{"id":111637,"date":"2026-10-10T17:24:18","date_gmt":"2026-10-10T10:24:18","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/10\/studi-ungkap-konsumsi-cabai-sedang-terkait-risiko-lebih-rendah-penyakit-hati-berlemak\/"},"modified":"2026-10-10T17:24:18","modified_gmt":"2026-10-10T10:24:18","slug":"studi-ungkap-konsumsi-cabai-sedang-terkait-risiko-lebih-rendah-penyakit-hati-berlemak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/10\/studi-ungkap-konsumsi-cabai-sedang-terkait-risiko-lebih-rendah-penyakit-hati-berlemak\/","title":{"rendered":"Studi Ungkap Konsumsi Cabai Sedang Terkait Risiko Lebih Rendah Penyakit Hati Berlemak"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/MFCQGY1PIIbyOSyQ9_ohKPB-F7we2g4MNPPTiiSnAvI\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81OTc4NzgvMjAyNjEwMTAxNjIyLW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzkxNjI0MTUxLmpwZWc.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Konsumsi makanan pedas beberapa kali dalam sepekan dengan tingkat kepedasan sedang dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit hati berlemak. Namun, makan lebih pedas tidak otomatis memberi manfaat lebih besar.<\/p>\n<p>Menurut Antara, disitat Sabtu, 10 Oktober yang mengutip Medical Daily, studi tersebut diterbitkan dalam Frontiers in Nutrition pada November 2025 dan melibatkan 23.666 orang dewasa berusia 25 hingga 60 tahun di Shijiazhuang, Provinsi Hebei, China.<\/p>\n<p>Seluruh peserta tidak memiliki penyakit hati berlemak maupun jaringan parut lanjut saat penelitian dimulai. Mereka kemudian dipantau selama rata-rata 12,6 tahun.<\/p>\n<p>Hasilnya, 7.965 peserta mengalami penyakit hati berlemak non-alkoholik atau NAFLD. Sebanyak 7.311 orang memenuhi kriteria penyakit hati steatosis terkait disfungsi metabolik atau MASLD.<\/p>\n<p>Dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah makan makanan pedas, peserta yang mengonsumsinya satu hingga dua hari per minggu memiliki risiko NAFLD 18,9 persen lebih rendah.<\/p>\n<p>Pada konsumsi tiga hingga lima hari per minggu, risikonya 33,2 persen lebih rendah. Untuk enam hingga tujuh hari per minggu, penurunannya mencapai 36,4 persen.<\/p>\n<p>Peneliti juga melihat tingkat kepedasan. Mereka yang memilih makanan pedas ringan dikaitkan dengan risiko NAFLD 22,9 persen lebih rendah. Pada tingkat sedang, risikonya 33,9 persen lebih rendah.<\/p>\n<p>Sebaliknya, preferensi sangat pedas tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan penurunan risiko NAFLD maupun MASLD.<\/p>\n<p>Temuan ini tidak berarti cabai terbukti mencegah penyakit hati. Studi tersebut bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab akibat.<\/p>\n<p>Peneliti juga belum dapat memastikan mengapa manfaat tidak terlihat pada tingkat kepedasan tertinggi.<\/p>\n<p>Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan kemungkinan efek berbeda berdasarkan dosis capsaicin, senyawa aktif dalam cabai. Namun, mekanisme tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semakin pedas makanan, semakin baik dampaknya.<\/p>\n<p>Studi ini juga tidak menemukan hubungan antara konsumsi makanan pedas dan risiko fibrosis hati tingkat lanjut.<\/p>\n<p>Itu menjadi catatan penting karena fibrosis atau jaringan parut merupakan kondisi yang dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, konsumsi cabai mingguan dalam studi ini dikaitkan dengan risiko lebih rendah penumpukan lemak di hati, tetapi tidak dengan penurunan risiko jaringan parut.<\/p>\n<p>Penelitian juga memiliki sejumlah keterbatasan. Konsumsi makanan pedas dilaporkan sendiri oleh peserta dan tingkat kepedasan bersifat subjektif.<\/p>\n<p>Selain itu, seluruh peserta berasal dari China, sehingga hasilnya belum tentu langsung berlaku pada pola makan masyarakat di negara lain.<\/p>\n<p>Peneliti juga mengingatkan makanan pedas bukan sekadar capsaicin. Hidangan pedas dapat mengandung lemak, garam, dan kalori dalam jumlah berbeda yang tidak seluruhnya diukur dalam studi.<\/p>\n<p>Karena itu, orang yang memiliki masalah hati tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter dan tidak menjadikan makanan pedas sebagai pengganti penanganan medis.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/info-sehat\/597878\/studi-ungkap-konsumsi-cabai-sedang-terkait-risiko-lebih-rendah-penyakit-hati-berlemak\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Konsumsi makanan pedas beberapa kali dalam sepekan dengan tingkat kepedasan sedang dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit hati berlemak. Namun, makan lebih pedas tidak otomatis memberi manfaat lebih besar. Menurut Antara, disitat Sabtu, 10 Oktober yang mengutip Medical Daily, studi tersebut diterbitkan dalam Frontiers in Nutrition pada November 2025 dan melibatkan 23.666 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-111637","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"2 days ago","modified":"2 days ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111637","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111637"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111637\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111637"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111637"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111637"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}