{"id":108761,"date":"2026-09-28T01:20:52","date_gmt":"2026-09-27T18:20:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/28\/penelitian-ungkap-pembatasan-gula-sejak-bayi-berkaitan-dengan-risiko-kecemasan-lebih-rendah-saat-dewasa\/"},"modified":"2026-09-28T01:20:52","modified_gmt":"2026-09-27T18:20:52","slug":"penelitian-ungkap-pembatasan-gula-sejak-bayi-berkaitan-dengan-risiko-kecemasan-lebih-rendah-saat-dewasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/28\/penelitian-ungkap-pembatasan-gula-sejak-bayi-berkaitan-dengan-risiko-kecemasan-lebih-rendah-saat-dewasa\/","title":{"rendered":"Penelitian Ungkap Pembatasan Gula Sejak Bayi Berkaitan dengan Risiko Kecemasan Lebih Rendah Saat Dewasa"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Asupan gula pada awal kehidupan ternyata berkaitan dengan kondisi kesehatan mental hingga puluhan tahun kemudian. Penelitian terhadap lebih dari 45.000 orang menemukan bahwa mereka yang paling lama mengalami pembatasan gula sejak dalam kandungan memiliki risiko kecemasan 33 persen lebih rendah saat dewasa.<\/p>\n<p>Menurut Euronews, dikutip Minggu, 27 September, temuan tersebut berasal dari penelitian University of Surrey, Inggris, yang diterbitkan dalam jurnal Translational Psychiatry. Para peneliti memanfaatkan data kesehatan orang-orang yang lahir antara 1951 dan 1956, ketika Inggris masih menerapkan penjatahan gula hingga beberapa tahun setelah kebijakan itu berakhir.<\/p>\n<p>Inggris memberlakukan penjatahan gula sejak 1940 hingga 1953. Pada masa itu, jatah gula orang dewasa dibatasi sekitar 40 gram per hari.<\/p>\n<p>Para peneliti membandingkan orang-orang yang mengalami penjatahan gula sejak dalam kandungan hingga usia enam, 12, 18, dan 24 bulan. Mereka juga meneliti kelompok yang hanya mengalami pembatasan saat dalam kandungan serta kelompok yang tidak pernah mengalaminya.<\/p>\n<p>Hasilnya, mereka yang paling lama mengalami penjatahan gula cenderung kurang menyukai makanan manis. Kelompok ini juga memiliki risiko kecemasan 33 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami pembatasan.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Perbedaan terlihat pula pada usia ketika gangguan kecemasan mulai muncul. Pada kelompok yang paling lama mengalami penjatahan gula, usia tengah atau median saat kecemasan muncul sekitar 62 tahun. Sementara itu, pada kelompok tanpa pembatasan, angkanya sekitar 55 tahun.<\/p>\n<p>Para peneliti juga menemukan hubungan antara penjatahan gula dan munculnya depresi pada usia yang lebih tua. Namun, hubungan tersebut melemah setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain.<\/p>\n<p>Menariknya, konsumsi gula meningkat pesat setelah pemerintah Inggris mengakhiri kebijakan penjatahan. Meski demikian, hubungan antara pembatasan gula pada awal kehidupan dan risiko kecemasan yang lebih rendah masih terlihat bertahun-tahun kemudian.<\/p>\n<p>&#8220;Meskipun konsumsi gula para peserta meningkat setelah penjatahan berakhir, kondisi gizi pada awal kehidupan tampaknya tetap memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kesehatan mental,&#8221; kata Nophar Geifman, profesor University of Surrey sekaligus penulis senior penelitian.<\/p>\n<p>Para peneliti menaruh perhatian pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa pembuahan hingga sekitar usia dua tahun. Periode tersebut merupakan masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak.<\/p>\n<p>Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dapat mengurangi kepadatan dan ketersediaan neuron serotonin, yakni sel saraf yang berperan dalam mengatur suasana hati.<\/p>\n<p>Pembatasan gula pada awal kehidupan diduga dapat membantu melindungi jalur saraf tersebut. Namun, dugaan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.<\/p>\n<p>&#8220;Memahami sepenuhnya dampak gula terhadap kesehatan fisik dan mental kita sepanjang hidup dapat membantu penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat dan mengubah pola makan kita,&#8221; ujar Hana Navratilova, penulis utama penelitian.<\/p>\n<p>Penelitian ini bersifat observasional, yakni mengamati hubungan antara kondisi pada awal kehidupan dan kesehatan peserta saat dewasa. Karena itu, temuan tersebut belum membuktikan bahwa konsumsi gula pada masa kanak-kanak secara langsung menyebabkan gangguan kecemasan.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/info-sehat\/595935\/penelitian-ungkap-pembatasan-gula-sejak-bayi-berkaitan-dengan-risiko-kecemasan-lebih-rendah-saat-dewasa\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Asupan gula pada awal kehidupan ternyata berkaitan dengan kondisi kesehatan mental hingga puluhan tahun kemudian. Penelitian terhadap lebih dari 45.000 orang menemukan bahwa mereka yang paling lama mengalami pembatasan gula sejak dalam kandungan memiliki risiko kecemasan 33 persen lebih rendah saat dewasa. Menurut Euronews, dikutip Minggu, 27 September, temuan tersebut berasal dari penelitian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108762,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-108761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"7 hours ago","modified":"7 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108761\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}