{"id":48723,"date":"2024-11-28T17:44:24","date_gmt":"2024-11-28T17:44:24","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/28\/rute-cuan-baru-kartel-kokain-kolombia-pakai-kapal-selam-tempuh-16-093-km-ke-australia\/"},"modified":"2024-11-28T17:44:24","modified_gmt":"2024-11-28T17:44:24","slug":"rute-cuan-baru-kartel-kokain-kolombia-pakai-kapal-selam-tempuh-16-093-km-ke-australia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/28\/rute-cuan-baru-kartel-kokain-kolombia-pakai-kapal-selam-tempuh-16-093-km-ke-australia\/","title":{"rendered":"Rute &#8216;Cuan&#8217; Baru Kartel Kokain Kolombia, Pakai Kapal Selam Tempuh 16.093 Km ke Australia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Angkatan Laut (AL) Kolombia mengungkap rute baru perdagangan narkoba menggunakan kapal selam lewat perairan Pasifik dari Amerika Selatan ke Australia.<\/p>\n<p>Pengungkapan ini menyusul disitanya kapal selam semi-submersible yang diduga kuat untuk penyelundupan narkoba melintasi perairan Pasifik menempuh jarak sekitar 10.000 mil atau 16.093 km tanpa perlu mengisi bahan bakar.<\/p>\n<p>&#8220;Itu adalah rute yang sangat menguntungkan, karena harganya [narkoba] jauh lebih tinggi di Australia,&#8221; kata seorang sumber Kementerian Keamanan Kolombia kepada<em> AFP<\/em>, dikutip dari <em>CBN News<\/em>, Kamis 28 November.<\/p>\n<p>Pejabat AL Kolombia Orlando Enrique Grisales menambahkan, di Australia harga jual kokain sebesar 240.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp3,8 miliar per 1 kilogram (kg).<\/p>\n<p>Menurut Grisales, nominal itu enam kali lebih mahal dari harga jual kokain di AS.<\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<p>AL Kolombia menjelaskan, awalnya penggunaan kapal selam oleh kartel untuk membawa narkoba dari Kolombia hingga lepas pantai negara tersebut. Kemudian barang haram itu dipindahkan ke kapal laut.<\/p>\n<p>Dengan diamankannya kapal selam semi-submersible oleh AL Kolombia ini, itu berarti alat yang digunakan untuk proses penyelundupan atau perdagangan narkoba semakin canggih dan menjangkau jarak jauh.<\/p>\n<p>Penangkapan kapal selam ini merupakan bagian dari operasi yang dilakukan AL Kolombia, bekerja sama dengan badan keamanan AS, Brasil, Spanyol, Belanda, dan beberapa negara lain, serta sejumlah organisasi internasional.<\/p>\n<p>Dalam operasi selama kurun waktu enam minggu terakhir itu, aparat gabungan mengamankan 225 metrik ton kokain dan 128 ton ganja.<\/p>\n<p>Lebih dari 400 orang ditangkap dalam operasi yang menargetkan lautan, pantai, sungai, dan pelabuhan di seluruh dunia pada Oktober-November 2024 tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Ini mungkin penyitaan kokain terbesar dalam sejarah yang dilakukan Kolombia,&#8221; kata Presiden Kolombia Gustavo Petro di akun media sosialnya.<\/p>\n<p>Adapun kapal selam jenis semi-submersible tidak dapat menyelam sepenuhnya di bawah air dan kerap digunakan pengedar narkoba internasional untuk menghindari deteksi penegak hukum.\u00a0<\/p>\n<p>Kapal-kapal selam tersebut acap kali diringkus di perairan Kolombia saat hendak menuju AS, Amerika Tengah, atau Eropa.\u00a0<\/p>\n<p>Pada Juni 2024, AL Kolombia menangkap dua &#8220;kapal selam narkoba&#8221; yang membawa 5 ton kokain di lepas pantai Pasifik negara itu .<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/438090\/rute-cuan-baru-kartel-kokain-kolombia-pakai-kapal-selam-tempuh-16-093-km-ke-australia\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Angkatan Laut (AL) Kolombia mengungkap rute baru perdagangan narkoba menggunakan kapal selam lewat perairan Pasifik dari Amerika Selatan ke Australia. Pengungkapan ini menyusul disitanya kapal selam semi-submersible yang diduga kuat untuk penyelundupan narkoba melintasi perairan Pasifik menempuh jarak sekitar 10.000 mil atau 16.093 km tanpa perlu mengisi bahan bakar. &#8220;Itu adalah rute yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48724,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-48723","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48723","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48723"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48723\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48723"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48723"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48723"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}