{"id":108564,"date":"2026-09-27T00:38:18","date_gmt":"2026-09-26T17:38:18","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/27\/revisi-uu-ketenagakerjaan-apindo-minta-aturan-kerja-lebih-fleksibel-hak-buruh-tetap-dilindungi\/"},"modified":"2026-09-27T00:38:18","modified_gmt":"2026-09-26T17:38:18","slug":"revisi-uu-ketenagakerjaan-apindo-minta-aturan-kerja-lebih-fleksibel-hak-buruh-tetap-dilindungi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/27\/revisi-uu-ketenagakerjaan-apindo-minta-aturan-kerja-lebih-fleksibel-hak-buruh-tetap-dilindungi\/","title":{"rendered":"Revisi UU Ketenagakerjaan, Apindo Minta Aturan Kerja Lebih Fleksibel, Hak Buruh Tetap Dilindungi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan tidak menerapkan aturan yang sama untuk seluruh sektor usaha. Pengusaha membutuhkan fleksibilitas dalam mengatur pekerjaan, sementara pekerja tetap harus mendapatkan perlindungan.<\/p>\n<p>Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan revisi aturan tersebut perlu mengadopsi prinsip flexicurity, yakni keseimbangan antara fleksibilitas dunia usaha dan jaminan perlindungan pekerja.<\/p>\n<p>&#8220;Undang-Undang Tenaga Kerja bukan aturan yang berdiri sendiri. Harus ada kolaborasi dengan sektor industri, sektor perdagangan, dan sektor-sektor yang lain,&#8221; kata Bob dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 26 September.<\/p>\n<p>Menurut Bob, setiap sektor usaha memiliki karakteristik pekerjaan yang berbeda. Karena itu, ketentuan mengenai jam kerja, kontrak, dan alih daya tidak selalu bisa diterapkan secara seragam.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan sektor pariwisata yang harus tetap beroperasi selama 24 jam, termasuk pada hari libur nasional. Begitu pula dengan perkebunan kelapa sawit yang memiliki kebutuhan operasional tersendiri.<\/p>\n<p>&#8220;Jika seluruh hal diatur undang-undang maka tidak akan jalan. Misalnya terkait jam kerja 8 jam, di sektor pariwisata para pekerja justru bekerja 24 jam di tanggal merah,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Bob juga menyoroti penerapan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan alih daya atau outsourcing yang dinilainya sulit diterapkan pada sejumlah sektor.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Menurut Bob, pembatasan jam kerja dapat membuat perusahaan harus menambah jam lembur untuk memenuhi target produksi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan persoalan produksi di industri yang disebutnya membuat pekerja harus bekerja lembur dengan biaya upah lebih tinggi.<\/p>\n<p>Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI sekaligus anggota Panitia Kerja RUU Ketenagakerjaan, Zainul Munasichin, mengatakan pembahasan rancangan undang-undang tersebut telah memasuki pembicaraan tingkat I antara DPR dan pemerintah.<\/p>\n<p>Pembahasan mencakup perlindungan pekerja, penciptaan lapangan kerja, serta kepastian bagi dunia usaha.<\/p>\n<p>Salah satu pendekatan yang dibahas adalah perubahan dari konsep &#8220;kerja tetap&#8221; menjadi &#8220;tetap kerja&#8221;.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan tersebut, perlindungan pekerja tidak hanya berfokus pada keberlangsungan pekerjaan di satu perusahaan. Pekerja juga perlu mendapat dukungan ketika kehilangan pekerjaan agar dapat kembali memasuki pasar kerja.<\/p>\n<p>Menurut Zainul, pendekatan yang hanya mengandalkan status pekerjaan tetap sudah tidak memadai untuk menghadapi perubahan dunia kerja.<\/p>\n<p>DPR ingin memastikan seluruh hak pekerja terpenuhi selama mereka bekerja. Ketika kehilangan pekerjaan, negara diharapkan menyediakan perlindungan dan bantuan agar mereka bisa kembali mendapatkan pekerjaan.<\/p>\n<p>Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sebelumnya mengatakan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dijadwalkan rampung pada Oktober 2026.<\/p>\n<p>Namun, pembahasannya masih menghadapi perbedaan pandangan antara sejumlah federasi buruh dan Apindo.<\/p>\n<p>Dasco mengatakan DPR akan mempertemukan perwakilan buruh dan pengusaha terlebih dahulu untuk mencari kesepakatan mengenai ketentuan dalam rancangan undang-undang tersebut.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/595832\/revisi-uu-ketenagakerjaan-apindo-minta-aturan-kerja-lebih-fleksibel-hak-buruh-tetap-dilindungi\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan tidak menerapkan aturan yang sama untuk seluruh sektor usaha. Pengusaha membutuhkan fleksibilitas dalam mengatur pekerjaan, sementara pekerja tetap harus mendapatkan perlindungan. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan revisi aturan tersebut perlu mengadopsi prinsip flexicurity, yakni keseimbangan antara fleksibilitas dunia usaha dan jaminan perlindungan pekerja. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108565,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-108564","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108564"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108564\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}