{"id":109811,"date":"2026-10-02T15:35:22","date_gmt":"2026-10-02T08:35:22","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/02\/mengeluh-bisa-bikin-lega-tapi-jika-keseringan-justru-menambah-stres\/"},"modified":"2026-10-02T15:35:22","modified_gmt":"2026-10-02T08:35:22","slug":"mengeluh-bisa-bikin-lega-tapi-jika-keseringan-justru-menambah-stres","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/02\/mengeluh-bisa-bikin-lega-tapi-jika-keseringan-justru-menambah-stres\/","title":{"rendered":"Mengeluh Bisa Bikin Lega, tapi Jika Keseringan Justru Menambah Stres"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Mengeluh tidak selalu buruk. Sesekali meluapkan kekesalan justru bisa membantu seseorang melepaskan emosi dan mencari jalan keluar. Masalah muncul ketika keluhan menjadi kebiasaan karena dapat memperkuat pikiran negatif, meningkatkan stres, bahkan mengganggu hubungan dengan orang lain.<\/p>\n<p>Psikolog kesehatan klinis Kerry Cannity mengatakan mengeluh bisa bermanfaat jika dilakukan untuk mengungkapkan emosi dan memahami masalah yang sedang dihadapi.<\/p>\n<p>\u201cMengeluh bisa bermanfaat jika hal itu memungkinkan kita meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, dan memulai proses pemecahan masalah,\u201d kata Cannity, disitat dari Antara dari Real Simple, Jumat, 2 Oktober.<\/p>\n<p>Memendam atau menyangkal emosi negatif juga bukan pilihan yang selalu lebih baik. Sejumlah penelitian menunjukkan menahan emosi dapat berdampak buruk terhadap daya ingat, hubungan sosial, bahkan kesehatan jantung.<\/p>\n<p>Berbicara dengan orang yang bersedia mendengarkan bisa membuat seseorang merasa dipahami dan lebih tenang.<\/p>\n<p>\u201cTerutama jika mereka tidak langsung berusaha memperbaiki masalah atau menyuruh kita untuk tidak merasa demikian,\u201d kata terapis Sarah Close.<\/p>\n<p>Batas antara mengeluh secara sehat dan berlebihan, menurut Cannity, salah satunya terletak pada frekuensi. Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut dapat mendorong seseorang semakin fokus pada hal-hal negatif.<\/p>\n<p>\u201cJika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif,\u201d ujarnya.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Cannity mengatakan kondisi itu dapat meningkatkan perhatian terhadap hal yang memicu kemarahan atau ketakutan dan pada akhirnya meningkatkan hormon stres.<\/p>\n<p>Menurut penelitian yang dikutip dalam publikasi tersebut, saat mengeluh otak melepaskan kortisol. Jika berlebihan, hormon stres ini dapat berdampak buruk pada kualitas tidur, tekanan darah, metabolisme, dan fungsi tubuh lainnya.<\/p>\n<p>Artikel tersebut juga merujuk studi Universitas Stanford pada 1996 yang menyebut mengeluh atau mendengarkan keluhan orang lain selama setengah jam atau lebih dapat mengecilkan hipokampus, bagian otak yang berperan dalam ingatan dan pengaturan emosi.<\/p>\n<p>Dampaknya bukan hanya pada diri sendiri. Kebiasaan terus-menerus mengeluh juga dapat membuat hubungan dengan orang lain terganggu.<\/p>\n<p>\u201cJika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut,\u201d kata terapis hubungan Mary McLaughlin.<\/p>\n<p>Close menyarankan seseorang memperhatikan perasaannya setelah mengeluh. Ukurannya sederhana, apakah setelah bercerita merasa lebih dipahami dan mendapatkan kejelasan, atau justru kembali berkutat pada rasa kesal yang sama.<\/p>\n<p>\u201cApakah saya merasa lebih dipahami atau lebih jelas, atau justru menghidupkan kembali rasa frustrasi dan kembali masuk ke lingkaran yang sama?\u201d ujar Close.<\/p>\n<p>Jika keluhan membantu memahami masalah atau mencari solusi, mengeluh bisa memberikan manfaat. Namun, jika hanya membuat rasa kesal terus berputar, frekuensinya sebaiknya dikurangi.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/lifestyle\/596703\/mengeluh-bisa-bikin-lega-tapi-jika-keseringan-justru-menambah-stres\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Mengeluh tidak selalu buruk. Sesekali meluapkan kekesalan justru bisa membantu seseorang melepaskan emosi dan mencari jalan keluar. Masalah muncul ketika keluhan menjadi kebiasaan karena dapat memperkuat pikiran negatif, meningkatkan stres, bahkan mengganggu hubungan dengan orang lain. Psikolog kesehatan klinis Kerry Cannity mengatakan mengeluh bisa bermanfaat jika dilakukan untuk mengungkapkan emosi dan memahami masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109812,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-109811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"19 hours ago","modified":"19 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109811"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109811\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}