{"id":112269,"date":"2026-10-13T12:30:12","date_gmt":"2026-10-13T05:30:12","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/13\/gerindra-nilai-rapor-celios-2-tahun-prabowo-gibran-tuduhan-tanpa-bukti\/"},"modified":"2026-10-13T12:30:12","modified_gmt":"2026-10-13T05:30:12","slug":"gerindra-nilai-rapor-celios-2-tahun-prabowo-gibran-tuduhan-tanpa-bukti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/13\/gerindra-nilai-rapor-celios-2-tahun-prabowo-gibran-tuduhan-tanpa-bukti\/","title":{"rendered":"Gerindra Nilai Rapor Celios 2 Tahun Prabowo-Gibran Tuduhan Tanpa Bukti"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/Jn9Q8izcNPNkwaZxM0wvsAOIMe_A56b15p4Ety8Ohk0\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81OTgyMzYvMjAyNjEwMTMxMjI1LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzkxODY5MTYyLnBuZw.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">JAKARTA &#8211; Partai Gerindra mengkritik rapor dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran yang dirilis Center of Economic and Law Studies (Celios). Gerindra menilai, rapor yang dirilis itu seperti tuduhan tanpa bukti.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Menuding pemerintah membatasi kebebasan sipil justru mengabaikan fakta bahwa demokrasi di era Prabowo-Gibran tetap berjalan terbuka, di mana kritik konstruktif diterima. Penegakan hukum harus ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu terhadap pelanggar hukum, jika memang pemerintahan ini otoriter tidak mungkin rilis Celios ini bisa beredar dalam wacana publik kita,&#8221; ujar juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso kepada wartawan, Selasa, 13 Oktober.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Menurut Sugiat, menjadikan hasil survei dan rapor buatan &#8216;Kabinet Bayangan&#8217; sebagai alat ukur utama adalah bentuk pengalihan perhatian dari kerja keras pemerintah yang setiap hari turun langsung menyelesaikan masalah dasar rakyat.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Presiden Prabowo tidak dipilih oleh rakyat untuk menyenangkan para pengamat melainkan untuk mengeksekusi perubahan nyata yang berdampak langsung untuk kesejahteraan rakyat,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sugiat menilai, mempersoalkan gaya komunikasi dan ketegasan Presiden Prabowo justru menunjukkan ketidakterbiasaan sebagian pihak melihat pemimpin yang berbicara dan bertindak apa adanya demi kepentingan negara. Ia menyebut ketulusan kepemimpinan Presiden Prabowo dapat dilihat dari keberaniannya mengambil risiko politik yang besar demi menegakkan kedaulatan bangsa dan kesejahteraan orang banyak.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Menyebut 75 persen responden merasa stres dengan kebijakan pemerintah adalah klaim berlebihan yang mendramatisasi proses transisi ekonomi demi menciptakan kepanikan di tengah masyarakat. Dinamika penyesuaian kebijakan fiskal dan ekonomi yang ditempuh pemerintah semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan fondasi keuangan jangka panjang negara,&#8221; tegasnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Lebih lanjut, Sugiat menilai menjadikan dinamika perubahan atau pergeseran posisi menteri sebagai alat untuk mendiskreditkan Presiden adalah bentuk pengabaian terhadap hak prerogatif Kepala Negara dalam memastikan mesin pemerintahan berjalan efektif. Ia menegaskan, evaluasi dan penataan ulang pejabat yang dilakukan Presiden Prabowo murni didasarkan pada kebutuhan untuk mempercepat target pembangunan nasional, bukan karena tekanan pihak luar.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Men-cap kebijakan pertahanan dan pelibatan strategis Presiden Prabowo sebagai langkah yang keliru justru menunjukkan ketidakpahaman para pengamat atas pentingnya membangun postur pertahanan yang disegani di kawasan. Di bawah visi besar Presiden Prabowo, sektor pertahanan dan kemandirian alutsista diletakkan sebagai fondasi utama agar bangsa Indonesia tidak mudah ditekan oleh kekuatan asing manapun,&#8221; tegasnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Menurut Sugiat, penilaian subjektif yang dimuat dalam laporan tersebut menggunakan format skoring yang lebih mencerminkan opini kelompok tertentu alih-alih ukuran objektif kinerja birokrasi. Ia menekankan Presiden Prabowo secara konsisten melakukan evaluasi berbasis kebutuhan riil negara, bukan berdasarkan desakan politik pihak luar yang ingin mendiskreditkan kabinet.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Laporan Celios merekomendasikan penggantian indikator ekonomi konvensional dengan happiness index dan planetary boundary. Menuntut perubahan indikator makroekonomi secara drastis dengan mengabaikan pertumbuhan riil justru akan menjebak negara dalam ukuran-ukuran abstrak yang tidak menyentuh kebutuhan dasar perut rakyat sehari-hari,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI ini memastikan pemerintah tetap berpegang pada indikator pembangunan yang terukur secara komprehensif, memadukan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta pemerataan kesejahteraan yang nyata bagi seluruh masyarakat<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Laporan Celios menuntut penerapan pajak kekayaan 1-2 persen bagi orang super kaya dengan asumsi bisa menambah penerimaan hingga Rp142,2 triliun. Menarik pajak tambahan secara ekstrem di tengah transisi ekonomi justru berisiko memicu pelarian modal (capital flight) dan mematikan gairah investasi domestik yang sedang dibangun pemerintah untuk membuka lapangan kerja,&#8221; kata Sugiat.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Pemerintah memilih memperkuat kepatuhan pajak secara proporsional dan mendorong hilirisasi industri untuk memperluas basis penerimaan negara secara sehat, bukan dengan kebijakan gegabah yang menakutkan para investor,&#8221; sambungnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sugiat juga merespons laporan Celios yang menyoroti pemotongan Dana Desa untuk membiayai Koperasi Desa\/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Menurut Sugiat, menilai KDMP sebagai beban justru memperlihatkan ketidakpahaman para pengamat terhadap esensi penguatan ekonomi desa, di mana kemandirian finansial akar rumput harus dimulai dari penguatan kelembagaan ekonomi lokal, bukan dibiarkan jalan di tempat.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Laporan juga menyoroti penegakan hukum dan RUU Perampasan Aset yang dianggap membuka celah penyalahgunaan kekuasaan. Menuduh langkah penegakan hukum pemerintah bermuatan politis adalah bentuk kepanikan pihak-pihak tertentu yang merasa terganggu oleh bersih-bersih aparatur negara yang sedang gencar dilakukan tanpa pandang bulu,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa 96 persen responden menilai penanganan karhutla tidak efektif dan mengklaim kerugian hingga Rp123,1 triliun. Menurut Sugiat, menuding pemerintah gagal total dalam penanganan karhutla adalah klaim yang mengabaikan kerja keras di lapangan, di mana ribuan aparat, teknologi modifikasi cuaca, hingga penegakan hukum tegas terhadap korporasi perusak lingkungan langsung dikerahkan secara masif.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Laporan Celios juga menyoroti beban bunga utang mencapai Rp599,4 triliun yang diklaim melampaui belanja kesehatan sebesar Rp247,3 triliun. Sugiat menjelaskan membandingkan beban bunga utang secara sempit dengan anggaran kesehatan adalah cara pandang yang gagal paham terhadap struktur pembiayaan makroekonomi jangka panjang demi pembangunan infrastruktur strategis.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Pemenuhan gizi anak sekolah adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM), tidak mungkin kita mencetak generasi cerdas dan berdaya saing global jika anak-anak bangsa masih mengalami masalah gizi dan kesehatan di usia pertumbuhan,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Celios juga disebut mencibir kunjungan luar negeri Presiden tidak ada manfaatnya. Padahal, kata Sugiat, diplomasi tingkat tinggi adalah kunci utama membuka pintu investasi global dan mengamankan pasokan strategis bagi kepentingan rakyat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Sangat disayangkan jika dinamika penyesuaian kebijakan ekonomi transisi ini digiring oleh pihak tertentu seolah-olah membuat seluruh rakyat stres, padahal mayoritas masyarakat tetap optimistis menatap masa depan. Pemerintah sangat memahami beban hidup masyarakat, dan justru karena itulah berbagai program perlindungan sosial, subsidi tepat sasaran, serta penciptaan lapangan kerja terus digenjot setiap hari,&#8221; ucapnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sugiat mengatakan, mempersoalkan penempatan figur militer di lingkaran istana secara berlebihan justru mengabaikan hak prerogatif Presiden dalam membangun sistem manajemen kabinet yang cepat, disiplin, dan responsif terhadap dinamika krisis.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Ia menyebut ketegasan dan kedisiplinan kepemimpinan Presiden Prabowo kerap dicap miring sebagai militeristik, padahal kecepatan gerak dan ketegasan itu justru yang dibutuhkan rakyat saat negara menghadapi krisis pangan dan bencana.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Survei Celios yang dirancang secara artifisial oleh kelompok tertentu tidak bisa menghapus fakta dari kerja nyata yang dirasakan masyarakat di akar rumput. Bagaimana mungkin kinerja dua tahun pemerintah diadili oleh Kabinet Bayangan, sementara program-program kerakyatan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti langsung dirasakan manfaatnya oleh anak-anak di sekolah,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;Ketika laporan Celios terang-terangan menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dihentikan, pertanyaannya sederhana untuk rakyat: Apakah mereka tega melihat anak-anak kita kembali ke sekolah dengan perut lapar tanpa gizi yang layak?,&#8221; tambah Sugiat.<\/span><\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/598236\/gerindra-nilai-rapor-celios-2-tahun-prabowo-gibran-tuduhan-tanpa-bukti\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Partai Gerindra mengkritik rapor dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran yang dirilis Center of Economic and Law Studies (Celios). Gerindra menilai, rapor yang dirilis itu seperti tuduhan tanpa bukti. &#8220;Menuding pemerintah membatasi kebebasan sipil justru mengabaikan fakta bahwa demokrasi di era Prabowo-Gibran tetap berjalan terbuka, di mana kritik konstruktif diterima. Penegakan hukum harus ditegakkan secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":112270,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-112269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112269"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112269\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/112270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=112269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=112269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}