{"id":111308,"date":"2026-10-09T06:05:17","date_gmt":"2026-10-08T23:05:17","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/09\/cara-memotret-hujan-meteor-draconid-dengan-iphone\/"},"modified":"2026-10-09T06:05:17","modified_gmt":"2026-10-08T23:05:17","slug":"cara-memotret-hujan-meteor-draconid-dengan-iphone","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/09\/cara-memotret-hujan-meteor-draconid-dengan-iphone\/","title":{"rendered":"Cara Memotret Hujan Meteor Draconid dengan iPhone"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; iPhone dapat digunakan untuk mengabadikan hujan meteor Draconid, tetapi hasil terbaik tidak cukup diperoleh dengan mengarahkan kamera ke langit dan menekan tombol rana. Pengguna membutuhkan lokasi minim polusi cahaya, tripod, serta aplikasi kamera yang mendukung pemotretan dengan eksposur panjang.<\/p>\n<p>Hujan meteor Draconid berlangsung setiap Oktober dan dapat diamati dari belahan Bumi utara. Puncak fenomena tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 21.00 waktu <em>Eastern Time<\/em> pada 8 Oktober, meski aktivitas meteor masih dapat terlihat hingga dini hari.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Kualitas foto yang dihasilkan akan berbeda tergantung model iPhone yang digunakan. Model Pro, seperti iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max, umumnya memiliki sensor yang lebih besar dibandingkan model standar. Perbedaan generasi perangkat juga dapat memengaruhi kemampuan kamera dalam menangkap objek redup di langit malam.<\/p>\n<p>Pengguna sebaiknya tidak mengharapkan hasil sempurna pada percobaan pertama. Pemotretan astrofotografi dengan iPhone membutuhkan waktu untuk menemukan pengaturan yang sesuai.<\/p>\n<p>Langkah pertama yang penting adalah mencari lokasi dengan tingkat polusi cahaya serendah mungkin. Lingkungan pedesaan dapat menjadi pilihan jika pengguna memiliki izin untuk memarkir kendaraan atau berada di lokasi tersebut.<\/p>\n<p>Semakin gelap langit, semakin besar peluang kamera menangkap bintang dan jejak meteor. Lokasi yang populer untuk mengamati fenomena langit juga dapat cepat dipenuhi pengunjung, sehingga persiapan lokasi menjadi penting.<\/p>\n<p>Setelah menemukan lokasi, tripod menjadi perlengkapan yang tidak boleh dilewatkan. Fotografi malam membutuhkan waktu pencahayaan yang lebih panjang sehingga memegang iPhone dengan tangan ketika mengambil gambar dapat menyebabkan hasil foto buram.<\/p>\n<p>Tripod tidak harus mahal. Yang terpenting adalah memastikan perangkat berada di permukaan yang stabil, seperti kap mobil, meja teras, atau tanah yang rata.<\/p>\n<p>Pengguna juga dapat membawa tombol rana jarak jauh untuk mengurangi getaran ketika mengambil gambar. Apple Watch dapat digunakan sebagai salah satu pilihan. Pengguna yang tidak memiliki perangkat tersebut juga dapat menggunakan pengendali Bluetooth yang memiliki tombol volume, selama perangkat tersebut sudah diuji sebelum digunakan di lokasi pemotretan.<\/p>\n<p>Untuk memotret meteor, kamera bawaan iPhone dengan Night Mode tidak menjadi pilihan terbaik. Night Mode bekerja dengan mengambil serangkaian foto berdurasi lebih pendek dan menggabungkannya untuk meningkatkan tingkat kecerahan gambar.<\/p>\n<p>Teknik tersebut dapat membantu ketika memotret objek seperti Bima Sakti atau aurora, tetapi tidak ideal untuk menangkap jejak meteor yang melintas dengan cepat di langit.<\/p>\n<p>Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah aplikasi NightCap Camera. Aplikasi tersebut memiliki mode khusus untuk memotret meteor dan tersedia dengan pembayaran satu kali sebesar US$2,99 atau sekitar Rp54 ribu berdasarkan kurs US$1 sebesar Rp18.087,99.<\/p>\n<p>NightCap memiliki Meteor Mode yang secara otomatis mengatur proses pemotretan. Mode tersebut dapat mengambil sekitar 720 foto setiap jam dengan waktu eksposur lima detik untuk setiap foto.<\/p>\n<p>Pengguna tidak harus menyimpan seluruh foto yang diambil. NightCap hanya menyimpan gambar yang dianggap mengandung meteor, sehingga ruang penyimpanan tidak terlalu cepat terpakai.<\/p>\n<p>Namun, pengambilan foto dalam jumlah besar tetap dapat menguras baterai iPhone. Karena itu, membawa baterai portabel menjadi langkah yang disarankan, terutama jika pengguna berencana melakukan pemotretan sepanjang malam.<\/p>\n<p>Setelah memperoleh foto meteor, proses tidak berhenti pada pengambilan gambar. Foto dapat diedit menggunakan aplikasi Photos bawaan iPhone maupun aplikasi pengeditan lainnya.<\/p>\n<p>Jika foto terlihat terlalu terang atau pudar, pengguna dapat menurunkan tingkat exposure. Sebaliknya, ketika gambar terlalu gelap, menaikkan exposure secara langsung dapat meningkatkan noise.<\/p>\n<p>Pengguna dapat mencoba meningkatkan bagian Highlights terlebih dahulu. Pengaturan Shadows juga dapat dinaikkan untuk mengembalikan detail pada area depan gambar yang terlalu gelap.<\/p>\n<p>Kontras juga dapat ditingkatkan untuk membuat foto terlihat lebih tegas. Namun, pengaturan tersebut sebaiknya dinaikkan secara bertahap karena peningkatan kontras yang berlebihan dapat membuat gambar terlihat tidak natural.<\/p>\n<p>Setelah itu, Black Point dapat disesuaikan untuk mengembalikan warna gelap pada langit. Pengaturan tersebut dapat membantu membuat langit malam terlihat lebih pekat sekaligus mempertahankan detail meteor dan bintang.<\/p>\n<p>Jika foto masih terlihat kurang tajam, pengguna dapat mencoba meningkatkan Definition dan Sharpness. Pengaturan tersebut juga sebaiknya dilakukan secara bertahap agar detail bintang dan meteor menjadi lebih jelas tanpa memperkuat noise.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, mendapatkan foto meteor yang bagus membutuhkan latihan. Pengguna dapat mencoba berbagai lokasi dan pengaturan untuk mengetahui kombinasi yang paling sesuai dengan model iPhone yang digunakan.<\/p>\n<p>Untuk hujan meteor Draconid kali ini, waktu pengamatan relatif terbatas. Puncaknya diperkirakan berlangsung sekitar pukul 21.00 waktu Eastern Time pada 8 Oktober, tetapi meteor masih dapat diamati hingga dini hari.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/teknologi\/597658\/cara-memotret-hujan-meteor-draconid-dengan-iphone\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; iPhone dapat digunakan untuk mengabadikan hujan meteor Draconid, tetapi hasil terbaik tidak cukup diperoleh dengan mengarahkan kamera ke langit dan menekan tombol rana. Pengguna membutuhkan lokasi minim polusi cahaya, tripod, serta aplikasi kamera yang mendukung pemotretan dengan eksposur panjang. Hujan meteor Draconid berlangsung setiap Oktober dan dapat diamati dari belahan Bumi utara. Puncak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":111309,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-111308","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 hours ago","modified":"4 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111308"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111308\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111309"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}