{"id":47977,"date":"2024-11-27T09:46:05","date_gmt":"2024-11-27T09:46:05","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/27\/prabowo-harus-bersikap-sebagai-jenderal-di-kasus-palestina\/"},"modified":"2024-11-27T09:46:05","modified_gmt":"2024-11-27T09:46:05","slug":"prabowo-harus-bersikap-sebagai-jenderal-di-kasus-palestina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2024\/11\/27\/prabowo-harus-bersikap-sebagai-jenderal-di-kasus-palestina\/","title":{"rendered":"Prabowo Harus Bersikap Sebagai Jenderal di Kasus Palestina"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf memuji keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevakuasi seribu pasien korban perang di Gaza, Palestina. Bila teralisasi, Faisal menilai Prabowo melakukan terobosan luar biasa untuk mendukung Palestina.<\/p>\n<p>\u201cDia (Prabowo) melontarkan wacana yang menurut saya praktis. Itu terobosan karena akan mengevakuasi seribu pasien dari Gaza. Itu memang wacana yang sangat menarik,\u201d ujar Faisal dalam podcast <strong><a title=\"EdShareOn\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/360837\/titi-anggraini-gugatan-pemilu-2024-bisa-jadi-titik-balik-bagi-mk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">EdShareOn<\/a><\/strong> bersama host <strong><a title=\"Eddy Wijaya\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/368914\/anwar-abbas-kemenangan-komeng-bukti-politik-bisa-tanpa-uang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Eddy Wijaya<\/a><\/strong>, yang tayang pada Rabu, 27 November 2024.<\/p>\n<p>Menurut Faisal, perhatian Prabowo terhadap korban perang di Gaza, Palestina, sangat berarti di tengah kondisi warga yang terus ditindas. Terlebih lagi, lanjut Faisal, bila Prabowo berani berkunjung ke negara berjuluk Negeri Batu Kapur tersebut. Sekedar catatan, hingga saat ini belum ada presiden Indonesia yang menginjakkan kaki ke Palestina. \u201cSaya berharap nanti Prabowo yang datang menjemput langsung seribu pasien itu,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Wacana mengevakuasi seribu pasien korban perang di Gaza sebenarnya sudah dilontarkan Prabowo sejak menjabat Menteri Pertahanan. Bahkan, ia juga hendak mengirim pasukan perdamaian ke Palestina untuk mengawal para korban. Namun, wacana tersebut terus digaungkan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD (Danjen<\/p>\n<p>Kopassus) itu hingga dilantik menjadi presiden. Ia semakin menunjukkan komitmen tersebut dengan kembali menyampaikannya dalam pertemuan bilateral dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ant\u00f3nio Guterres di Hotel Hilton Rio de Janeiro Copacabana, Brasil, 17 November lalu.<\/p>\n<p>Faisal menjelaskan, Prabowo perlu datang ke Palestina sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara bekas jajahan, yang kini berkomitmen kuat terhadap dunia yang anti-penjajah. \u201cIni juga penting untuk menunjukkan sikap sebagai seorang jenderal, terus (mantan Danjen) Kopassus. Dia bisa melihat contoh mertuanya (Presiden Suharto) yang saat bertugas di Kostrad pernah datang ke wilayah perang di Bosnia,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Kendati demikian, kata Faisal, kunjungan Prabowo tentu memiliki efek besar bagi hubungan Indonesia dengan negara-negara yang pendukung Israel seperti Amerika Serikat (AS). \u201cIndonesia akan dianggap beraniPalestina Hanya Negeri Khayalan? Kepada Eddy Wijaya, Faisal Assegaf mengungkapkan pernah menulis tesis soal Palestina sebagai negara khayalan. Pendapat tersebut mengacu pada kondisi Palestina yang sudah berpuluh tahun berada di dalam konflik tanpa solusi nyata. \u201cSaya menulis pada 2008 dalam proposal tesis saya bahwa Palestina negara khayalan, dan sampai sekarang saya masih meyakini tidak akan ada negara Palestina,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Faisal menjelaskan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga tak bisa memberikan solusi untuk mendirikan negara Palestina secara utuh. Malahan mereka menghendaki Palestina dibagi menjadi dua negara dengan Israel. Bahkan luas wilayahnya kian menyusut. Pada resolusi partisi 1947, Faisal melanjutkan, PBB menyepakati Palestina mendapat bagian wilayah 45 persen, sedangkan Israel 52 persen. Sekarang Palestina hanya kebagian luas wilayah 22 persen. \u201cUkurannya sudah sangat jauh dari 45 persen yang disetujui sebelumnya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Selain kian menyempit, Faisal menambahkan, keinginan PBB membagi wilayah Palestina itu merupakan solusi asing yang tidak lahir dari aspirasi masyarakat Palestina. \u201cSebagai analogi begini, ketika kita tengah dijajah, terus ada orang asing kumpul. Secara tiba-tiba, mereka menetapkan pembagian wilayah tempat tinggal kita. Itu kan aneh?\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Faktor lain yang menguatkan pendapat Faisal, yakni kepemimpinan Mahmoud Abbas yang menyalahi prinsip demokratis. Abbas yang menggantikan mendiang Presiden Yasser Arafat pada Januari 2005 seharusnya memimpin selama 4 tahun. Namun, hingga sekarang Palestina belum melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) presiden untuk mengganti Abbas. \u201cDan ketika survei dilakukan, 80 persen rakyat Palestina sudah menginginkan Abbas mundur. Sudah tidak disukai, apalagi dia juga korup,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, Faisal berharap kepada pemimpin dan masyarakat dunia termasuk di Indonesia, turut membantu Palestina mewujudkan mimpinya menjadi negara merdeka. \u201cUntuk merealisasikan mimpi Palestina, perlu kesolidan, keberanian, kejujuran, dan terobosan dari para pemimpin negara sebagai decision maker,\u201d ucap Faisal. \u201c Tapi, saya lihat tidak ada negara yang berani melakukan itu. Mereka semuanya tengah berjuang demi kepentingan nasional masing-masing yang pasti beda level dengan isu Palestina. Makanya, Palestina bagi saya cuma negara khayalan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<div>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p><strong>Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya<\/strong><\/p>\n<p>Sosok <strong><a title=\"Eddy Wijaya\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/368914\/anwar-abbas-kemenangan-komeng-bukti-politik-bisa-tanpa-uang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Eddy Wijaya<\/a><\/strong> adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @<strong><a title=\"EdShareOn\" href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/360837\/titi-anggraini-gugatan-pemilu-2024-bisa-jadi-titik-balik-bagi-mk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">EdShareOn<\/a><\/strong>, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. <\/p>\n<p>Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline \u201cSukses itu hanya masalah waktu\u201d. (ADV)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/437718\/faisal-assegaf-prabowo-harus-bersikap-sebagai-jenderal-di-kasus-palestina\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf memuji keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevakuasi seribu pasien korban perang di Gaza, Palestina. Bila teralisasi, Faisal menilai Prabowo melakukan terobosan luar biasa untuk mendukung Palestina. \u201cDia (Prabowo) melontarkan wacana yang menurut saya praktis. Itu terobosan karena akan mengevakuasi seribu pasien dari Gaza. Itu memang wacana yang sangat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47978,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47978"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}