{"id":48033,"date":"2024-11-27T11:37:30","date_gmt":"2024-11-27T11:37:30","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/27\/appbi-minta-penerapan-ppn-12-persen-ditunda-ini-tiga-alasannya\/"},"modified":"2024-11-27T11:37:30","modified_gmt":"2024-11-27T11:37:30","slug":"appbi-minta-penerapan-ppn-12-persen-ditunda-ini-tiga-alasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/27\/appbi-minta-penerapan-ppn-12-persen-ditunda-ini-tiga-alasannya\/","title":{"rendered":"APPBI Minta Penerapan PPN 12 Persen Ditunda, Ini Tiga Alasannya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan ada tiga alasan perlu ditundanya penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Januari 2025.<\/p>\n<p>Pertama, penerapan kenaikan PPN akan menaikkan harga barang dan produk. Dengan demikian, akan kembali menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah.<\/p>\n<p>&#8220;Ya, tentunya ini akan makin mempersulit masyarakat kelas menengah bawah,&#8221; ujar Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, saat ditemui <strong>VOI<\/strong> usai konferensi pers KlingKing Fun 2024 di Mal Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 27 November 2024.<\/p>\n<p>Kedua, Alphonzus menilai tidak ada alasan mendesak Pemerintah RI untuk menerapkan PPN sebesar 12 persen pada tahun depan.<\/p>\n<p>&#8220;Sebetulnya &#8216;kan tarif PPN di Indonesia tidak rendah-rendah sekali dibandingkan dengan negara tetangga.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Jadi, saya kira tidak ada alasan mendesak untuk menaikkan tarif PPN,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<div>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Ketiga, menurut Alphonzus, saat ini pertumbuhan ekonomi ataupun transaksi, khususnya di sektor <em>retail<\/em>, belum sepenuhnya pulih.<\/p>\n<p>Karena itu, kata dia, ketika PPN 12 persen benar-benar diterapkan, justru nantinya akan menghambat pertumbuhan transaksi.<\/p>\n<p>&#8220;Alasan ketiga adalah saya kira pertumbuhan ekonomi ataupun transaksi, khususnya di <em>retail<\/em> ini belum maksimal. Jadi, sebaiknya dimaksimalkan dulu barulah tarifnya dinaikkan.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Jangan sebaliknya. Kalau sebaliknya, justru akan menghambat pertumbuhan perdagangan,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Menurut Alphonzus, sebaiknya pemerintah menunda penerapan PPN 12 persen tersebut. Soalnya, dia menilai bahwa memang waktunya tidak tepat.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi, saya kira tiga alasan itulah kenapa kami APPBI juga minta pada Pemerintah untuk ditunda. Memang <em>timing<\/em>-nya kurang pas gitu, ya, kurang cocok.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Memang betul Pemerintah perlu penambahan penerimaan negara, tapi saya kira bukan saatnya sekarang. Sebaiknya ditunda,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, kata Alphonzus, bila penerapan PPN 12 persen itu benar diterapkan, nantinya dikhawatirkan bahwa pertumbuhan di sektor <em>retail<\/em> tidak mampu mencapai <em>double digit<\/em>.<\/p>\n<p>&#8220;Saya kira (sektor <em>retail<\/em>) akan tetap bertumbuh, tetapi tidak akan signifikan. Apalagi sekarang UMP &#8216;kan mau naik. (Pertumbuhannya) pasti di bawah 10 persen,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/ekonomi\/437717\/appbi-minta-penerapan-ppn-12-persen-ditunda-ini-tiga-alasannya\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan ada tiga alasan perlu ditundanya penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Januari 2025. Pertama, penerapan kenaikan PPN akan menaikkan harga barang dan produk. Dengan demikian, akan kembali menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah. &#8220;Ya, tentunya ini akan makin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48034,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-48033","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48033"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48033\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}