{"id":109116,"date":"2026-09-29T15:43:21","date_gmt":"2026-09-29T08:43:21","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/29\/mural-hingga-garuda-led-begini-cara-warga-memaknai-kemerdekaan-lewat-gapura\/"},"modified":"2026-09-29T15:43:21","modified_gmt":"2026-09-29T08:43:21","slug":"mural-hingga-garuda-led-begini-cara-warga-memaknai-kemerdekaan-lewat-gapura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/29\/mural-hingga-garuda-led-begini-cara-warga-memaknai-kemerdekaan-lewat-gapura\/","title":{"rendered":"Mural hingga Garuda LED, Begini Cara Warga Memaknai Kemerdekaan Lewat Gapura"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Semangat <a href=\"https:\/\/voi.id\/tag\/4668\/kemerdekaan-indonesia\">kemerdekaan<\/a> pada Agustus tahun ini begitu terlihat dalam Lomba Hias Gapura yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Waktunya Ngeteh Indonesia.<\/p>\n<p>Sekitar 500 karya yang dikirimkan masyarakat dari berbagai daerah, sebanyak 178 perumahan atau lingkungan mendapatkan dukungan untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Ada yang memilih mural untuk menceritakan kehidupan warga, menggunakan bambu sebagai simbol kebersamaan, hingga memadukan ornamen tradisional dengan teknologi modern.<\/p>\n<p>Tiga karya yang menjadi pemenang utama dalam agenda Waktunya Ngeteh Indonesia dan memperlihatkan bagaimana sebuah gapura dapat menjadi cerminan karakter lingkungan sekaligus ruang untuk menuangkan kreativitas warga.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program ini digagas oleh produsen teh SariWangi dalam merayakan 17 Agustus melalui serangkaian kegiatan, antara lain video yang mengangkat beragam tradisi perayaan kemerdekaan di berbagai daerah, perayaan Hari Kemerdekaan bersama mitra petani, serta Pesta Rakyat SariWangi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diikuti oleh ratusan peserta. <\/span><\/p>\n<p>Di Bandung, misalnya, warga tidak berhenti pada dekorasi bagian depan gapura. Mereka menambahkan mural di sepanjang tembok gang yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk aktivitas saling membantu dan menjaga lingkungan.<\/p>\n<p>&#8220;Selain gapura, kami juga ingin membuat sesuatu yang lebih tahan lama, jadi kami sepakat bikin mural di sepanjang tembok gang yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga di sini, bagaimana kami saling bantu dan jaga lingkungan bareng-bareng ditemani dengan teh. Semua ini bisa diwujudkan karena gotong royong warga, semua turun tangan bantu sesuai kemampuan masing-masing. Bagi saya kemenangan ini jadi pengingat soal semangat kebersamaan warga disini,&#8221; ujar Samsul Huda M, Pemenang Pertama Lomba Gapura Waktunya Ngeteh Indonesia dari Bandung dalam keterangan pers Sariwangi kepada VOI, Selasa, 29 September.<\/p>\n<p>Berbeda lagi dengan warga Yogyakarta yang memilih bambu sebagai material utama gapura. Material yang dekat dengan kehidupan masyarakat tersebut dipadukan dengan bentuk secangkir teh sebagai simbol kehangatan dan aktivitas berkumpul.<\/p>\n<p>&#8220;Kami memilih secangkir teh sebagai simbol kehangatan, karena minum teh itu sederhana tapi sering jadi awal untuk berkumpul antar warga. Kami juga menggunakan bambu sebagai material utama, satu batang mungkin terlihat biasa, tapi kalau disatukan jadi kuat, seperti warga disini. Gapura ini bukan cuma soal pintu masuk yang indah, tapi cerita bagaimana sesuatu yang sederhana bisa jadi luar biasa kalau dikerjakan bersama,\u201d ujar Muh Rohmadi, Pemenang Kedua Lomba tersebut dari Yogyakarta.<\/p>\n<p>Sementara di Malang, kreativitas warga terlihat dari penggunaan figur Garuda bersayap lebar yang dipadukan dengan papan LED berjalan. Perpaduan tersebut memberikan sentuhan modern pada simbol yang identik dengan semangat kemerdekaan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami ingin gapura ini terlihat beda, makanya kami coba memadukan figur burung Garuda yang cukup besar dengan tulisan LED berjalan. Ini menandakan hasil kerja keras warga, semua dikerjakan bersama-sama,\u201d ujar Didik, Pemenang Ketiga dari Malang.<\/p>\n<figure class=\"image\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" title=\"Lomba Gapura\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/596206\/body_image_2026092915.png\" alt=\"Lomba Gapura\"\/><figcaption>Juara 2 Lomba Gapura. (dok. Sariwangi)<\/figcaption><\/figure>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Tiga karya tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dalam merayakan kemerdekaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang seragam. Setiap lingkungan dapat mengambil elemen yang dekat dengan kehidupan mereka dan mengubahnya menjadi bagian dari dekorasi perayaan.<\/p>\n<p>Bahkan, proses pembuatannya bisa menjadi cerita tersendiri. Ada warga yang memiliki kemampuan menggambar, ada yang menguasai pekerjaan teknis, sementara yang lain membantu menyediakan material atau sekadar meluangkan waktu untuk mengerjakannya bersama.<\/p>\n<p>Dalam konteks inilah, gapura menjadi lebih dari sekadar dekorasi musiman. Ia menjadi ruang bersama yang mempertemukan warga dengan berbagai latar belakang melalui sebuah kegiatan sederhana.<\/p>\n<p>Brand Manager SariWangi, Irene Limantara, mengatakan, lomba hias gapura adalah salah satu simbol kegiatan yang memperlihatkan nilai karakter kekuatan masyarakat Indonesia yaitu gotong royong dan kebersamaan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami bangga melihat betapa antusiasnya warga dari berbagai daerah, mereka bersatu, berkumpul bersama, bertukar pikiran dan bekerja sama mewujudkan gapura yang mempresentasi warganya. Inilah semangat yang ingin terus dihadirkan oleh SariWangi yakni menemani seluruh momen kebersamaan masyarakat Indonesia,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Selain tiga pemenang utama, apresiasi juga diberikan kepada lima pemenang favorit dan lima pemenang Most Likes. Para pemenang berasal dari sejumlah kota, termasuk Palembang, Makassar, Samarinda, Jakarta, Bandung, Banjarmasin, dan Malang.<\/p>\n<p>Rangkaian Waktunya Ngeteh Indonesia sendiri turut mengangkat berbagai bentuk perayaan kemerdekaan di sejumlah daerah. Kegiatan tersebut mencakup cerita mengenai tradisi lokal, perayaan bersama mitra petani, hingga Pesta Rakyat di Taman Mini Indonesia Indah.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/lifestyle\/596206\/mural-hingga-garuda-led-begini-cara-warga-memaknai-kemerdekaan-lewat-gapura\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Semangat kemerdekaan pada Agustus tahun ini begitu terlihat dalam Lomba Hias Gapura yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Waktunya Ngeteh Indonesia. Sekitar 500 karya yang dikirimkan masyarakat dari berbagai daerah, sebanyak 178 perumahan atau lingkungan mendapatkan dukungan untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. Ada yang memilih mural untuk menceritakan kehidupan warga, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":109117,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-109116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109116\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}