{"id":110373,"date":"2026-10-05T09:27:42","date_gmt":"2026-10-05T02:27:42","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/05\/danantara-dan-bumn-harus-jadi-mesin-pertumbuhan-ekonomi\/"},"modified":"2026-10-05T09:27:42","modified_gmt":"2026-10-05T02:27:42","slug":"danantara-dan-bumn-harus-jadi-mesin-pertumbuhan-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/05\/danantara-dan-bumn-harus-jadi-mesin-pertumbuhan-ekonomi\/","title":{"rendered":"Danantara dan BUMN Harus Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Jakarta \u2013 Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dinilai harus menjadi penggerak utama dalam mengubah cara negara mengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Danantara dan BUMN tidak cukup hanya mengejar efisiensi atau setoran dividen, tetapi juga harus mampu memperkuat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pandangan tersebut disampaikan Arief Poyuono, Komisaris Pelindo, dalam tulisannya mengenai rekayasa ulang BUMN melalui Danantara, pekan lalu. Menurut dia, pembentukan Danantara menjadi bagian dari upaya Indonesia menghadapi persaingan global dan mendorong perekonomian agar tidak terjebak dalam kelompok negara berpendapatan menengah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief menilai perubahan tata kelola BUMN semakin penting setelah Indonesia masuk kelompok negara berpenghasilan menengah atas. Pemerintah pun perlu melakukan revitalisasi dan penyederhanaan pada sektor-sektor strategis, termasuk BUMN.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cJika Anda tidak bisa memberikan hasil, silakan keluar,\u201d kata Presiden Prabowo Subianto pada 28 April 2025, seperti dikutip Arief dalam tulisannya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut Arief, pernyataan tersebut tidak hanya menjadi teguran kepada jajaran direksi BUMN. Lebih jauh, pesan itu menunjukkan perlunya perubahan budaya kerja di perusahaan milik negara.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cPesan itu bukan sekadar teguran. Itu adalah sebuah sinyal bahwa Indonesia telah resmi memasuki era baru tata kelola ekonomi,\u201d ungkap Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Danantara, menurut dia, perlu menjalankan perubahan dari pola pengelolaan yang bertumpu pada birokrasi anggaran menuju strategi permodalan. Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi BUMN tidak hanya dinilai dari besarnya anggaran yang digunakan, tetapi juga dari hasil dan dampaknya terhadap ekonomi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>844 BUMN<\/strong><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief menyebut konsolidasi 844 BUMN di bawah Danantara menjadi tantangan besar. Pemerintah harus memastikan perusahaan negara tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menjadi sumber kekuatan ekonomi nasional.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cDanantara harus memiliki doktrin transformasi dari birokrasi anggaran menuju strategi permodalan,\u201d papar Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut dia, strategi tersebut perlu menggunakan ukuran yang jelas. Beberapa di antaranya adalah tingkat pengembalian modal yang ditanamkan atau <em>Return on Invested Capital<\/em> (ROIC), dampak investasi terhadap produk domestik bruto (PDB), serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dengan demikian, kinerja setiap BUMN dapat dinilai secara lebih terukur. Perusahaan yang memiliki kinerja rendah juga dapat memperoleh langkah perbaikan yang sesuai, mulai dari penggabungan hingga pelepasan aset atau likuidasi.<\/p>\n<h3>Danantara dan BUMN<\/h3>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief menilai salah satu persoalan utama BUMN adalah rendahnya efisiensi dan produktivitas. Menurut bahan yang ditulisnya, hanya sekitar 30 persen BUMN Indonesia yang dinilai sehat secara finansial dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian pada 2023.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sementara itu, sekitar 70 persen lainnya disebut beroperasi dalam kondisi merugi atau masih bertahan dengan dukungan dana talangan dan subsidi pemerintah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief juga menyoroti besarnya Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN. Dia mencatat PMN kepada 17 BUMN mencapai Rp26,79 triliun. Kemudian, PMN pada 2025 tercatat Rp44,249 triliun untuk 16 BUMN.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Di sisi lain, setoran dividen BUMN pada 2025 mencapai Rp142,3 triliun. Angka tersebut meningkat 67 persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar Rp85,5 triliun. Presiden Prabowo juga menargetkan setoran dividen BUMN mencapai Rp200 triliun pada 2026 tanpa tambahan PMN.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief menilai pengelolaan modal negara harus semakin disiplin. Dana publik yang masuk ke BUMN harus menghasilkan manfaat yang terukur bagi negara dan masyarakat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cJika kita memperlakukan semuanya secara sama rata, kita akan merugi. Jika kita membela semuanya tanpa pandang bulu, kita akan mengalami stagnasi,\u201d ungkap Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut dia, perusahaan negara yang tidak produktif tidak bisa terus dipertahankan hanya karena statusnya sebagai BUMN. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki potensi strategis harus mendapat dukungan modal dan tata kelola yang lebih baik.<\/p>\n<h3>Klasterisasi menjadi bagian dari reformasi BUMN<\/h3>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Selanjutnya, Arief mengusulkan pembentukan klaster strategis dalam pengelolaan BUMN. Pengelompokan dapat dilakukan berdasarkan sektor, seperti energi, logistik, digital, manufaktur, pangan, dan keuangan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Setiap klaster, kata dia, perlu memiliki target laba-rugi serta strategi sektoral yang selaras dengan tujuan nasional. Dengan cara tersebut, hubungan antar-BUMN dalam satu sektor dapat menjadi lebih terarah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cSetiap klaster harus memiliki CEO, target laba-rugi (P&amp;L), dan strategi sektoral tersendiri yang selaras dengan tujuan nasional,\u201d tutur Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Selain klasterisasi, disiplin modal juga menjadi bagian penting dalam reformasi. Arief mengusulkan agar setiap BUMN dinilai berdasarkan ROIC, dampak pengganda terhadap PDB, serta kemampuan menghasilkan arus kas.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dia juga mendorong perombakan sistem manajemen. Menurut Arief, pengisian posisi pimpinan BUMN harus lebih mengutamakan kemampuan dan kinerja.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cGanti direktur yang ditunjuk secara politis dengan kepemimpinan berbasis kinerja,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dengan pola tersebut, pengelolaan BUMN diharapkan lebih fokus pada target dan hasil. Selain itu, manajemen juga memiliki ukuran yang jelas untuk mempertanggungjawabkan penggunaan modal negara.<\/p>\n<h3>Danantara Menjadi Arsitek Modal<\/h3>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief juga menempatkan Danantara sebagai arsitek modal dalam transformasi BUMN. Dalam pandangannya, Danantara harus berperan sebagai investor aktif yang memilih sektor dan proyek berdasarkan manfaat strategis serta potensi imbal hasil.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cDanantara harus bertindak layaknya investor aktif untuk mengalokasikan modal hanya pada sektor yang memberikan imbal hasil strategis,\u201d usul Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut dia, pendekatan tersebut dapat mengubah fungsi Danantara dari sekadar pengelola aset menjadi lembaga yang aktif mengarahkan modal negara.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Selain itu, Arief mendorong pemanfaatan aset BUMN yang selama ini belum optimal. Aset yang menganggur harus dapat digunakan untuk menciptakan nilai ekonomi baru.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pendekatan ini juga berkaitan dengan rencana pelepasan saham perdana atau <em>initial public offering<\/em> (IPO) bagi BUMN besar. Arief menyebut perusahaan berskala <em>Lighthouse Company<\/em> dapat masuk ke pasar modal untuk mendapatkan pendanaan sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cLangkah ini tidak sekadar mencari pendanaan segar, melainkan bertindak sebagai stimulus untuk mendalamkan pasar keuangan domestik dan menarik aliran modal asing,\u201d tulisnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dengan demikian, IPO BUMN tidak hanya dipandang sebagai sumber dana. Langkah tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan transparansi dan memperluas kepemilikan publik.<\/p>\n<h3>Akuntabilitas BUMN<\/h3>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Selain perubahan struktur dan pengelolaan modal, Arief menilai transparansi menjadi bagian penting dari reformasi Danantara dan BUMN.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dia mengusulkan adanya dasbor akuntabilitas publik yang menampilkan kinerja perusahaan, modal yang disalurkan, serta imbal hasil yang diperoleh.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut Arief, sejumlah indikator perlu dipublikasikan. Indikator tersebut antara lain ROIC dibandingkan dengan biaya modal, dampak investasi terhadap PDB, keberlanjutan arus kas, rasio utang terhadap ekuitas, efisiensi operasional, penciptaan lapangan kerja, dampak lingkungan, dan tingkat ketergantungan terhadap subsidi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cPapan skor ini sebaiknya mencakup berbagai metrik seperti <em>Return on Invested Capital<\/em> (ROIC) dibandingkan dengan tolok ukur biaya modal,\u201d tulis Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sementara itu, pengukuran juga perlu melihat dampak ekonomi dari setiap investasi. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat mengetahui apakah modal negara benar-benar menghasilkan manfaat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief menegaskan bahwa reformasi BUMN tidak semata-mata bertujuan menghasilkan keuntungan. Menurut dia, BUMN harus menjadi instrumen untuk memperkuat perekonomian dan posisi Indonesia.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cKami tidak menyerukan privatisasi. Kami menyerukan kapitalisme negara yang strategis,\u201d tulisnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dalam kerangka tersebut, Danantara dan BUMN diarahkan untuk menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan dividen, tetapi juga memperbesar kapasitas ekonomi dan menciptakan manfaat jangka panjang.<\/p>\n<h3>Tata kelola dan Business Judgement Rule<\/h3>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Arief juga menyoroti persoalan hukum dalam pengelolaan BUMN. Menurut dia, kerugian perusahaan negara tidak selalu berarti adanya tindak pidana. Kerugian dapat terjadi sebagai bagian dari risiko keputusan bisnis.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, penerapan Business Judgement Rule (BJR) dinilai penting dalam memberikan perlindungan bagi direksi yang mengambil keputusan secara benar berdasarkan tata kelola yang baik.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Namun, perlindungan tersebut tidak berlaku apabila keputusan diambil dengan konflik kepentingan atau tanpa tata kelola yang baik.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cApabila BUMN mengalami kerugian dan kebijakan diambil secara benar melalui tata kelola yang baik dan tidak terjadi <em>conflict of interest<\/em>, maka pengambil kebijakan atau direksi BUMN tidak dipersalahkan,\u201d ujar Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dengan demikian, reformasi tata kelola harus berjalan bersama dengan penguatan pengawasan. Direksi harus memiliki ruang untuk mengambil keputusan bisnis, tetapi pada saat yang sama harus dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pada akhirnya, Arief menilai transformasi BUMN melalui Danantara tidak boleh berhenti pada efisiensi keuangan. Pengelolaan aset negara juga harus diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan manfaat bagi generasi berikutnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">\u201cDanantara dibentuk bertujuan untuk membangun bangsa melalui modal,\u201d tambah Arief.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut dia, era baru pengelolaan BUMN harus ditandai dengan pengelolaan aset negara yang profesional, produktif, transparan, dan berorientasi pada hasil.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Danantara perlu segera memperkuat tata kelola entitas milik negara. Penguatan kapasitas kelembagaan, pengawasan dan audit, serta akses informasi publik dinilai penting untuk menjaga mekanisme checks and balances.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan tersebut, Danantara diharapkan tidak hanya menjaga kekayaan negara. Lebih dari itu, Danantara dan BUMN diharapkan mampu mengubah aset negara menjadi modal produktif yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/597027\/arief-poyuono-danantara-dan-bumn-harus-jadi-mesin-pertumbuhan-ekonomi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dinilai harus menjadi penggerak utama dalam mengubah cara negara mengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Danantara dan BUMN tidak cukup hanya mengejar efisiensi atau setoran dividen, tetapi juga harus mampu memperkuat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Pandangan tersebut disampaikan Arief Poyuono, Komisaris Pelindo, dalam tulisannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110374,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-110373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}