{"id":111955,"date":"2026-10-12T07:55:12","date_gmt":"2026-10-12T00:55:12","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/12\/danantara-harus-jadi-motor-investasi-infrastruktur-indonesia\/"},"modified":"2026-10-12T07:55:12","modified_gmt":"2026-10-12T00:55:12","slug":"danantara-harus-jadi-motor-investasi-infrastruktur-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/12\/danantara-harus-jadi-motor-investasi-infrastruktur-indonesia\/","title":{"rendered":"Danantara Harus Jadi Motor Investasi Infrastruktur Indonesia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA \u2014 Kesenjangan pembiayaan menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Kebutuhan investasi yang besar untuk memperkuat konektivitas, ketahanan energi, pangan, air, dan layanan publik menuntut pemerintah mencari sumber pendanaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam konteks ini, Danantara dinilai memiliki peluang untuk menjadi penggerak investasi jangka panjang dengan memanfaatkan aset badan usaha milik negara (BUMN) dan menarik partisipasi investor swasta serta internasional.<\/p>\n<p>Komisaris Pelindo, Arief Poyuono, menekankan pentingnya menempatkan Danantara sebagai instrumen strategis untuk memperluas sumber pembiayaan infrastruktur. Menurut dia, pengelolaan investasi tidak cukup hanya mengandalkan modal negara, tetapi perlu dirancang agar mampu mendorong masuknya pendanaan tambahan dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>\u201cPembangunan infrastruktur Indonesia membutuhkan sumber pembiayaan yang lebih luas daripada sekadar mengandalkan APBN. Danantara perlu memainkan peran strategis untuk menggerakkan investasi BUMN sekaligus membuka jalan bagi masuknya modal swasta dan investor internasional,\u201d ujar Arief Poyuono dalam rumusan pandangannya mengenai pembiayaan infrastruktur berkelanjutan.<\/p>\n<p>Besarnya kebutuhan investasi membuat persoalan pendanaan menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional. Infrastruktur transportasi, energi, air bersih, sanitasi, dan telekomunikasi bukan hanya mendukung aktivitas ekonomi, melainkan juga menentukan akses masyarakat terhadap layanan dasar dan kesempatan ekonomi.<\/p>\n<p>Tantangan pembangunan bukan sekadar meningkatkan jumlah proyek, tetapi memastikan investasi menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<h2>Danantara dan Pembiayaan Infrastruktur<\/h2>\n<p>Kebutuhan pembiayaan infrastruktur tidak selalu dapat dipenuhi melalui belanja pemerintah. Ketika berbagai sektor membutuhkan investasi secara bersamaan, keterbatasan fiskal dapat membatasi ruang gerak pemerintah untuk membangun seluruh fasilitas yang diperlukan.<\/p>\n<p>Arief menilai Danantara dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Peran ini memerlukan kemampuan mengelola aset BUMN, menyeleksi proyek, dan membangun kemitraan dengan sumber modal yang memiliki kapasitas serta orientasi investasi jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cYang harus menjadi perhatian bukan hanya berapa besar dana yang tersedia, tetapi juga bagaimana dana tersebut digunakan. Kualitas proyek, ketepatan sasaran investasi, dan manfaat jangka panjang harus menjadi pertimbangan utama dalam pembiayaan infrastruktur,\u201d kata Arief, kepada <a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/598051\/voi.id\"><strong><em>VOI<\/em><\/strong><\/a>.<\/p>\n<p>Pandangan tersebut menempatkan kualitas investasi sebagai aspek yang sama pentingnya dengan besaran modal. Proyek infrastruktur membutuhkan perencanaan yang matang karena masa konstruksi, operasional, dan pengembalian modal dapat berlangsung selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p>Dalam materi mengenai pembiayaan infrastruktur, kajian Bank Dunia yang diterbitkan Rozenberg dan Fay pada 2019 memperkirakan kebutuhan belanja infrastruktur baru di negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat mencapai 2\u20138 persen dari produk domestik bruto (PDB) per tahun hingga 2030. Besarannya bergantung pada target layanan dan efisiensi belanja.<\/p>\n<p>Angka tersebut menggambarkan tantangan pembiayaan yang dihadapi banyak negara berkembang. Namun, kebutuhan setiap negara tetap ditentukan oleh kondisi ekonomi, prioritas pembangunan, dan karakter proyek yang direncanakan.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, upaya memperluas pendanaan perlu berjalan bersama peningkatan kualitas perencanaan dan pengelolaan proyek. Modal yang besar tidak otomatis menghasilkan pembangunan yang efektif apabila proyek tidak memiliki kelayakan, tata kelola, dan sasaran manfaat yang jelas.<\/p>\n<h2>Investasi Membutuhkan Kepastian<\/h2>\n<p>Infrastruktur memiliki karakteristik investasi yang berbeda dari kegiatan usaha dengan periode pengembalian pendek. Jalan tol, jaringan energi, fasilitas air, dan berbagai utilitas dapat memerlukan waktu panjang sebelum modal yang ditanamkan kembali melalui pendapatan operasional.<\/p>\n<p>Karakteristik tersebut membuat Danantara perlu memiliki strategi investasi yang mempertimbangkan kebutuhan pembangunan sekaligus profil risiko dan imbal hasil setiap proyek.<\/p>\n<p>\u201cDanantara harus dibangun dengan orientasi jangka panjang. Infrastruktur tidak bisa dinilai hanya dari hasil dalam satu atau dua tahun, karena manfaat ekonomi dan pengembalian investasinya dapat berlangsung selama puluhan tahun,\u201d ujar Arief.<\/p>\n<p>Investasi jangka panjang membutuhkan kepastian kebijakan dan kejelasan sumber pendapatan. Investor perlu memahami struktur pembiayaan, risiko operasional, ketentuan tarif jika berlaku, serta tanggung jawab masing-masing pihak.<\/p>\n<p>Proyek yang memiliki arus kas relatif stabil berpotensi menarik investor institusional. Namun, tidak semua infrastruktur menghasilkan pendapatan langsung yang cukup untuk menutup biaya investasi. Fasilitas pelayanan dasar, misalnya, dapat memberikan manfaat sosial besar meskipun pendapatan komersialnya terbatas.<\/p>\n<p>Danantara perlu membedakan proyek yang layak dibiayai secara komersial dari proyek yang membutuhkan dukungan fiskal atau skema pembiayaan khusus.<\/p>\n<p>\u201cInvestor membutuhkan kepastian mengenai aturan, pembagian risiko, dan prospek pengembalian modal. Jika aspek-aspek tersebut dirancang secara transparan, Danantara akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk membangun kemitraan investasi jangka panjang,\u201d kata Arief.<\/p>\n<p>Kepastian itu bukan berarti pemerintah harus menjamin keuntungan setiap investor. Sebaliknya, proyek perlu disiapkan dengan perhitungan risiko yang realistis, struktur pembiayaan yang jelas, dan pembagian tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<h2>Blended Finance<\/h2>\n<p>Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperluas sumber pendanaan adalah <em>blended finance<\/em> atau pembiayaan campuran. Skema ini menggabungkan dana publik dengan modal swasta atau institusional untuk mendukung proyek yang memberikan manfaat pembangunan, tetapi menghadapi hambatan investasi.<\/p>\n<p>Dalam pendekatan tersebut, dukungan publik dapat digunakan secara terarah untuk membantu mengurangi hambatan tertentu sehingga investor swasta bersedia berpartisipasi. Tujuannya adalah memobilisasi modal tambahan, bukan sekadar mengganti sumber pembiayaan komersial dengan dana negara.<\/p>\n<p>Arief menempatkan pendekatan ini sebagai salah satu peluang yang dapat dikembangkan Danantara untuk memperluas investasi infrastruktur.<\/p>\n<p>\u201cDanantara perlu mendorong pembiayaan campuran yang mempertemukan modal negara dengan investasi swasta. Dengan struktur yang tepat, proyek infrastruktur dapat membuka ruang partisipasi bagi lebih banyak investor tanpa seluruh kebutuhan pendanaannya dibebankan kepada pemerintah,\u201d ujar Arief.<\/p>\n<p>Skema tersebut dapat melibatkan bank pembangunan, lembaga keuangan, investor institusional, dan perusahaan swasta. Setiap pihak dapat berpartisipasi sesuai kapasitas pendanaan, keahlian, dan tingkat risiko yang bersedia ditanggung.<\/p>\n<p>Namun, pembiayaan campuran membutuhkan perhitungan yang cermat. Penggunaan dana publik harus memiliki tujuan yang jelas, sementara manfaat tambahan dari masuknya modal swasta perlu dapat diukur.<\/p>\n<p>Tanpa pengelolaan yang baik, dukungan pemerintah berisiko tidak menghasilkan tambahan investasi yang sebanding. Karena itu, penentuan proyek, pembagian risiko, dan evaluasi hasil investasi menjadi bagian penting dari penerapan skema tersebut.<\/p>\n<p>\u201cDana publik harus mampu menciptakan nilai tambah. Kita perlu memastikan bahwa keterlibatan Danantara benar-benar membuka investasi baru, memperbaiki kelayakan proyek, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang dapat diukur,\u201d kata Arief.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan ini, Danantara dapat berperan sebagai penghubung antara prioritas pembangunan pemerintah dan sumber modal yang tersedia di pasar. Peran tersebut tetap memerlukan disiplin investasi agar tujuan pembangunan tidak mengabaikan risiko keuangan.<\/p>\n<h2>Kepastian Regulasi<\/h2>\n<p>Ketersediaan modal bukan satu-satunya faktor yang menentukan realisasi proyek infrastruktur. Investor juga mempertimbangkan stabilitas kebijakan, transparansi informasi, kualitas tata kelola, serta konsistensi pelaksanaan regulasi.<\/p>\n<p>Bagi investor internasional, keterbatasan informasi mengenai kondisi pasar dan profil risiko dapat menjadi hambatan. Persoalan ini semakin penting pada proyek dengan kebutuhan modal besar dan masa pengembalian panjang.<\/p>\n<p>Danantara dapat membantu mengatasi hambatan tersebut melalui penyediaan informasi proyek yang lebih terstruktur, pemilihan mitra yang tepat, dan pengembangan skema investasi yang transparan.<\/p>\n<p>Arief juga menekankan pentingnya menyelaraskan strategi investasi dengan agenda pembangunan jangka panjang pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cDanantara tidak boleh berjalan sendiri tanpa arah yang terintegrasi dengan strategi nasional. Koordinasi antara pemerintah, pengelola BUMN, lembaga keuangan, dan investor harus diperkuat agar keputusan investasi benar-benar mendukung prioritas pembangunan Indonesia,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Mekanisme Koordinasi Strategi Nasional atau <em>National Strategy Coordination Mechanism<\/em> (NSCM) adalah salah satu kerangka untuk memperkuat koordinasi tata kelola dan memberikan kepastian jangka panjang.<\/p>\n<p>Mekanisme koordinasi semacam itu perlu memiliki pembagian kewenangan yang jelas, prosedur pengambilan keputusan yang dapat ditelusuri, dan ukuran keberhasilan yang terukur. Tanpa unsur tersebut, koordinasi berisiko berhenti pada tataran administratif.<\/p>\n<p>Kejelasan regulasi juga perlu mencakup pembagian risiko proyek. Investor harus mengetahui pihak yang bertanggung jawab terhadap risiko konstruksi, operasional, perubahan kebijakan, fluktuasi nilai tukar, dan perubahan permintaan pasar.<\/p>\n<p>\u201cKepercayaan investor tidak cukup dibangun melalui promosi peluang investasi. Pemerintah dan Danantara harus menunjukkan bahwa proyek disiapkan dengan tata kelola yang baik, informasi yang terbuka, dan pembagian risiko yang jelas,\u201d ujar Arief.<\/p>\n<p>Kepastian tersebut menjadi penting agar modal yang masuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga dapat mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.<\/p>\n<h2>Infrastruktur Prioritas Pembangunan<\/h2>\n<p>Kebutuhan investasi nasional mencakup berbagai bidang yang memiliki karakteristik dan kebutuhan pembiayaan berbeda. Pembangunan bendungan dan jaringan irigasi berkaitan dengan ketahanan pangan dan air, sedangkan investasi energi bersih mendukung diversifikasi sumber energi.<\/p>\n<p>Pada sektor konektivitas, pembangunan jalan, jembatan, dan jalur logistik berpotensi membantu menekan biaya distribusi. Infrastruktur kampung nelayan, gudang, serta fasilitas rantai dingin dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Sementara itu, perbaikan fasilitas kesehatan dan pendidikan berkaitan langsung dengan kualitas layanan publik.<\/p>\n<p>Ragam kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa penentuan prioritas investasi perlu mempertimbangkan manfaat ekonomi, kebutuhan masyarakat, kesiapan proyek, serta kemampuan pendanaan.<\/p>\n<p>Arief menekankan bahwa investasi infrastruktur harus selaras dengan kebutuhan jangka panjang Indonesia, bukan semata-mata mengejar besarnya nilai proyek.<\/p>\n<p>\u201cSetiap investasi harus memiliki tujuan yang jelas. Infrastruktur perlu memperkuat konektivitas, mendukung produktivitas, memperluas akses layanan dasar, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,\u201d ujar Arief.<\/p>\n<p>Pertimbangan keberlanjutan juga menjadi bagian dari perencanaan. Infrastruktur yang tidak memperhitungkan risiko lingkungan dan perubahan iklim dapat menghadapi biaya pemeliharaan atau perbaikan yang lebih tinggi di kemudian hari.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, penilaian proyek perlu memasukkan aspek lingkungan, ketahanan aset, dan dampak sosial sejak tahap perencanaan. Pendekatan ini membantu memastikan manfaat pembangunan dapat bertahan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Danantara perlu menentukan bentuk pembiayaan berdasarkan karakter proyek. Infrastruktur yang menghasilkan pendapatan komersial dapat dikembangkan melalui investasi langsung atau kemitraan pasar, sedangkan fasilitas yang memberikan manfaat sosial luas mungkin membutuhkan dukungan pemerintah maupun struktur pembiayaan campuran.<\/p>\n<h2>Pengelolaan Dana Kekayaan Negara<\/h2>\n<p>Dalam pengelolaan investasi jangka panjang, Arief juga menyinggung pengalaman sejumlah dana kekayaan negara atau <em>sovereign wealth fund<\/em> (SWF), termasuk Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) di Singapura, Kuwait Investment Authority, serta Abu Dhabi Investment Authority.<\/p>\n<p>Lembaga-lembaga tersebut memiliki mandat, sumber pendanaan, dan struktur kewajiban yang berbeda. Sebagian berorientasi pada pengelolaan kekayaan untuk generasi mendatang, sementara yang lain berfokus pada pengelolaan cadangan dan investasi di berbagai kelas aset.<\/p>\n<p>Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu model yang dapat diterapkan secara seragam di seluruh negara. Strategi pengelolaan dana harus disesuaikan dengan tujuan, kondisi ekonomi, kebutuhan pembangunan, dan profil risiko masing-masing negara.<\/p>\n<p>Arief menilai kejelasan mandat menjadi faktor penting bagi Danantara dalam menjalankan perannya sebagai instrumen investasi nasional.<\/p>\n<p>\u201cPengelolaan dana negara harus memiliki mandat yang tegas, strategi investasi yang terukur, dan mekanisme pertanggungjawaban yang kuat. Dengan begitu, kepentingan pembangunan dapat berjalan seiring dengan pengelolaan aset secara profesional,\u201d kata Arief.<\/p>\n<p>Kemitraan internasional juga dapat membuka akses terhadap modal, pengalaman teknis, dan keahlian dalam pengelolaan proyek. Melalui investasi bersama atau <em>co-investment<\/em>, Danantara dapat bekerja sama dengan mitra yang memiliki kompetensi khusus pada sektor tertentu.<\/p>\n<p>Meski demikian, kerja sama harus disertai seleksi mitra yang cermat dan ketentuan pembagian risiko yang transparan. Pengalaman negara lain dapat menjadi bahan pembelajaran, tetapi desain kelembagaan Danantara tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.<\/p>\n<h2>Tata Kelola Danantara<\/h2>\n<p>Besarnya potensi investasi membuat tata kelola menjadi faktor penting dalam pelaksanaan mandat Danantara. Keputusan investasi perlu didasarkan pada penilaian kelayakan yang objektif, informasi yang memadai, dan prosedur yang memungkinkan hasilnya dievaluasi.<\/p>\n<p>Kinerja tidak cukup diukur dari jumlah dana yang disalurkan atau banyaknya proyek yang dibiayai. Evaluasi juga perlu memperhatikan manfaat ekonomi, peningkatan kualitas layanan, dampak terhadap masyarakat, dan keberlanjutan keuangan proyek.<\/p>\n<p>Transparansi mengenai pemilihan proyek, struktur pembiayaan, pembagian risiko, dan hasil investasi dapat membantu membangun kepercayaan publik maupun investor.<\/p>\n<p>Arief menegaskan bahwa peran Danantara dalam pembangunan infrastruktur perlu disertai akuntabilitas yang kuat.<\/p>\n<p>\u201cKeberhasilan Danantara tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang berhasil dihimpun, tetapi juga dari kualitas proyek, manfaatnya bagi masyarakat, dan kemampuan menjaga aset negara agar memberikan nilai dalam jangka panjang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Prinsip tersebut menjadi penting karena investasi infrastruktur melibatkan dana besar dan memiliki konsekuensi yang berlangsung lama. Keputusan yang tidak didasarkan pada analisis memadai dapat menimbulkan risiko keuangan, sementara proyek yang direncanakan dengan baik berpotensi memperkuat produktivitas dan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan dasar.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Danantara menghadapi dua kebutuhan yang harus berjalan beriringan: memobilisasi modal untuk mempercepat pembangunan dan memastikan dana tersebut dikelola dengan disiplin investasi yang kuat.<\/p>\n<p>\u201cDanantara harus mampu mempertemukan kepentingan pembangunan nasional dengan kepercayaan investor. Kuncinya adalah strategi jangka panjang, kepastian kebijakan, kemitraan yang tepat, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan,\u201d kata Arief.<\/p>\n<p>Dengan strategi yang terarah, Danantara berpotensi memperluas sumber pembiayaan infrastruktur Indonesia melalui optimalisasi aset BUMN, kemitraan dengan investor swasta, dan akses terhadap modal internasional. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas proyek, kepastian regulasi, kemampuan mengelola risiko, dan konsistensi antara keputusan investasi dengan prioritas pembangunan nasional.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/598051\/arief-poyuono-danantara-harus-jadi-motor-investasi-infrastruktur-indonesia\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Kesenjangan pembiayaan menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Kebutuhan investasi yang besar untuk memperkuat konektivitas, ketahanan energi, pangan, air, dan layanan publik menuntut pemerintah mencari sumber pendanaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam konteks ini, Danantara dinilai memiliki peluang untuk menjadi penggerak investasi jangka panjang dengan memanfaatkan aset [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111956,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-111955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111955\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}