{"id":108396,"date":"2026-09-26T07:35:13","date_gmt":"2026-09-26T00:35:13","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/26\/cuma-15-menit-peneliti-riau-tawarkan-cara-mendapatkan-air-untuk-memadamkan-gambut\/"},"modified":"2026-09-26T07:35:13","modified_gmt":"2026-09-26T00:35:13","slug":"cuma-15-menit-peneliti-riau-tawarkan-cara-mendapatkan-air-untuk-memadamkan-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/26\/cuma-15-menit-peneliti-riau-tawarkan-cara-mendapatkan-air-untuk-memadamkan-gambut\/","title":{"rendered":"Cuma 15 Menit, Peneliti Riau Tawarkan Cara Mendapatkan Air untuk Memadamkan Gambut"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Air untuk memadamkan kebakaran lahan gambut ternyata bisa diperoleh dari dalam tanah gambut itu sendiri. Peneliti Universitas Riau memperkenalkan teknik pembuatan sumur dangkal yang dapat dikerjakan dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit, berdasarkan pengalaman bersama masyarakat di Kabupaten Bengkalis.<\/p>\n<p>Cara tersebut dipaparkan ahli gambut Universitas Riau, Sigit Sutikno, saat berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.<\/p>\n<p>Sigit menjelaskan bahwa gambut mengandung sekitar 90 persen air. Karena itu, lapisan di bawah permukaan gambut sebenarnya merupakan tempat penyimpanan air alami.<\/p>\n<p>Namun, pembangunan kanal dapat mengurangi kandungan air di kawasan tersebut sehingga meningkatkan risiko kekeringan.<\/p>\n<p>Menurut Sigit, sumber air di kawasan gambut tertentu masih dapat dijangkau dengan menggali hingga kedalaman sekitar satu sampai satu setengah meter.<\/p>\n<p>&#8220;Artinya, terbakar di situ alat pemadamnya ada di situ. Ada air di situ. Permasalahannya adalah bagaimana mengambil atau mengakses air itu,&#8221; kata Sigit.<\/p>\n<div>\n<p class=\"my-3\" style=\"text-align: center !important\">\n        <iframe id=\"ae03fa89\" name=\"ae03fa89\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=a36f8217&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=61&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a36f8217\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n    <\/p>\n<div class=\"my-3 text-center\">\n<div class=\"row\">\n<div class=\"col-12 d-flex align-items-center justify-content-center\">\n                <iframe style=\"display:block\" id=\"ab424a17\" name=\"ab424a17\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/afr.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" width=\"300\" height=\"250\" allow=\"autoplay\"><a href=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/ck.php?n=aab3ec5c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE\" target=\"_blank\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" src=\"https:\/\/ads.sibernetworks.com\/www\/delivery\/avw.php?zoneid=15&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aab3ec5c\" alt=\"\"\/><\/a><\/iframe>\n            <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Berdasarkan pengalaman bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) di Bengkalis, pembuatan sumur bor dangkal dapat dilakukan menggunakan peralatan sederhana.<\/p>\n<p>Pipa dimasukkan ke dalam tanah hingga mencapai sumber air, kemudian dihubungkan dengan pompa portabel.<\/p>\n<p>Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memperoleh air untuk pemadaman tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari lokasi yang jauh.<\/p>\n<p>&#8220;Cukup 10 sampai 15 menit membuat sumur bor itu,&#8221; ujar Sigit.<\/p>\n<p>Selain sumur bor, ia memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Riau berupa perigi atau lubang kecil untuk mengakses air di dalam gambut.<\/p>\n<figure class=\"image\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload\" title=\"Dr. Eng. Sigit Sutikno, ST., MT. ahli gambut dari  Universitas Riau. (Foto: Biro Pers Media Presiden)\" src=\"https:\/\/voi.id\/storage\/publishers\/595746\/body_image_2026092523.jpeg\" alt=\"Dr. Eng. Sigit Sutikno, ST., MT. ahli gambut dari  Universitas Riau. (Foto: Biro Pers Media Presiden)\"\/><figcaption>Dr. Eng. Sigit Sutikno, ST., MT. ahli gambut dari Universitas Riau. (Foto: Biro Pers Media Presiden)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurutnya, embung di lahan gambut tidak perlu dibuat terlalu besar karena sumber air sudah tersedia di bawah permukaan. Lubang yang terlalu luas justru dapat meningkatkan penguapan.<\/p>\n<p>Sigit mencontohkan perigi berukuran satu kali dua meter yang telah diterapkan di sebuah desa di Riau.<\/p>\n<p>Perigi tersebut dibuat dengan jarak sekitar 200 meter, menyesuaikan panjang selang pemadam kebakaran yang digunakan masyarakat.<\/p>\n<p>Ketika kebakaran terjadi, petugas tinggal memasukkan selang ke dalam perigi untuk mengambil air.<\/p>\n<p>Ia menyarankan teknik sederhana tersebut diajarkan kepada kelompok Masyarakat Peduli Api di daerah lain agar kemampuan pemadaman awal dapat ditingkatkan.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/595746\/cuma-15-menit-peneliti-riau-tawarkan-cara-mendapatkan-air-untuk-memadamkan-gambut\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Air untuk memadamkan kebakaran lahan gambut ternyata bisa diperoleh dari dalam tanah gambut itu sendiri. Peneliti Universitas Riau memperkenalkan teknik pembuatan sumur dangkal yang dapat dikerjakan dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit, berdasarkan pengalaman bersama masyarakat di Kabupaten Bengkalis. Cara tersebut dipaparkan ahli gambut Universitas Riau, Sigit Sutikno, saat berdiskusi dengan Presiden [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":108397,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-108396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"5 hours ago","modified":"5 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108396"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108396\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108397"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}