{"id":84385,"date":"2026-06-07T01:08:27","date_gmt":"2026-06-07T01:08:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/07\/dua-mahkota-di-hohhot-ungkap-jejak-emas-dan-giok-china\/"},"modified":"2026-06-07T01:08:27","modified_gmt":"2026-06-07T01:08:27","slug":"dua-mahkota-di-hohhot-ungkap-jejak-emas-dan-giok-china","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/07\/dua-mahkota-di-hohhot-ungkap-jejak-emas-dan-giok-china\/","title":{"rendered":"Dua Mahkota di Hohhot Ungkap Jejak Emas dan Giok China"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Di sebuah galeri di Museum Mongolia Dalam, Hohhot, dua mahkota emas saling berhadapan. Yang satu milik permaisuri Dinasti Sui. Yang lain milik pemimpin suku Xiongnu dari masa Negara-Negara Berperang.<\/p>\n<p>Keduanya berasal dari zaman dan dunia berbeda. Tetapi dalam pameran Golden and Jade Brilliance: Diverse and Splendid China, dua mahkota itu dipertemukan oleh dua bahan yang lama membentuk imajinasi peradaban China: emas dan giok.<\/p>\n<p>Disadur dari laporan China Daily, Jumat, 5 Juli, pameran ini berlangsung hingga 31 Agustus dan menghadirkan 386 artefak dari 58 museum dan lembaga budaya di China.<\/p>\n<p>\u201cCara kedua mahkota itu saling berhadapan sangat sesuai dengan tema Hari Museum tahun ini, yaitu \u2018Museum Mempersatukan Dunia yang Terbelah\u2019,\u201d kata Zheng Chengyan, kurator pameran sekaligus Wakil Direktur Museum Mongolia Dalam.<\/p>\n<figure class=\"image\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" title=\"Replika Mahkota Permaisuri Xiao dari Dinasti Sui (581\u2013618) dipamerkan berhadapan dengan mahkota lain dalam pameran di Museum Mongolia Dalam. (Bai Shuhao\/China Daily)\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/578824\/body_image_2026060622.jpeg\" alt=\"Replika Mahkota Permaisuri Xiao dari Dinasti Sui (581\u2013618) dipamerkan berhadapan dengan mahkota lain dalam pameran di Museum Mongolia Dalam. (Bai Shuhao\/China Daily)\"\/><figcaption>Ornamen mahkota emas berbentuk tanduk dari Dinasti Wei Utara (386\u2013534) dipamerkan dalam koleksi artefak China. (Bai Shuhao\/China Daily)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mahkota permaisuri Sui dihiasi 13 rangkaian bunga dari 10 jenis material. Bentuknya rumit dan mewah, mencerminkan kematangan seni masyarakat agraris China selatan.<\/p>\n<p>Di seberangnya, mahkota pemimpin Xiongnu tampil lebih garang. Di puncaknya ada elang emas berparuh pirus. Ia membawa jejak kuasa padang rumput utara.<\/p>\n<p>Laporan China Daily menyebutkan, pameran ini menelusuri hampir 9.000 tahun sejarah melalui ukiran giok, benda perunggu, dan artefak emas. Ceritanya bukan hanya soal benda indah, tetapi juga bagaimana kekuasaan, kepercayaan, dan moralitas dibentuk lewat material.<\/p>\n<p>\u201cEmas melambangkan kekuasaan dan keabadian, sedangkan giok melambangkan kebajikan dan keyakinan,\u201d kata Zheng.<\/p>\n<p>Pengunjung pertama-tama diajak melihat tiga artefak giok dari budaya Hongshan di China timur laut, yang berasal dari sekitar 6.500 hingga 5.000 tahun lalu. Artefak itu berupa naga-babi giok, naga kuning berbentuk huruf C, dan patung manusia dari giok.<\/p>\n<p>Naga-babi diyakini dipakai dalam ritual untuk memohon harmoni dan panen baik. Naga berbentuk C disebut sebagai salah satu bentuk naga paling awal dalam seni China. Patung manusia setinggi sekitar 18 sentimeter dipercaya menggambarkan dukun yang sedang berdoa.<\/p>\n<p>Artefak dari budaya Liangzhu di Zhejiang dan Lingjiatan di Anhui juga ditampilkan. Menurut Zheng, berbagai budaya giok awal itu punya kesamaan: penghormatan kepada langit, leluhur, dan alam.<\/p>\n<p>Saat China memasuki Zaman Perunggu, giok tidak kehilangan tempat. Sejak Dinasti Xia, giok dan perunggu digunakan dalam sistem ritual untuk menandai status, perilaku, dan kekuasaan politik.<\/p>\n<p>Salah satu benda penting dalam pameran adalah kepala manusia perunggu bertopeng emas dari Sanxingdui, berasal dari masa Dinasti Shang. Ada pula bejana ritual perunggu besar Zeng Zhong You Fu Hu dari Periode Musim Semi dan Gugur.<\/p>\n<p>Memasuki masa Negara-Negara Berperang dan Dinasti Han, emas dan giok makin menyatu. Keduanya menjadi bahasa seni yang menggambarkan kemegahan kekaisaran.<\/p>\n<p>Di bagian tengah pameran, pengunjung melihat replika pakaian pemakaman giok Dinasti Han yang dijahit dengan kawat emas. Pakaian itu dibuat dari ratusan keping giok untuk menjaga jasad setelah kematian.<\/p>\n<p>\u201cItu adalah tonggak budaya yang mencerminkan gagasan tentang keabadian dalam budaya emas dan giok,\u201d kata Zheng dikutip China Daily.<\/p>\n<p>Pameran juga menampilkan batangan emas berbentuk tapak kuda dari makam Marquis Haihun di Jiangxi, serta benda giok untuk ritual pemakaman.<\/p>\n<p>Satu artefak sengaja keluar dari urutan waktu: jangkrik giok dari makam putri Khitan Dinasti Liao. Menurut Zheng, ini menunjukkan tradisi pemakaman giok yang lahir di pusat peradaban Han kemudian menyebar ke wilayah perbatasan.<\/p>\n<p>Setelah Dinasti Han, Jalur Sutra membuat China makin terbuka. Pedagang Asia Tengah, penunggang kuda utara, dan masyarakat agraris China saling bertemu. Mongolia Dalam menjadi salah satu ruang penting perjumpaan itu.<\/p>\n<p>Bagian lain pameran menampilkan ornamen emas untuk perlengkapan berkuda, seperti pelana, sanggurdi, dan tali kekang. Pada masa Yuan, budaya nomaden juga terlihat dalam ukiran giok bertema perburuan.<\/p>\n<p>Salah satunya ornamen sabuk giok yang menggambarkan elang menerkam angsa. Motif seperti ini kemudian menyebar sampai muncul pada hiasan topi pejabat Dinasti Ming.<\/p>\n<p>Pada masa Ming dan Qing, makna giok makin luas. Batu permata berwarna mulai banyak digunakan. Zheng mengatakan batu-batu itu masuk ke China melalui Jalur Sutra Maritim, yang terkait dengan pelayaran Zheng He.<\/p>\n<p>Pameran ditutup dengan benda modern, termasuk medali Olimpiade Beijing 2008 yang memadukan emas dan giok sebagai penghormatan terhadap tradisi kuno China.<\/p>\n<p>Zhou Huiwen, Direktur Museum Changsha, mengatakan emas dan giok hingga kini masih kuat dalam imajinasi masyarakat China.<\/p>\n<p>\u201cKeduanya selalu melambangkan status dan harapan akan kehidupan yang lebih baik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Wakil Direktur Museum Xi\u2019an Wang Ziyi menyebut naga-babi giok sebagai benda paling mengejutkan.<\/p>\n<p>\u201cSungguh luar biasa bahwa ribuan tahun lalu orang sudah mampu menggabungkan citra naga dan babi dalam satu bentuk,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dalam tradisi China ada ungkapan qi yi zai dao, yang berarti benda mengandung nilai. Lewat pameran ini, emas dan giok tidak hanya tampil sebagai barang berharga, tetapi juga menjadi jejak panjang tentang kuasa, kepercayaan, keindahan, dan cara sebuah peradaban membaca dirinya sendiri.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/578824\/dua-mahkota-di-hohhot-ungkap-jejak-emas-dan-giok-china\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Di sebuah galeri di Museum Mongolia Dalam, Hohhot, dua mahkota emas saling berhadapan. Yang satu milik permaisuri Dinasti Sui. Yang lain milik pemimpin suku Xiongnu dari masa Negara-Negara Berperang. Keduanya berasal dari zaman dan dunia berbeda. Tetapi dalam pameran Golden and Jade Brilliance: Diverse and Splendid China, dua mahkota itu dipertemukan oleh dua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":84386,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-84385","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 months ago","modified":"4 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84385","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84385"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84385\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84386"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84385"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84385"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84385"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}