{"id":83741,"date":"2026-06-04T08:06:23","date_gmt":"2026-06-04T08:06:23","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/04\/ketika-bank-menjadi-teknologi-kota-transformasi-bank-jakarta-sebagai-city-bank\/"},"modified":"2026-06-04T08:06:23","modified_gmt":"2026-06-04T08:06:23","slug":"ketika-bank-menjadi-teknologi-kota-transformasi-bank-jakarta-sebagai-city-bank","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/06\/04\/ketika-bank-menjadi-teknologi-kota-transformasi-bank-jakarta-sebagai-city-bank\/","title":{"rendered":"Ketika Bank Menjadi Teknologi Kota, Transformasi Bank Jakarta sebagai City Bank"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong>JAKARTA &#8211; <\/strong>Pada saat warga membayar tiket MRT dengan satu kartu, mengisi saldo transportasi dari telepon genggam, membayar pajak daerah, melunasi iuran lingkungan RT, hingga membeli tiket wisata dalam satu ekosistem layanan yang saling terhubung, mereka sesungguhnya tidak hanya sedang menggunakan layanan perbankan. Mereka sedang berinteraksi dengan infrastruktur digital sebuah kota.<\/p>\n<p>Model seperti itu telah menjadi bagian dari kehidupan di sejumlah kota global dunia. Kini, konsep serupa mulai dibangun di Jakarta melalui transformasi Bank Jakarta, bank milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. BUMD ini tengah menempatkan diri bukan sekadar sebagai lembaga keuangan daerah, melainkan sebagai <em>city bank<\/em> atau bank ekosistem kota.<\/p>\n<p>Di tengah upaya Jakarta bertransformasi menjadi kota global pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, kebutuhan akan infrastruktur keuangan yang terintegrasi semakin penting. Kota modern tidak hanya membutuhkan jalan, transportasi, dan jaringan internet. Kota modern juga membutuhkan sistem pembayaran, layanan publik, dan transaksi digital yang saling terkoneksi.<\/p>\n<p>Di sinilah posisi Bank Jakarta menjadi menarik.<\/p>\n<p><strong>Bank Ibu Kota<\/strong><\/p>\n<p>Berbeda dengan bank-bank nasional yang berkompetisi memperluas jaringan nasabah di seluruh Indonesia, Bank Jakarta memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak pesaingnya. Bank ini berada tepat di jantung ekosistem ibu kota dan terhubung langsung dengan berbagai aktivitas ekonomi, transportasi, pelayanan publik, hingga komunitas warga.<\/p>\n<p>Melalui aplikasi JakOne Mobile, Bank Jakarta menggabungkan layanan mobile banking dan dompet digital dalam satu platform. Fitur yang tersedia tidak hanya mencakup transfer dana, BI-FAST, pembayaran tagihan, deposito, QRIS, dan <em>virtual account,<\/em> tetapi juga terhubung dengan berbagai kebutuhan khas perkotaan yang sulit ditemukan pada bank lain. Salah satu contohnya adalah JakCard.<\/p>\n<figure class=\"image align-center\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/578402\/body_image_2026060412.jpeg\" alt=\"\" width=\"500\"\/><figcaption>JakCard dapat digunakan pada jaringan transportasi publik (foto: dok. antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kartu uang elektronik ini tidak sekadar berfungsi sebagai alat pembayaran, melainkan menjadi pintu masuk ke berbagai layanan kota. JakCard dapat digunakan pada jaringan transportasi publik seperti TransJakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, hingga berbagai destinasi wisata, museum, fasilitas olahraga, area parkir, dan pusat aktivitas publik di Jakarta serta kawasan penyangga. Bagi warga ibu kota, kartu ini pada praktiknya menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari.<\/p>\n<p data-start=\"847\" data-end=\"1252\">Tingginya penggunaan JakCard, dikutip dari Laporan Tahunan Bank Jakarta tahun 2025, menunjukkan bahwa integrasi layanan tersebut semakin diterima masyarakat. Pada 2025, jumlah kartu yang beredar mencapai 13,37 juta kartu, meningkat 11,51 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 11,99 juta kartu. Nilai transaksi menggunakan JakCard juga melonjak menjadi Rp181,96 miliar pada 2025, tumbuh 38,87 persen dibandingkan Rp131,03 miliar pada tahun sebelumnya.<\/p>\n<p data-start=\"1257\" data-end=\"1489\">Angka tersebut menunjukkan bahwa JakCard tidak lagi sekadar produk uang elektronik, melainkan telah berkembang menjadi salah satu instrumen pembayaran yang mendukung aktivitas transportasi, pariwisata, dan layanan publik di Jakarta.<\/p>\n<p>Keunggulan lain terlihat melalui <em>Jakarta Tourist Pass<\/em> yang mengintegrasikan kebutuhan wisatawan dalam satu ekosistem digital. Pengguna dapat memperoleh informasi destinasi wisata, jadwal kegiatan, peta lokasi, pembayaran digital, hingga pengisian saldo JakCard melalui satu aplikasi. Konsep ini menjadikan Bank Jakarta bukan hanya penyedia layanan keuangan, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata perkotaan.<\/p>\n<p>Sementara itu, fitur JakErte membawa digitalisasi hingga ke tingkat lingkungan warga. Ketua RT dan masyarakat dapat mengelola pembayaran iuran, administrasi lingkungan, surat-menyurat, hingga penyebaran informasi kegiatan warga secara digital. Langkah ini menunjukkan bahwa layanan keuangan tidak lagi berhenti pada transaksi individu, tetapi mulai masuk ke ruang sosial yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Bagi dunia usaha, Bank Jakarta juga menyediakan layanan<em> Cash Management System<\/em> (CMS) yang memungkinkan perusahaan melakukan pengelolaan keuangan secara <em>real time<\/em>, termasuk <em>payroll<\/em>, transfer massal, autodebet, pengelolaan likuiditas, hingga berbagai pembayaran korporasi. Fitur-fitur tersebut menunjukkan bahwa konsep <em>city bank<\/em> tidak hanya menyasar warga, tetapi juga menopang aktivitas bisnis yang menjadi penggerak ekonomi kota.<\/p>\n<p>Keunggulan-keunggulan tersebut membuat Bank Jakarta memiliki posisi yang unik. Jika bank nasional berlomba menjadi bank bagi seluruh Indonesia, Bank Jakarta justru berpeluang menjadi bank yang memahami kebutuhan Jakarta secara lebih mendalam dibanding siapa pun.<\/p>\n<p>Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah nasabah Bank Jakarta menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil, dari sekitar 4,1 juta menjadi lebih dari 4,8 juta nasabah, menurut Laporan Tahun Bank Jakarta tahun 2025. Pertumbuhan tersebut mencerminkan masih kuatnya peran Bank Jakarta dalam aktivitas ekonomi ibu kota sekaligus menyediakan basis pengguna yang cukup besar untuk memperluas layanan digital berbasis ekosistem kota.<\/p>\n<p>Kekuatan tersebut lahir dari sejarah panjang yang dimiliki perusahaan. Bank Jakarta berdiri pada 11 April 1961 sebagai bank pembangunan daerah pertama di Indonesia, tumbuh bersamaan dengan perkembangan Jakarta sebagai ibu kota negara.<\/p>\n<p>Dalam perjalanannya, bank ini beberapa kali mengalami perubahan nama dan status kelembagaan, mulai dari PT Bank Pembangunan Daerah Djakarta Raya, kemudian menjadi PD Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta, PT Bank Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, hingga PT Bank DKI.<\/p>\n<p>Tonggak baru terjadi pada 22 Juni 2025, bertepatan dengan hari ulang tahun Jakarta ke-498. Pada momen tersebut, perusahaan secara resmi memperkenalkan <em>call name<\/em> baru, Bank Jakarta. <em>Rebranding<\/em> ini bukan sekadar perubahan identitas visual, melainkan bagian dari strategi transformasi jangka panjang untuk mendukung implementasi Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta, memperkuat daya saing perusahaan, sekaligus mempersiapkan langkah menuju <em>Initial Public Offering<\/em> (IPO).<\/p>\n<p>Transformasi itu juga menandai perubahan arah perusahaan. Jika selama puluhan tahun dikenal sebagai bank pembangunan daerah, kini Bank Jakarta ingin memainkan peran yang lebih luas sebagai penghubung berbagai ekosistem perkotaan.<\/p>\n<p>Komitmen tersebut, menurut Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, dijalankan melalui penguatan tata kelola dan prinsip kehati-hatian yang menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.<\/p>\n<p>&#8220;Ini sebagai bagian dari transformasi perusahaan untuk membangun Bank yang semakin sehat, prudent, dan terpercaya,&#8221; ujar Agus, dalam sebuah kesempatan.<\/p>\n<figure class=\"image align-center\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/578402\/ketika-bank-menjadi-teknologi-kota-transformasi-bank-jakarta-sebagai-city-bank.png\" alt=\"\" width=\"500\"\/><figcaption>Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo (foto: dok. bank jakarta)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Mitra Jakarta<\/strong><\/p>\n<p>Bank Jakarta sendiri telah menetapkan visi menjadi mitra utama yang mewujudkan Jakarta Kota Global melalui kapabilitas digital, orkestrasi ekosistem, dan keunggulan sumber daya manusia. Untuk mewujudkan visi tersebut, perseroan menjalankan program Transformasi 5.0 yang mencakup penguatan bisnis dan dukungan terhadap Pemprov DKI Jakarta, digitalisasi layanan dan operasional, pengembangan sumber daya manusia, pembaruan struktur organisasi dan budaya kerja, serta penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.<\/p>\n<p>Meski demikian, peluang besar tersebut juga datang bersama sejumlah tantangan.<\/p>\n<p>Sebagai <em>city bank<\/em>, keberhasilan Bank Jakarta tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset atau laba perusahaan. Yang lebih penting adalah sejauh mana ekosistem yang dibangun benar-benar digunakan masyarakat. Saat ini, masih banyak warga yang mengenal JakCard hanya sebagai kartu transportasi atau JakOne Mobile sebagai aplikasi perbankan biasa, tanpa memahami bahwa berbagai layanan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari satu ekosistem kota yang terintegrasi.<\/p>\n<p>Tantangan lain datang dari perkembangan industri perbankan digital yang berlangsung sangat cepat. Bank Jakarta masih perlu memperkuat pengalaman pengguna, meningkatkan integrasi dengan platform digital lain, memperluas kerja sama dengan ekosistem fintech, serta mengembangkan layanan berbasis kecerdasan buatan dan <em>open banking<\/em> agar mampu bersaing dengan standar bank modern global.<\/p>\n<p>Namun justru di tengah tantangan tersebut tersimpan peluang terbesar.<\/p>\n<p>Ketika banyak bank berlomba menjadi yang terbesar secara nasional, Bank Jakarta memiliki ruang untuk menjadi yang paling relevan bagi kotanya sendiri. Tidak banyak bank yang memiliki akses langsung ke transportasi publik, layanan wisata, komunitas warga, transaksi pemerintah daerah, dan aktivitas ekonomi perkotaan dalam satu ekosistem.<\/p>\n<p>Optimisme tersebut juga disampaikan manajemen perusahaan yang melihat peran Bank Jakarta ke depan tidak hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, melainkan sebagai penggerak ekosistem perkotaan.<\/p>\n<p>&#8220;Melalui berbagai langkah inisiatif, Bank Jakarta optimistis dapat terus berakselerasi, dan mengambil peranan lebih besar dari sekadar bank yakni enabler pertumbuhan Jakarta sebagai kota global,&#8221; ujar Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi.<\/p>\n<p>Komitmen itu turut tercermin dari upaya perusahaan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.<\/p>\n<p>&#8220;Menjadi sebuah kebanggaan bagi kami untuk dapat terus memberikan layanan terbaik, dan berkontribusi terhadap pembangunan Kota Jakarta,&#8221; kata Agus Haryoto Widodo.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, masa depan Bank Jakarta mungkin tidak ditentukan oleh jumlah kantor cabang atau besarnya aset yang dimiliki. Masa depan itu akan ditentukan oleh kemampuannya menyatu dengan kehidupan kota.<\/p>\n<p>Ketika warga menggunakan satu ekosistem untuk bepergian, bertransaksi, membayar layanan publik, mengelola komunitas, berwisata, hingga menjalankan usaha, Bank Jakarta tidak lagi sekadar menjadi bank.<\/p>\n<p>Ia berubah menjadi infrastruktur digital kota itu sendiri.<\/p>\n<p>Apabila transformasi tersebut berhasil dijalankan secara konsisten, Jakarta berpeluang memiliki sesuatu yang belum dimiliki kota lain di Indonesia: sebuah <em>city bank<\/em> yang tumbuh bersama kotanya, melayani warganya, dan menjadi salah satu fondasi menuju Jakarta sebagai kota global.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/teknologi\/578402\/ketika-bank-menjadi-teknologi-kota-transformasi-bank-jakarta-sebagai-city-bank\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Pada saat warga membayar tiket MRT dengan satu kartu, mengisi saldo transportasi dari telepon genggam, membayar pajak daerah, melunasi iuran lingkungan RT, hingga membeli tiket wisata dalam satu ekosistem layanan yang saling terhubung, mereka sesungguhnya tidak hanya sedang menggunakan layanan perbankan. Mereka sedang berinteraksi dengan infrastruktur digital sebuah kota. Model seperti itu telah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":83742,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-83741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"3 months ago","modified":"3 months ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83741"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83741\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83742"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}