penuh-cerita-di-jf3-fashion-festival-2026\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Fesyen tidak hanya tentang pakaian yang dikenakan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, emosi, cerita, hingga budaya. Hal tersebut terlihat dalam JF3 Fashion Festival 2026 yang menghadirkan sejumlah desainer dan seniman asal Korea Selatan dengan karya yang memadukan fesyen, seni rupa, musik, pertunjukan, dan pengalaman langsung. Tiga nama yang hadir, yakni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":94973,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-94972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 months ago","modified":"2 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94972"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94972\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94973"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}