{"id":108942,"date":"2026-09-28T20:33:11","date_gmt":"2026-09-28T13:33:11","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/28\/bi-kurangi-jual-dolar-untuk-jaga-rupiah-intervensi-pasar-spot-kini-tinggal-30-persen\/"},"modified":"2026-09-28T20:33:11","modified_gmt":"2026-09-28T13:33:11","slug":"bi-kurangi-jual-dolar-untuk-jaga-rupiah-intervensi-pasar-spot-kini-tinggal-30-persen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/28\/bi-kurangi-jual-dolar-untuk-jaga-rupiah-intervensi-pasar-spot-kini-tinggal-30-persen\/","title":{"rendered":"BI Kurangi Jual Dolar untuk Jaga Rupiah, Intervensi Pasar Spot Kini Tinggal 30 Persen"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Bank Indonesia (BI) mengubah strategi menjaga nilai tukar rupiah dengan mengurangi intervensi langsung melalui penjualan dolar AS. Porsi transaksi di pasar spot kini tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi BI. Langkah ini ditempuh karena penjualan dolar secara langsung dinilai mahal dan menguras cadangan devisa.<\/p>\n<p>Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral kini lebih banyak menggunakan instrumen lain, yakni Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF), untuk meredam tekanan terhadap rupiah.<\/p>\n<p>&#8220;Kita intervensi pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal. Intervensi yang mahal itu adalah melalui spot. Melalui spot sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi yang kami lakukan,&#8221; kata Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Senin, 28 September.<\/p>\n<p>Intervensi spot dilakukan dengan membeli atau menjual valuta asing secara langsung di pasar. Ketika BI menjual dolar untuk menjaga rupiah, transaksi tersebut mengurangi cadangan devisa yang dimiliki bank sentral.<\/p>\n<p>Berbeda dengan spot, DNDF dan NDF merupakan kontrak transaksi valuta asing yang penyelesaiannya dilakukan berdasarkan selisih nilai tukar, tanpa penyerahan dolar secara langsung. Dengan instrumen ini, BI dapat menjaga stabilitas rupiah tanpa selalu menjual dolar dari cadangan devisanya.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Menurut Destry, pengembangan DNDF dan NDF memberikan hasil yang dinilai lebih efektif dalam menjaga nilai tukar.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau dulu dominannya spot karena kita langsung jual dolar dan itu langsung menggerus cadangan devisa kita. Tapi dengan kita mulai mengembangkan pertama di DNDF dulu, kemudian NDF, nah ini ternyata bisa lebih efektif,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Meski strategi intervensi berubah, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Destry mengakui masih terdapat persoalan struktural pada sektor eksternal yang memengaruhi stabilitas nilai tukar.<\/p>\n<p>Karena itu, BI bersama pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) membahas upaya memperkuat sektor eksternal, terutama melalui peningkatan ekspor dan investasi. Investasi yang dibidik tidak hanya berupa pembelian saham atau surat utang, tetapi juga investasi langsung di sektor usaha.<\/p>\n<p>Untuk menarik investasi portofolio, BI memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging cost. Fasilitas ini bertujuan membantu investor mengurangi risiko akibat perubahan kurs.<\/p>\n<p>Insentif tersebut kini juga dapat dimanfaatkan untuk pinjaman luar negeri yang digunakan mendukung kegiatan kredit maupun investasi.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau untuk portfolio investment itu kami sudah melakukan dengan apa yang kami berikan hedging cost tersebut,&#8221; kata Destry.<\/p>\n<p>Namun, insentif tersebut tidak akan berlaku tanpa batas waktu. BI akan terus mengevaluasi kebutuhan dan dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar berdasarkan perkembangan data.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi memang ini kebijakan yang temporary. Kita akan data dependent, lihat seberapa besar ini masih diperlukan dan dampaknya juga keseluruhan,&#8221; ujar Destry.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/ekonomi\/596064\/bi-kurangi-jual-dolar-untuk-jaga-rupiah-intervensi-pasar-spot-kini-tinggal-30-persen\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Bank Indonesia (BI) mengubah strategi menjaga nilai tukar rupiah dengan mengurangi intervensi langsung melalui penjualan dolar AS. Porsi transaksi di pasar spot kini tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi BI. Langkah ini ditempuh karena penjualan dolar secara langsung dinilai mahal dan menguras cadangan devisa. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral kini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108943,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-108942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"4 hours ago","modified":"4 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108942"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108942\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}