{"id":108606,"date":"2026-09-27T08:44:16","date_gmt":"2026-09-27T01:44:16","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/27\/ai-claude-temukan-sistem-biologis-mirip-crispr-dalam-21-jam-fungsinya-masih-misterius\/"},"modified":"2026-09-27T08:44:16","modified_gmt":"2026-09-27T01:44:16","slug":"ai-claude-temukan-sistem-biologis-mirip-crispr-dalam-21-jam-fungsinya-masih-misterius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/27\/ai-claude-temukan-sistem-biologis-mirip-crispr-dalam-21-jam-fungsinya-masih-misterius\/","title":{"rendered":"AI Claude Temukan Sistem Biologis Mirip CRISPR dalam 21 Jam, Fungsinya Masih Misterius"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Anthropic mengklaim kecerdasan buatan (AI) Claude berhasil mengidentifikasi sistem biologis yang sebelumnya belum diketahui karakteristiknya melalui pencarian selama 21 jam. Sistem yang ditemukan pada virus penginfeksi bakteri itu memiliki susunan DNA menyerupai CRISPR. Namun, para ilmuwan belum mengetahui fungsi sebenarnya.<\/p>\n<p>Menurut Anadolu Agency, dikuti Sabttu, 26 September, Anthropic mengerahkan sekitar 950 agen AI Claude untuk menelusuri basis data DNA berskala besar. Penelitian tersebut diumumkan bersamaan dengan peluncuran kelompok riset dan laboratorium ilmu hayati perusahaan asal Amerika Serikat itu.<\/p>\n<p>Para peneliti awalnya memberikan instruksi umum kepada Claude untuk mencari enzim reverse transcriptase yang memiliki karakteristik tidak biasa. Enzim ini berfungsi menyalin informasi genetik dari RNA menjadi DNA.<\/p>\n<p>Dalam waktu 21 jam, sekitar 950 agen Claude menggunakan 210 juta token, yakni satuan informasi yang diproses AI, untuk mengumpulkan lebih dari 200.000 enzim reverse transcriptase.<\/p>\n<p>Dari pencarian tersebut, Claude mengidentifikasi 3.500 kandidat sistem biologis. Jumlah itu kemudian dipersempit menjadi 20 kandidat yang dianggap layak diteliti lebih lanjut.<\/p>\n<p>Salah satu agen AI menemukan pola pengulangan DNA di dekat gen yang menghasilkan enzim reverse transcriptase tidak biasa.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Analisis lanjutan mengidentifikasi sistem yang kemudian dinamai Anthropic array-associated reverse transcriptases (ARTs).<\/p>\n<p>Sistem tersebut terutama ditemukan pada bakteriofag, yakni virus yang menginfeksi bakteri. ARTs terdiri atas tiga komponen berupa enzim reverse transcriptase, gen pendamping di dekatnya, serta rangkaian panjang DNA berulang dengan jarak teratur.<\/p>\n<p>Susunan DNA tersebut menyerupai CRISPR, sistem pertahanan alami bakteri terhadap virus yang kemudian dikembangkan ilmuwan menjadi teknologi penyuntingan gen.<\/p>\n<p>Namun, Anthropic belum mengetahui fungsi ARTs. Perusahaan juga belum dapat memastikan apakah sistem tersebut bisa digunakan untuk menyunting gen.<\/p>\n<p>Enzim yang menjadi bagian ARTs sebenarnya sudah ditemukan dalam penelitian terdahulu terhadap bakteriofag berukuran sangat besar atau jumbo phage.<\/p>\n<p>Menurut Anthropic, Claude tampaknya menjadi yang pertama mengenali kemungkinan hubungan antara enzim tersebut, rangkaian DNA berulang, dan protein tambahan sebagai bagian dari sistem biologis tersendiri.<\/p>\n<p>Temuan itu mendapat perhatian Feng Zhang, profesor Massachusetts Institute of Technology (MIT) sekaligus salah satu pelopor teknologi penyuntingan genom CRISPR.<\/p>\n<p>Setelah meninjau naskah awal penelitian Anthropic, Zhang menyebut hubungan antara enzim reverse transcriptase dan rangkaian RNA berulang sebagai sesuatu yang &#8220;benar-benar menarik&#8221; serta layak diteliti lebih lanjut.<\/p>\n<p>Teknologi CRISPR sendiri telah mendukung pengembangan pengobatan penyakit genetik. Penelitian mengenai teknologi tersebut mengantarkan Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna meraih Hadiah Nobel Kimia 2020.<\/p>\n<p>Meski demikian, penemuan ARTs belum membuktikan bahwa sistem tersebut memiliki kemampuan serupa dengan CRISPR.<\/p>\n<p>Anthropic menegaskan peran Claude dalam penelitian ini terbatas pada analisis komputer dan penyusunan dugaan ilmiah. Seluruh eksperimen laboratorium, termasuk pengujian biokimia terhadap kandidat sistem yang ditemukan, dilakukan oleh ilmuwan manusia.<\/p>\n<p>Laboratorium Anthropic di kawasan Teluk San Francisco juga hanya beroperasi pada dua tingkat keamanan hayati terendah dan tidak menangani patogen yang mampu menginfeksi manusia.<\/p>\n<p>Perusahaan telah menerbitkan naskah awal penelitian atau preprint yang menjelaskan temuan tersebut. Sementara itu, eksperimen untuk memastikan fungsi biologis ARTs masih berlangsung.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/teknologi\/595826\/ai-claude-temukan-sistem-biologis-mirip-crispr-dalam-21-jam-fungsinya-masih-misterius\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Anthropic mengklaim kecerdasan buatan (AI) Claude berhasil mengidentifikasi sistem biologis yang sebelumnya belum diketahui karakteristiknya melalui pencarian selama 21 jam. Sistem yang ditemukan pada virus penginfeksi bakteri itu memiliki susunan DNA menyerupai CRISPR. Namun, para ilmuwan belum mengetahui fungsi sebenarnya. Menurut Anadolu Agency, dikuti Sabttu, 26 September, Anthropic mengerahkan sekitar 950 agen AI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108607,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-108606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}