{"id":111765,"date":"2026-10-11T11:34:49","date_gmt":"2026-10-11T04:34:49","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/11\/minim-data-kawah-purba-pangrango-jadi-sasaran-ekspedisi-ilmiah\/"},"modified":"2026-10-11T11:34:49","modified_gmt":"2026-10-11T04:34:49","slug":"minim-data-kawah-purba-pangrango-jadi-sasaran-ekspedisi-ilmiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/11\/minim-data-kawah-purba-pangrango-jadi-sasaran-ekspedisi-ilmiah\/","title":{"rendered":"Minim Data, Kawah Purba Pangrango Jadi Sasaran Ekspedisi Ilmiah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>BOGOR \u2014 Minimnya data mengenai keanekaragaman hayati dan kondisi geologi mendorong Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, menggelar Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 pada 10\u201317 Oktober. Ekspedisi ilmiah multidisiplin ini ditujukan untuk mengungkap potensi kawasan yang belum terdokumentasi sebagai dasar pengelolaan konservasi berbasis data.<\/p>\n<p>Kepala Balai Besar TNGGP Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan, pengelolaan kawasan konservasi perlu didasarkan pada pengetahuan yang memadai mengenai kondisi dan potensi di dalamnya. Karena itu, ekspedisi menjadi salah satu cara untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam menentukan strategi perlindungan kawasan.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana bisa mengelola dan mengembangkan kawasan konservasi jika kita tidak tahu isinya? Oleh sebab itu, setiap saya memimpin suatu kawasan, saya mengadakan ekspedisi, untuk mencari tahu isinya,\u201d kata Sadtata dalam keterangan persnya, Minggu 11 Oktober.<\/p>\n<p>Ekspedisi ini mengusung tema \u201cMengenali untuk Lebih Mencintai\u201d dan melibatkan sekitar 40 personel dari berbagai bidang keilmuan serta lembaga. Tim terdiri atas peneliti dan praktisi yang memiliki keahlian di bidang botani, burung atau aves, herpetofauna yang meliputi amfibi dan reptil, serangga, mamalia, jamur, geologi, hingga vulkanologi.<\/p>\n<p>Lembaga yang terlibat antara lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cikananga Wildlife Center, Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Baraka Bumi, Nusantara Climate Initiative, dan WWF.<\/p>\n<p>Melalui survei lintas disiplin tersebut, tim akan mengumpulkan data keanekaragaman hayati dan nonhayati, memetakan kondisi lingkungan, serta memperdalam pengetahuan mengenai ekologi dan sejarah geologi Kawah Purba Pangrango.<\/p>\n<p>Kawasan ini menjadi sasaran karena memiliki karakter geografis yang menantang dan belum sepenuhnya terdokumentasikan. Area ekspedisi diperkirakan mencapai delapan kilometer persegi atau sekitar 3,3 persen dari total luas TNGGP yang tercatat 24.270,80 hektare.<\/p>\n<p>Topografi yang terjal, akses yang sulit, serta relatif minimnya aktivitas manusia membuat kawasan tersebut berpotensi menyimpan informasi penting mengenai keanekaragaman hayati dan kondisi alam yang belum banyak diketahui.<\/p>\n<p>Kawah Purba Pangrango berada di sebelah barat daya Puncak Pangrango, pada ketinggian sekitar 1.800\u20132.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akses menuju lokasi dilakukan melalui Resor Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Cimungkad di Sukabumi.<\/p>\n<p>Kawasan tersebut bukan kawah yang berada di puncak Gunung Pangrango seperti kawah Gunung Gede, melainkan bagian dari bentang alam yang berkaitan dengan struktur vulkanik tua. Kajian yang dimuat dalam majalah Geomagz edisi Juni 2014 menjelaskan bahwa Gunung Mandalawangi merupakan gunung api tua yang letusannya menghancurkan sebagian tubuh gunung dan meninggalkan kawah purba. Pada salah satu bagian sistem tersebut kemudian tumbuh gunung yang dikenal sebagai Gunung Pangrango.<\/p>\n<p>Dari sisi keanekaragaman hayati, ekspedisi diharapkan dapat menghasilkan temuan berupa spesies baru, catatan keberadaan spesies yang belum pernah dilaporkan di kawasan tersebut, maupun penemuan kembali spesies yang sebelumnya dianggap tidak lagi ditemukan.<\/p>\n<p>\u201cHarapannya, kita mendapatkan <em>new species, new record<\/em>, <em>rediscovery<\/em>atau minimal kita mendata apa yang ada di Kawah Purba Pangrango,\u201d ujar Sadtata.<\/p>\n<p>Manajer Konservasi In-Situ Cikananga Wildlife Center Meidi Yanto mengatakan, pendataan burung menjadi salah satu fokus penelitian. Tim akan menggunakan beberapa metode, termasuk perekaman suara, untuk mengidentifikasi jenis dan mengetahui potensi keragaman aves di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKami akan mendata aneka aves dengan beberapa metode yang sudah kami siapkan. Antara lain dengan merekam suara burung. Kalau potensi keragamannya, tentu cukup tinggi. Kita belum tahu, belum ada data,\u201d kata Meidi.<\/p>\n<p>Untuk mendukung penelitian, tim menyiapkan berbagai perangkat, mulai dari <em>camera trap<\/em>, perekam bioakustik, GPS, kompas, perangkap serangga, <em>pitfall trap<\/em>, hingga <em>mist net<\/em>. Peralatan dokumentasi dan pengumpulan spesimen juga akan digunakan sesuai kebutuhan dan metode penelitian masing-masing bidang.<\/p>\n<p>Penggunaan metode yang beragam diharapkan memungkinkan tim mengidentifikasi berbagai kelompok organisme sekaligus merekam kondisi lingkungan kawasan. Data yang terkumpul selanjutnya dapat menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan dan penyusunan strategi konservasi yang lebih terarah.<\/p>\n<p>Hasil ekspedisi juga akan dikembangkan menjadi laporan, dokumentasi, publikasi ilmiah, buku untuk masyarakat umum, serta materi audiovisual. Selain menghasilkan data, kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, peneliti, akademisi, praktisi, masyarakat, dan mitra konservasi.<\/p>\n<p>Sadtata menilai ekspedisi serupa perlu diperluas ke kawasan konservasi lain yang masih memiliki keterbatasan informasi ilmiah. Menurut dia, masih banyak kawasan yang belum memiliki data memadai untuk mendukung pengelolaan secara efektif.<\/p>\n<p>\u201cKe depannya, saya berharap, kegiatan ekspedisi macam ini bisa menjadi program nasional karena masih banyak sekali kawasan konservasi yang *blank spot* data,\u201d kata Sadtata.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 turut mendapat dukungan dari sejumlah mitra, yakni Arei, Eiger, PT Fontis Aquam Vivam (FAV), PT Asuransi Jiwa Syariah Amanah Jiwa Giri Arta, PT DMGP, PT Bumi Paseban Alami (BPA), Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Super Wahana Tecno, dan Pertamina EP Tambun.<\/p>\n<p>Melalui ekspedisi ini, TNGGP berharap kekosongan data di Kawah Purba Pangrango dapat mulai terisi. Informasi yang dihasilkan diharapkan menjadi pijakan ilmiah untuk mengenali potensi kawasan, menentukan prioritas perlindungan, dan memperkuat pengelolaan konservasi secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/597942\/minim-data-kawah-purba-pangrango-jadi-sasaran-ekspedisi-ilmiah\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR \u2014 Minimnya data mengenai keanekaragaman hayati dan kondisi geologi mendorong Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, menggelar Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 pada 10\u201317 Oktober. Ekspedisi ilmiah multidisiplin ini ditujukan untuk mengungkap potensi kawasan yang belum terdokumentasi sebagai dasar pengelolaan konservasi berbasis data. Kepala Balai Besar TNGGP Sadtata Noor Adirahmanta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111766,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-111765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 hours ago","modified":"4 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111765"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111765\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111766"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}