{"id":107636,"date":"2026-09-22T21:55:17","date_gmt":"2026-09-22T14:55:17","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/22\/duit-rp480-miliar-dibawa-gunakan-land-cruiser-ke-arena-muktamar-nu\/"},"modified":"2026-09-22T21:55:17","modified_gmt":"2026-09-22T14:55:17","slug":"duit-rp480-miliar-dibawa-gunakan-land-cruiser-ke-arena-muktamar-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/22\/duit-rp480-miliar-dibawa-gunakan-land-cruiser-ke-arena-muktamar-nu\/","title":{"rendered":"Duit Rp480 Miliar Dibawa Gunakan Land Cruiser ke Arena Muktamar NU"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Habis Muktamar NU, saya kira langit Jombang kembali biru, burung berkicau, santri ngopi, kiai pulang kampung, dan nahdliyin tinggal menunggu SK pengurus baru sambil berharap bisyaroh tidak tersesat di perjalanan. Ternyata saya keliru. Muktamar memang selesai, tetapi episode duit justru baru dimulai. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!<\/p>\n<p>Inilah konspirasi paling \u201cNU\u201d pemilihan ketua sudah pakai AHWA, sembilan kiai sepuh dikumpulkan supaya politik uang mati kutu, tetapi setelah muktamar selesai, kutunya malah seperti punya cucu.<\/p>\n<p>Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, berlangsung 27\u201331 Agustus 2026. KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam. Gus Kikin alias KH Abdul Hakim Mahfudz naik menjadi Ketua Umum melalui mekanisme AHWA. Sistemnya dibuat agar jual-beli suara tidak berkeliaran.<\/p>\n<p>Lalu datanglah 14 September. KPK melakukan OTT dan menemukan Rp106,3 miliar dalam puluhan koper dan kardus di rumah mantan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto alias Gus Arif. Beliau ini orang kepercayaan Menteri ATR\/BPN Nusron Wahid. Empat orang kepercayaan Nusron disebut menyatakan koper-koper tersebut milik sang menteri. KPK kemudian mendalami dugaan aliran dana, termasuk kemungkinan berkaitan dengan operasional Muktamar.<\/p>\n<p>Nah, di sinilah kalkulator mulai bergetar. Gus Ipul, mantan Ketua Panitia, langsung membantah. Katanya tidak ada kaitan sama sekali dan tidak sepeser pun uang korupsi masuk panitia.<\/p>\n<p>Tim Qanun Asasi juga menyambar. Itu hoaks, fitnah! Alasannya cukup waras. OTT terjadi 14 September. Sedangkan Muktamar sudah selesai 31 Agustus. \u201cBagaimana uang baru ditangkap bisa membiayai acara yang sudah bubar?\u201d<\/p>\n<p>Logika kalender pun ikut berdzikir. Tapi tiba-tiba muncul Gus Lilur ((Khalilur R. Abdullah Sahlawiy), kiai kampung asal Situbondo. Lewat podcast Madilog Forum Keadilan TV sekitar 21\u201322 September, beliau membawa cerita bikin sandal para nahdliyin terasa goyang.<\/p>\n<p>Menurut Gus Lilur, berdasarkan informasi yang ia klaim diperoleh dari penyidik KPK, ada uang sekitar Rp480 miliar dibawa menggunakan Land Cruiser dari Selatan Jakarta menuju Jombang untuk perhelatan Muktamar.<\/p>\n<p>Empat ratus delapan puluh miliar, cak! Itu bukan lagi uang. Itu sudah seperti rombongan calon pengurus naik haji bersama.<\/p>\n<p>Lebih dahsyat lagi, Gus Lilur menyebut Nusron Wahid diduga menyumbang Rp180 miliar. Ia menyerukan, jika benar ada penerima uang tersebut, sebaiknya dikembalikan kepada KPK. Tentunya itu tuduhan paling seksi dari Gus Lilur bukan fakta hukum yang sudah terbukti.<\/p>\n<p>Gus Lilur menyatakan, angka Rp106,3 miliar hasil OTT hanyalah bagian dari cerita yang jauh lebih besar. Kalau 550-an cabang dikalikan bisyaroh, katanya, angka ratusan miliar bukan sesuatu mustahil.<\/p>\n<p>Di sinilah konspirasi NU memasuki babak baru. AHWA sembilan kiai, di antaranya KH Nurul Huda Djazuli, TGH Nuruzzahri Yahya, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Anwar Iskandar, dibentuk untuk mencegah jual-beli suara.<\/p>\n<p>Tetapi kalau cerita Gus Lilur benar, maka politik uang ternyata bukan mati. Dia cuma pindah kamar.<\/p>\n<p>Sampai sekarang panitia belum memberikan respons khusus mengenai klaim Rp480 miliar tersebut. Belum ada konfirmasi resmi soal Land Cruiser, belum ada kepastian mengenai Rp180 miliar yang dikaitkan dengan Nusron, dan belum ada informasi resmi, anggota AHWA mengembalikan uang.<\/p>\n<p>So, para nahdliyin sekarang punya dua kesibukan, yakni menunggu SK PBNU dan menunggu ujung cerita Land Cruiser.<\/p>\n<p>Kalau terbukti, sejarah akan mencatat Muktamar ke-35 bukan cuma melahirkan ketua baru, tetapi juga melahirkan legenda otomotif paling mahal dalam sejarah jam\u2019iyah. Kalau tidak terbukti, ya sudah. Kita pulang membawa satu pelajaran penting, di NU, setelah Muktamar selesai, yang belum tentu selesai adalah ceritanya.<\/p>\n<p>\u201cBang, kalau cerita duit, semua jadi sensitif.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBenar, wak. Tapi, bagi NU sudah terbiasa dituduh demikian. Nanti akan hilang bersamaan meredupnya kasus Nusron.\u201d Ups. (*)<\/p>\n<p>Penulis: Rosadi Jamani<\/p>\n<p> <!-- AI CONTENT END 2 --><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediakalbarnews.com\/duit-rp480-miliar-dibawa-gunakan-land-cruiser-ke-arena-muktamar-nu\/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=duit-rp480-miliar-dibawa-gunakan-land-cruiser-ke-arena-muktamar-nu\">Sumber<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Habis Muktamar NU, saya kira langit Jombang kembali biru, burung berkicau, santri ngopi, kiai pulang kampung, dan nahdliyin tinggal menunggu SK pengurus baru sambil berharap bisyaroh tidak tersesat di perjalanan. Ternyata saya keliru. Muktamar memang selesai, tetapi episode duit justru baru dimulai. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Inilah konspirasi paling \u201cNU\u201d pemilihan ketua sudah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":107637,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-107636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107636"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107636\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107637"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}