{"id":109606,"date":"2026-10-01T17:31:18","date_gmt":"2026-10-01T10:31:18","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/01\/anak-makin-dekat-dengan-ai-orang-tua-perlu-jadi-teman-berdiskusi\/"},"modified":"2026-10-01T17:31:18","modified_gmt":"2026-10-01T10:31:18","slug":"anak-makin-dekat-dengan-ai-orang-tua-perlu-jadi-teman-berdiskusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/10\/01\/anak-makin-dekat-dengan-ai-orang-tua-perlu-jadi-teman-berdiskusi\/","title":{"rendered":"Anak Makin Dekat dengan AI, Orang Tua Perlu Jadi Teman Berdiskusi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA \u2013 Dulu, orang tua mungkin cukup mengingatkan anak agar tidak terlalu lama bermain gawai. Kini, tantangannya semakin berbeda dan terus berkembang.<\/p>\n<p>Anak dan remaja bukan hanya menggunakan perangkat digital untuk bermain atau bersosialisasi, tetapi juga mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/1834\/artificial-intelligence\">artificial intelligence<\/a> (AI) dalam keseharian.<\/p>\n<p>AI dapat digunakan untuk mencari informasi, membantu memahami pelajaran, mencari ide, hingga mendukung berbagai aktivitas. Bagi remaja yang tumbuh bersama teknologi, kehadiran AI pun bisa terasa sebagai sesuatu yang biasa.<\/p>\n<p>Di sisi lain, tidak semua orang tua merasa memiliki pemahaman yang sama mengenai teknologi tersebut.<\/p>\n<p>Survei global yang dilakukan UNICRI pada 2025 terhadap 160 orang tua dari 19 negara menunjukkan 44 persen responden merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing anak menggunakan AI secara aman.<\/p>\n<p>Hampir separuh responden juga mengaku belum pernah membicarakan AI dengan anak mereka. Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan AI dalam keluarga bukan hanya tentang membatasi penggunaan teknologi.<\/p>\n<p>Ada kebutuhan untuk membangun komunikasi agar orang tua memahami bagaimana anak menggunakan AI dan anak memiliki ruang untuk bercerita mengenai pengalamannya.<\/p>\n<p>Perkembangan teknologi yang cepat bisa membuat orang tua merasa perlu mengejar banyak hal sekaligus. Mulai dari memahami cara kerja AI hingga mengetahui berbagai risiko yang mungkin muncul.<\/p>\n<p>Namun, pendampingan tidak selalu berarti orang tua harus memahami setiap fitur atau menjadi ahli teknologi.<\/p>\n<p>Yang lebih penting adalah mengetahui kapan anak membutuhkan bantuan, bagaimana mengajaknya berdiskusi, dan membangun kebiasaan untuk memeriksa kembali informasi yang diperoleh dari AI.<\/p>\n<p>&#8220;Mendampingi remaja di tengah perkembangan AI bukan berarti orang tua harus selalu memiliki semua jawabannya. Hal yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar bersama, mendengarkan bagaimana remaja menggunakan AI, dan membuka ruang bagi mereka untuk bercerita tentang pengalaman tersebut. PandAI dapat menjadi titik awal bagi keluarga untuk membangun kebiasaan tersebut dan menentukan cara menggunakan AI yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing,\u201d ujar Damar Wahyu Wijayanti, Parenting Educator dan Co-Founder, Good Enough Parents.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan seperti itu, pembicaraan mengenai AI tidak harus selalu dimulai dari larangan. Orang tua dapat memulainya melalui percakapan sederhana, misalnya menanyakan AI digunakan untuk apa, bagaimana anak mengetahui sebuah jawaban benar, atau apa yang dilakukan ketika mendapatkan informasi yang terasa janggal.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut penting karena AI tidak selalu memberikan informasi yang benar. UNICRI juga menekankan pentingnya membantu anak memahami keterbatasan AI, termasuk potensi bias dan kesalahan informasi.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Berbicara mengenai penggunaan teknologi oleh anak, pengawasan sering kali menjadi perhatian utama orang tua. Namun, terlalu menekankan kontrol tanpa komunikasi berpotensi membuat anak justru enggan bercerita.<\/p>\n<p>Pendekatan yang lebih terbuka dapat membantu orang tua mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan anak ketika menggunakan AI.<\/p>\n<p>Hal tersebut juga berkaitan dengan privasi. Remaja perlu memahami bahwa informasi pribadi tidak seharusnya dibagikan sembarangan kepada layanan digital. Mereka juga perlu mengetahui bahwa ada situasi tertentu ketika jawaban dari AI sebaiknya tidak langsung dipercaya atau dijadikan dasar untuk mengambil keputusan.<\/p>\n<p>Karena itu, literasi AI dalam keluarga bukan hanya mengenai cara menggunakan teknologi. Anak juga perlu belajar mempertanyakan informasi, memahami batasan, menjaga privasi, dan mengetahui kapan harus meminta bantuan manusia.<\/p>\n<p>Prinsip tersebut sejalan dengan panduan literasi AI untuk keluarga yang dikembangkan UNICRI. Panduan tersebut mendorong orang tua untuk berkomunikasi, belajar bersama anak, menjelaskan risiko, serta menetapkan batasan yang sesuai.<\/p>\n<p>Perubahan pola penggunaan teknologi membuat hubungan anak dengan AI juga menjadi bagian dari dinamika keluarga. <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/8032\/openai\">OpenAI<\/a> sebelumnya memperkenalkan pengalaman ChatGPT untuk Remaja dengan perlindungan yang disesuaikan bagi pengguna berusia di bawah 18 tahun.<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut mencakup sejumlah perlindungan dan fitur tambahan untuk mendukung penggunaan AI yang lebih sehat, termasuk dukungan bagi orang tua melalui fitur pengawasan.<\/p>\n<p>Dalam pengaturan tersebut, orang tua dapat mengelola sejumlah pilihan tertentu dan menerima notifikasi keamanan dalam kondisi terbatas, tetapi tidak mendapatkan akses ke percakapan pribadi remaja.<\/p>\n<p>Di Indonesia, pendekatan pendampingan keluarga juga diperkenalkan melalui PandAI untuk Keluarga (Panduan Praktis AI untuk Keluarga). Panduan tersebut dikembangkan bersama Good Enough Parents untuk membantu orang tua dan remaja membangun kebiasaan menggunakan AI secara lebih aman dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Salah satu bagian yang ditawarkan adalah Kartu mAIn, yang dapat digunakan sebagai pemantik percakapan mengenai berpikir kritis, privasi, serta situasi ketika anak membutuhkan dukungan dari orang lain.<\/p>\n<p>Pembicaraan mengenai AI dapat ditempatkan sebagai bagian dari pola pengasuhan sehari-hari, bukan sekadar persoalan teknologi.<\/p>\n<p>Di tengah semakin banyaknya teknologi yang dapat memberikan jawaban secara instan, hubungan antara orang tua dan anak justru menjadi bagian yang tidak dapat digantikan begitu saja.<\/p>\n<p>AI dapat membantu memberikan informasi atau ide, tetapi anak tetap membutuhkan orang dewasa yang dapat memahami konteks kehidupannya, mendengarkan pengalaman mereka, dan membantu mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks.<\/p>\n<p>&#8220;AI dapat membuka berbagai peluang bagi generasi muda untuk belajar dan mengeksplorasi hal baru. Di saat yang sama, orang tua tentu ingin tetap merasa yakin bahwa AI digunakan dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat. Keluarga tidak perlu memilih antara akses terhadap teknologi dan keamanan karena keduanya dapat berjalan beriringan.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Karena itu, keterlibatan orang tua tetap penting untuk menciptakan ruang yang terbuka bagi remaja untuk berdiskusi dan menentukan batasan bersama. Melalui PandAI, kami berharap semakin banyak keluarga yang merasa lebih siap untuk menjalani proses ini bersama,\u201d ujar Head of Policy, Southeast Asia, OpenAI, Sandy Kunvatanagarn.<\/p>\n<p>Hal serupa disampaikan Pritta Tyas Mangestuti, Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder, Good Enough Parents. Menurutnya, remaja masih berada dalam proses belajar mengenali batasan dan mengambil keputusan secara mandiri.<\/p>\n<p>&#8220;Kehadiran perlindungan yang disesuaikan bagi remaja, seperti yang diterapkan OpenAI dalam ChatGPT untuk Remaja, menjadi langkah positif untuk melengkapi peran orang tua dalam mendampingi penggunaan AI. Teknologi dapat membantu menciptakan ruang yang lebih aman, tetapi keterlibatan orang tua tetap penting agar remaja memiliki tempat untuk bertanya dan mencari dukungan ketika membutuhkannya,\u201d ujar Pritta.<\/p>\n<p>Mendampingi anak di era AI mungkin tidak membutuhkan orang tua yang selalu selangkah lebih maju dalam memahami teknologi, lalu yang dibutuhkan adalah kemauan untuk tetap hadir di tengah kebutuhan tersebut.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/lifestyle\/596559\/anak-makin-dekat-dengan-ai-orang-tua-perlu-jadi-teman-berdiskusi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Dulu, orang tua mungkin cukup mengingatkan anak agar tidak terlalu lama bermain gawai. Kini, tantangannya semakin berbeda dan terus berkembang. Anak dan remaja bukan hanya menggunakan perangkat digital untuk bermain atau bersosialisasi, tetapi juga mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam keseharian. AI dapat digunakan untuk mencari informasi, membantu memahami pelajaran, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109607,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-109606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}