{"id":86858,"date":"2026-06-18T09:40:42","date_gmt":"2026-06-18T09:40:42","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/18\/bos-maktour-bantah-ada-transaksi-untuk-dapat-kuota-haji-tambahan\/"},"modified":"2026-06-18T09:40:42","modified_gmt":"2026-06-18T09:40:42","slug":"bos-maktour-bantah-ada-transaksi-untuk-dapat-kuota-haji-tambahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/18\/bos-maktour-bantah-ada-transaksi-untuk-dapat-kuota-haji-tambahan\/","title":{"rendered":"Bos Maktour Bantah Ada Transaksi untuk Dapat Kuota Haji Tambahan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/HxHh8SynuHKCMIlOu3GPU6djvN53m1SoucFuqN3MrQc\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81ODA2MjYvMjAyNjA2MTgxNjM4LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzgxNzc1NTIzLmpwZWc.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">JAKARTA &#8211; Fuad Hasan Masyhur, bos Maktour Travel, membantah melakukan transaksi untuk mendapatkan kuota haji tambahan. Pernyataan ini disampaikan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi dugaan korupsi kuota dan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024 yang sedang diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">\u201cSaya pastikan tidak ada. Tidak ada transaksi, tidak ada,\u201d kata Fuad kepada wartawan di gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis, 18 Juni.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Fuad lebih lanjut menjelaskan pemeriksaan yang baru dijalankan sudah berjalan lancar. Dia juga mengaku hadir sebagai bentuk tanggung jawab untuk memberikan keterangan dalam proses hukum yang berjalan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">\u201cTerima kasih sudah repot-repot datang. Saya memenuhi tanggung jawab saya untuk memberikan kesaksian,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Saat ditanya mengenai materi pemeriksaan, Fuad tidak menjelaskan secara rinci. Ia hanya menyebut pertanyaan penyidik berkaitan dengan hal-hal yang menurutnya biasa.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">\u201cMasalah biasa saja,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Fuad juga enggan menjawab lebih jauh ketika disinggung mengenai dugaan keuntungan tidak sah atau illegal gain yang disebut diperoleh Maktour dari pengelolaan kuota haji tambahan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">\u201cYa nanti saja,\u201d ucapnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">KPK sebelumnya menetapkan dua tersangka baru dalam kasus korupsi kuota haji, yakni Ismail Adhan selaku Direktur Operasional Maktour Travel dan Asrul Azis Taba yang merupakan mantan Ketua Umum Kesatuan Tour Travel Haji Umrah RI (Kesthuri). Keduanya diduga bersiasat untuk mendapatkan kuota haji tambahan dari pemerintah Arab Saudi bahkan memberikan uang.<\/span><\/p>\n<p>Ismail disebut memberikan uang kepada Ishfah Abidal Azis yang merupakan eks staf khusus Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas senilai 30 ribu dolar Amerika Serikat. Kemudian, dia memberikan uang terhadap terhadap Abdul Latief selaku Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kemenag dengan rincian 5.000 dolar Amerika Serikat dan 16.000 riyal Arab Saudi.<\/p>\n<p>Perbuatan ini kemudian membuat Maktour memperoleh keuntungan tidak sah pada 2024 senilai Rp27,8 miliar.<\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sementara Asrul disebut memberikan uang senilai 406 ribu dolar Amerika Serikat. Dari pemberian itu, delapan penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK) dalam naungan Kesthuri mendapat keuntungan tidak sah hingga Rp40,8 miliar.<\/span><\/p>\n<p>Penetapan keduanya merupakan pengembangan kasus korupsi kuota haji yang sudah lebih dulu menjerat Yaqut dan Ishfah. Dugaan korupsi ini bermula dari pemberian 20.000 kuota haji tambahan dari pemerintah Arab Saudi kepada Indonesia pada tahun 2023-2024.<\/p>\n<p>Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh serta hasil kesepakatan Rapat Panja Komisi VIII DPR RI, kuota haji khusus seharusnya ditetapkan sebesar 8 persen dari total kuota, sementara 92 persen sisanya diperuntukkan bagi haji reguler.<\/p>\n<p>Hanya saja, Yaqut selaku Menteri Agama saat itu diduga secara sepihak mengubah komposisinya. Menggunakan manuver penerbitan Keputusan Menteri Agama (KMA) yang tidak disebarluaskan secara transparan, dia membagi tambahan kuota haji tersebut menjadi skema 50 persen untuk haji reguler dan 50 persen untuk haji khusus.<\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sementara Ishfah Abidal Aziz mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan melonggarkan aturan bagi jemaah haji khusus. Ia diduga mengatur pengisian sisa kuota haji khusus ini diserahkan kepada usulan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) atau agen travel yang harusnya sesuai nomor urut nasional seperti diatur undang-undang.<\/span><\/p>\n<p>Sebagai imbalan fasilitas percepatan tersebut, Gus Alex menginstruksikan jajaran di bawahnya untuk mengumpulkan pungutan liar atau fee dari pihak travel yang pada akhirnya dibebankan kepada para calon jemaah haji khusus. Pada tahun 2023, besaran fee yang dipatok mencapai USD5.000 atau sekitar Rp84,4 juta per jemaah.<\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sedangkan pada penyelenggaraan haji tahun 2024, tarif pungutan disepakati sekurang-kurangnya USD2.000 hingga USD2.500 per jemaah.<\/span><\/p>\n<p>Uang miliaran rupiah dari hasil pengumpulan fee tersebut diduga kuat mengalir ke kantong pribadi Gus Yaqut, Gus Alex, dan sejumlah pejabat lain di lingkungan Kementerian Agama.<\/p>\n<p>Kemudian ada dugaan sebagian aliran dana tersebut sengaja disiapkan dan digunakan mengondisikan Panitia Khusus (Pansus) Haji yang dibentuk oleh DPR RI pada pertengahan 2024. Tapi, penolakan diberikan sehingga tidak terjadi penyerahan oleh perantara.<\/p>\n<p>Akibat perbuatan keduanya, negara disebut merugi hingga Rp622 miliar. Mereka kemudian disangka melanggar asal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/580626\/bos-maktour-bantah-ada-transaksi-untuk-dapat-kuota-haji-tambahan\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Fuad Hasan Masyhur, bos Maktour Travel, membantah melakukan transaksi untuk mendapatkan kuota haji tambahan. Pernyataan ini disampaikan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi dugaan korupsi kuota dan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024 yang sedang diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). \u201cSaya pastikan tidak ada. Tidak ada transaksi, tidak ada,\u201d kata Fuad kepada wartawan di gedung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":86859,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-86858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"3 months ago","modified":"3 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}