{"id":112429,"date":"2026-10-14T04:05:25","date_gmt":"2026-10-13T21:05:25","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/14\/indonesia-dorong-unesco-perkuat-perlindungan-budaya-tata-kelola-ai-dan-keterwakilan-negara-berkembang\/"},"modified":"2026-10-14T04:05:25","modified_gmt":"2026-10-13T21:05:25","slug":"indonesia-dorong-unesco-perkuat-perlindungan-budaya-tata-kelola-ai-dan-keterwakilan-negara-berkembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/14\/indonesia-dorong-unesco-perkuat-perlindungan-budaya-tata-kelola-ai-dan-keterwakilan-negara-berkembang\/","title":{"rendered":"Indonesia Dorong UNESCO Perkuat Perlindungan Budaya, Tata Kelola AI dan Keterwakilan Negara Berkembang"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat peran UNESCO dalam pembangunan berkelanjutan, pelestarian budaya, transformasi digital, serta tata kelola organisasi yang inklusif pada Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris.<\/p>\n<p>Sidang yang dihadiri 58 negara anggota dewan eksekutif termasuk Indonesia membahas pandangan negara anggota terhadap beberapa isu strategis global yang dibahas pada Hari pertama sidang, Senin (12\/10).<\/p>\n<p>Dalam pembahasan tersebut, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa menekankan perlunya UNESCO bergerak dari komitmen normatif menuju implementasi melalui bantuan teknis, penguatan kapasitas, pendanaan, dan pertukaran pengetahuan, khususnya bagi negara berkembang.<\/p>\n<p>Indonesia menyoroti dua tantangan utama, yakni perubahan iklim dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence\/AI).<\/p>\n<p>&#8220;Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan 16 elemen warisan budaya takbenda yang telah diinskripsi UNESCO, Indonesia memahami bahwa perlindungan budaya membutuhkan kebijakan yang tangguh terhadap perubahan iklim dan menempatkan masyarakat sebagai pusatnya,&#8221; ujar Satrya dalam keterangannya, seperti dikutip (13\/10).<\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut Indonesia juga mengingatkan AI mengubah cara kebudayaan diciptakan, dilestarikan, dan disebarluaskan, sekaligus menghadirkan tantangan terhadap keragaman budaya, autentisitas, kekayaan intelektual, dan hak kreator.<\/p>\n<p>&#8220;AI harus melayani kebudayaan, bukan mendefinisikan ulang identitas budaya tanpa partisipasi masyarakat pemiliknya,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Sementara dalam pembahasan Strategi Program Museum UNESCO 2027\u20132029, Indonesia mendukung pengembangan museum sebagai institusi pembelajaran, keterlibatan masyarakat, dan keberlanjutan budaya.<\/p>\n<p>Indonesia mendorong pemanfaatan teknologi digital dan AI untuk menciptakan pengalaman museum yang interaktif dan relevan bagi generasi muda, disertai penguatan kapasitas bagi negara berkembang.<\/p>\n<figure class=\"image\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" title=\"Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/598335\/body_image_2026101323.jpeg\" alt=\"Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa\"\/><figcaption>Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa. (Sumber: Kantor Wakil Republik Indonesia untuk UNESCO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Indonesia juga mengangkat konsep living museum, mengingat banyak tradisi dan sistem pengetahuan lokal di negara-negara Global South masih dipraktikkan masyarakat.<\/p>\n<p>Sedangkan pada pembahasan hubungan budaya dan alam, Indonesia mencontohkan sistem Subak di Bali dan praktik Sasi di masyarakat pesisir sebagai bukti keterkaitan pengetahuan tradisional, konservasi lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Pelestarian warisan budaya bukan hanya melindungi monumen atau benda bersejarah, tetapi juga memastikan tradisi hidup, pengetahuan lokal, dan praktik budaya terus diwariskan kepada generasi berikutnya,&#8221; ujar staf pengajar Komunikasi FISIP UNAIR ini.<\/p>\n<p>Selain agenda kebudayaan, Indonesia menyoroti pentingnya pemerataan keterwakilan geografis dan keseimbangan gender dalam struktur UNESCO.<\/p>\n<p>Diplomat Indonesia yang menangani UNESCO, Sasi Hemawardhani, menyampaikan apresiasi atas perbaikan keterwakilan geografis dan peningkatan keseimbangan gender.<\/p>\n<p>Namun, Indonesia menilai keterwakilan kawasan Asia-Pasifik masih perlu diperkuat karena kemajuan yang dicapai belum sepenuhnya kokoh.<\/p>\n<p>&#8220;Indonesia mendorong strategi rekrutmen yang lebih terarah bagi negara-negara yang kurang terwakili (under-represented) maupun belum terwakili (non-represented), dengan tetap mengedepankan prinsip meritokrasi,&#8221; tegas Sasi<\/p>\n<p>Dalam kesempatan ini Indonesia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pembaruan kuota geografis akibat perubahan keanggotaan UNESCO.<\/p>\n<p>Sejalan dengan komitmen terhadap tata kelola organisasi yang inklusif, Indonesia mendukung peningkatan keterwakilan perempuan pada jabatan senior dan menyatakan dukungan terhadap rancangan keputusan terkait.<\/p>\n<p>Sebagai gambaran, berdasarkan laporan UNESCO per Juni 2024, sebanyak 81 persen negara anggota telah terwakili dalam struktur kepegawaian yang dihitung berdasarkan distribusi geografis, masih di bawah target 85 persen.<\/p>\n<p>Pada periode yang sama, keterwakilan Asia-Pasifik pada jabatan Direktur ke atas yang termasuk pos geografis mencapai 17 persen atau 11 dari 63 pejabat.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Sementara dari aspek kesetaraan gender, perempuan menduduki 44 persen jabatan Direktur ke atas, meningkat dari 41 persen pada Juli 2023. Pada jenjang manajemen, keterwakilan perempuan mencapai 43 persen.<\/p>\n<p>Data tersebut menunjukkan kemajuan sekaligus pentingnya menjaga keberlanjutan pemerataan geografis dan keseimbangan gender pada jenjang kepemimpinan UNESCO.<\/p>\n<p>Melalui berbagai intervensi tersebut, Indonesia menegaskan efektivitas UNESCO tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga implementasi yang terukur, pemerataan manfaat bagi negara anggota, dan keterwakilan yang lebih adil dalam organisasi.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/598335\/indonesia-dorong-unesco-perkuat-perlindungan-budaya-tata-kelola-ai-dan-keterwakilan-negara-berkembang\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat peran UNESCO dalam pembangunan berkelanjutan, pelestarian budaya, transformasi digital, serta tata kelola organisasi yang inklusif pada Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris. Sidang yang dihadiri 58 negara anggota dewan eksekutif termasuk Indonesia membahas pandangan negara anggota terhadap beberapa isu strategis global yang dibahas pada Hari pertama sidang, Senin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":112430,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-112429","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112429","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112429"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112429\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/112430"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=112429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=112429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}