{"id":111989,"date":"2026-10-12T10:51:15","date_gmt":"2026-10-12T03:51:15","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/12\/lafa-pratomo-ari-lesmana-dan-white-chorus-maknai-hidup-sederhana-dalam-juara-dua\/"},"modified":"2026-10-12T10:51:15","modified_gmt":"2026-10-12T03:51:15","slug":"lafa-pratomo-ari-lesmana-dan-white-chorus-maknai-hidup-sederhana-dalam-juara-dua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/12\/lafa-pratomo-ari-lesmana-dan-white-chorus-maknai-hidup-sederhana-dalam-juara-dua\/","title":{"rendered":"Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus Maknai Hidup Sederhana dalam Juara Dua"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; <em>EP Garis Tegak<\/em> dari musisi dan produser <a href=\"https:\/\/voi.id\/musik\/491019\/lafa-pratomo-ungkap-ritual-unik-raisa-garap-album-kelima\">Lafa Pratomo<\/a> memperkenalkan rilisan keempat. Ia hadir dengan nyanyian tentang keresahan tentang ritme hidup dengan proses bermusik yang saling memberi ruang.<\/p>\n<p>Tekanan serta desakan untuk berlari mempertemukan Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus dalam <em>Juara Dua<\/em>. Single keempat dari EP tersebut membicarakan pilihan untuk hidup lebih bahagia tanpa kewajiban selalu menjadi yang pertama.<\/p>\n<p>Bagi Lafa, <em>Juara Dua<\/em> adalah pilihan yang sah ketika posisi tersebut justru membuat seseorang lebih nyaman menjalani hidupnya. Resiliensi, payung yang ia tetapkan sejak awal proyek, menemukan bentuknya melalui keresahan bersama para kolaborator.<\/p>\n<p>Sementara Ari Lesmana datang dengan pengalaman menjalani ritme kerja yang cepat hingga mempertanyakan apa yang sebenarnya dikejar. Yang ia cari kemudian adalah ketenangan dan kehidupan secukupnya.<\/p>\n<p>\u201cGak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu,\u201d ujar Ari.<\/p>\n<p>White Chorus menemukan keresahan serupa ketika melihat orang terburu-buru membuat dan merilis lagu. Bagi mereka, tetap ada tujuan yang ingin dicapai, tetapi, \u201ckita tuh gak lomba sama orang lain,\u201d tambah mereka.<\/p>\n<p>Lagu ini sendiri sudah tercetus dari bagan musik yang sudah tersimpan milik White Chorus. Mereka membawa enam pilihan; draft nomor enam menjadi embrio \u201cJuara Dua\u201d. Materinya baru beberapa bar dengan drum break dan gitar akustik, sempat disimpan karena tidak sesuai arah EP yang ketika itu ingin mereka buat lebih elektronik dan menghentak. Ari menyukai nada serta rasa mentahnya, dan setelah memutar beberapa opsi berulang kali, mereka sepakat mengembangkan draft tersebut.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Proses ini melibatkan diskusi kreatif yang membuat White Chorus tak menyangka, yakni bagian yang lebih tenang dengan gitar akustik dan perubahan nada di tengah pola awal yang repetitif. Ari mengingat bagian itu sebagai titik ketika karakter ketiga pihak melebur, sekaligus memberi penekanan pada gagasan memiliki hak atas diri sendiri. Menurut Emir, karakter drum break tetap bertahan, meski sampel drum pada versi awal kemudian berkembang menjadi drum yang direkam ulang.<\/p>\n<p>Sikap saling memberi ruang juga membentuk vokalnya. Setelah mendengar rekaman Friska yang dibuat lebih dulu, Ari memilih mengambil suara di bawahnya dan menemukan kecocokan warna. Friska merasa mendapat kesempatan untuk menonjol, sementara karakter Ari tetap hadir kuat bahkan pada nada rendah. Mereka bergantian berbagi register dan suara kedua, dalam pendekatan Lafa, keduanya membawa satu konteks cerita.<\/p>\n<p>\u201cJuara Dua\u201d lahir dari pertemuan tersebut, bukan tahap emosional yang sengaja diplot dalam urutan rilisan. Lafa tetap membebaskan pendengar menemukan maknanya sendiri. Bagi Ari, memilih menjadi \u201cJuara Dua\u201d terasa dekat ketika pilihan itu membawa kebahagiaan.<\/p>\n<p>\u201cSeperlunya, secukupnya itu sih,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/musik\/598062\/lafa-pratomo-ari-lesmana-dan-white-chorus-maknai-hidup-sederhana-dalam-juara-dua\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; EP Garis Tegak dari musisi dan produser Lafa Pratomo memperkenalkan rilisan keempat. Ia hadir dengan nyanyian tentang keresahan tentang ritme hidup dengan proses bermusik yang saling memberi ruang. Tekanan serta desakan untuk berlari mempertemukan Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus dalam Juara Dua. Single keempat dari EP tersebut membicarakan pilihan untuk hidup [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111990,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-111989","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111989","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111989"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111989\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111989"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111989"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111989"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}