{"id":87067,"date":"2026-06-19T07:25:06","date_gmt":"2026-06-19T07:25:06","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/19\/dampak-fenomena-el-nino-tidak-main-main\/"},"modified":"2026-06-19T07:25:06","modified_gmt":"2026-06-19T07:25:06","slug":"dampak-fenomena-el-nino-tidak-main-main","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/19\/dampak-fenomena-el-nino-tidak-main-main\/","title":{"rendered":"Dampak Fenomena El Nino Tidak Main-Main"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">JAKARTA &#8211; Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2017-2025 Dwikorita Karnawati mengingatkan soal dampak fenomena alam <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/9377\/el-nino\">El Nino<\/a> yang memicu cuaca ekstrem.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> Fenomena yang diprediksi bakal bercokol hingga awal tahun depan itu menyebabkan musim kemarau yang sangat panjang dan kering, penurunan curah hujan, yang memicu krisis lingkungan dan ekonomi. Perkiraan cuaca memprediksi fenomena ini bisa menjadi yang terberat, hingga dijuluki El Nino Godzilla. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Dwikorita menjelaskan, El Nino kali ini b<\/span><span class=\"s4\">erlevel moderat dan bisa mencapai level kuat dengan probabilitas sekitar 60 persen. Di waktu bersamaan, juga diprediksi terjadi Indian Ocean Dipole (IOD) Positif, fenomena penyimpangan suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang memicu musim kemarau yang sangat kering di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> \u201cMaka level kekeringannya dikhawatirkan menjadi lebih kuat dari El Nino yang biasanya, dan disebutlah dengan istilah Godzilla (monster fiksi asal Jepang),\u201d kata Dwikorita kepada Eddy Wijaya dalam podcast <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/10961\/edshareon\">EdShareOn<\/a> yang tayang pad<\/span><span class=\"s4\">a Rabu, 17 Juni 2026. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Menurut prediksi BMKG, wilayah di Indonesia yang terdampak utamanya di wilayah <\/span><span class=\"s4\">Indonesia bagian selatan dan barat. Misalnya di Sumatera, sebagian Jawa dan Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Sedangkan di wilayah Indonesia timur dan tengah, dampaknya disebut Dwikorita sporadis.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> \u201cDampak langsung El Nino adalah krisis air dan pangan. Belum lagi urusan kesehatan dan polusi. Pangan langka, harganya jadi mahal, lalu memicu inflasi. Kalau semua tekanan itu terakumulasi, suasana batin masyarakat tentu jadi tidak tenang,\u201d terangnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Karena itu, Dwikorita berharap pem<\/span><span class=\"s4\">erintah dan masyarakat sudah siap untuk mengantisipasi dampaknya dengan langkah-langkah mitigasi. Di sektor pertanian, misalnya,<\/span> <span class=\"s4\">pemerintah dan petani harus menyesuaikan pola dan jenis tumbuhan yang ditanam. Yakni dengan menanam varian tumbuhan yang saat kemarau lebih tahan banting terhadap kondisi minim air.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Langkah lain yang bisa dipersiapkan adalah dengan rekayasa cuaca berupa hujan buatan sebelum memasuki musim kemarau dan mengisi waduk-waduk. Dwikorita menjelaskan, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama BMKG melakukan modifikasi cuaca agar awan-awan hujan buatan bisa diturunk<\/span><span class=\"s4\">an di waduk-waduk, terutama di NTT dan NTB yang sangat kering. Untuk persiapan, Kementerian Pertanian juga memberikan pompa air pada petani. Pompa itu menyedot air bawah tanah untuk dinaikkan ke permukaan dan disalurkan ke irigasi.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Sektor lain yang harus dimitigasi adalah kesehatan. Menurut Dwikorita, kondisi kekeringan dan kemungkinan krisis pangan enam bulan ke depan bisa memicu penyakit diare, infeksi saluran pernapasan (ISPA), dan kurang gizi pada anak. Harga pangan yang diprediksi melonjak, disebut Dw<\/span><span class=\"s4\">ikorita bisa merembet ke pasokan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> \u201cLogikanya, kalau petaninya gagal panen atau harga bahan pangan naik, apakah program MBG tidak terganggu? Ujung-ujungnya asupan gizi untuk kaum rentan, yaitu anak-anak dan lansia, akan terancam,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Belum lagi dampak psikologis yang disebut Dwikorita rentan dihadapi masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi dan kesehatan akibat cuaca panas. Yang juga mesti diperhatikan adalah daerah yang baru terkena bencana tanah longsor seperti Sumat<\/span><span class=\"s4\">era Utara, Barat, dan Aceh. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Pemda di wilayah yang baru pulih dari bencana itu mesti ekstrawaspada menghadapi El Nino. \u201cDalam kondisi normal saja masyarakat sudah kesusahan, apalagi di masa pemulihan bencana seperti di Sumatera; bagaimana sanitasi dan ketersediaan air bersihnya? Apakah sudah siap kembali?\u201d kata Rektor Universitas Gadjah Mada periode 2014-2017 ini.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s3\"><span class=\"s2\">Dwikorita Karnawati: Fakta Baru Patahan Palu-Koro, Potensi Tsunami Mengintai<\/span><\/h3>\n<figure class=\"image\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" title=\"Dwikorita Karnawati\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/580786\/body_image_2026061914.png\" alt=\"Dwikorita Karnawati\"\/><figcaption>Dwikorita Karnawati di EdShareOn. (dok.EdShareOn)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Senin, 8 Juni 2026 wilayah pantai selatan Mindanao, Filipina, diguncang gempa tektonik dengan magnitudo 7,7 skala Richter pada kedalaman 47 kilometer.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> Episenter gempa terletak di laut pada jarak 244 km arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, yang menyebabkan kerusakan bangunan rumah hingga fasilitas umum di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud. Guncangan itu dicatat Stasiun Geofisika Manado menyebabkan 278 gempa susulan.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2017-2025 Dwikorita Karnawati mengatakan, kecil kemungkinan gempa Filipina itu bisa memicu atau mengaktivasi Sesar Palu-Koro.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> \u201cWalau kemungkinan itu selalu ada, tapi secara probabilitas cukup kecil karena jaraknya 244-350 km dari area patahan di Filipina. Namun ini tetap harus dimonitor ketat oleh BMKG,\u201d ujarnya saat berbincang dengan <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/10960\/eddy-wijaya\">Eddy Wijaya<\/a> dalam podcast EdShareOn yang tayang Rabu, 17 Juni 2026.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Patahan Palu-Koro ditemukan oleh peneliti Yang<\/span><span class=\"s4\"> Ting Wei dari Institute of Geology and Geophysics di Chinese Academy of Science. Dijelaskan Dwikorita, sesar yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu ini adalah patahan yang memicu gempa bumi hebat di Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Dari teknologi OBS atau Ocean Bottom Seismometer yang dipakai Yang Ting Wei, ditemukan bahwa sesar Palu-Koro yang membelah kota Palu itu benar-benar menyambung, memanjang masuk ke dasar Laut Sulawesi.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Bahayanya, kata Dwikorita, karena pergerakan patahan itu ada di dasar laut, <\/span><span class=\"s4\">hal itu berpotensi membangkitkan tsunami bawah laut yang signifikan. \u201cPatahan ini masih sangat aktif. Yang dikhawatirkan adalah jika terjadi pergerakan tiba-tiba yang membangkitkan energi raksasa,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"s3\"><span class=\"s2\">Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya<\/span><\/h3>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Sosok <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/10960\/eddy-wijaya\">Eddy Wijaya<\/a> adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Ia<\/span><span class=\"s4\"> juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur.<\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\"> Eddy juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, masa bakti 2022-2026. <\/span><\/p>\n<p class=\"s3\"><span class=\"s4\">Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagal<\/span><span class=\"s4\">an dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline \u201cSukses itu hanya masalah waktu\u201d. (<strong>ADV<\/strong>)<\/span><\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/580786\/dwikorita-karnawati-dampak-fenomena-el-nino-tidak-main-main\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2017-2025 Dwikorita Karnawati mengingatkan soal dampak fenomena alam El Nino yang memicu cuaca ekstrem. Fenomena yang diprediksi bakal bercokol hingga awal tahun depan itu menyebabkan musim kemarau yang sangat panjang dan kering, penurunan curah hujan, yang memicu krisis lingkungan dan ekonomi. Perkiraan cuaca memprediksi fenomena ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":87068,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-87067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"3 months ago","modified":"3 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87067"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87067\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87068"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}