{"id":106939,"date":"2026-09-19T14:51:12","date_gmt":"2026-09-19T07:51:12","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/bp-bumn-dorong-perhutani-alihkan-sumber-pendapatan-dari-kayu-ke-perdagangan-karbon\/"},"modified":"2026-09-19T14:51:12","modified_gmt":"2026-09-19T07:51:12","slug":"bp-bumn-dorong-perhutani-alihkan-sumber-pendapatan-dari-kayu-ke-perdagangan-karbon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/bp-bumn-dorong-perhutani-alihkan-sumber-pendapatan-dari-kayu-ke-perdagangan-karbon\/","title":{"rendered":"BP BUMN Dorong Perhutani Alihkan Sumber Pendapatan dari Kayu ke Perdagangan Karbon"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/Y6ngzpFfTHHll7QQvctESOfeZEeXk7usnMnkhJzkwcE\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81OTQ3ODYvMjAyNjA5MTkwMDA3LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzg5NzUxMzI3LmpwZWc.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p>BANDUNG &#8211; Badan Pengelola (BP) BUMN mendorong Perum Perhutani mengalihkan sumber pendapatan dari bisnis kayu ke perdagangan karbon. Saat ini, pendapatan Perhutani dari bisnis kayu dan industri kayu diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun per tahun.<\/p>\n<p>Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengatakan Perhutani memiliki potensi <em>natural capital<\/em> yang tidak hanya berasal dari kayu, tetapi juga karbon, tata air, wisata, dan jasa lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cArahan BP BUMN untuk Perhutani, Perhutani itu kan saat ini <em>natural capital<\/em> itu dari kayu, tata air, <em>carbon<\/em>, wisata dan jasa lingkungan. Kita harapkan Perhutani tetap menjaga hutan, untuk instrumen ekonomi mulai bergerak ke <em>carbon trading<\/em>,\u201d ujar Roziqin saat ditemui di Bandung, dikutip Jumat, 18 September.<\/p>\n<p>Menurut Roziqin, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan sejumlah instrumen regulasi untuk mendukung penyelenggaraan perdagangan karbon di Indonesia. Karena itu, Perhutani didorong mulai mengukur potensi penyerapan karbon dari kawasan hutan yang dikelolanya.<\/p>\n<p>Perdagangan karbon tersebut nantinya dapat menyasar pembeli dari pasar domestik maupun internasional. Pendapatan dari sektor ini diharapkan secara bertahap mampu mengimbangi pendapatan Perhutani dari penebangan hutan.<\/p>\n<p>\u201cHarusnya pendapatan Perhutani dari menebang hutan yang saat ini Rp1,5 triliun per tahun, harusnya bisa di-<em>cover<\/em> dari <em>carbon trading<\/em>,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Roziqin menegaskan, pergeseran model bisnis tersebut tidak dilakukan secara langsung. Pada tahap awal, perdagangan karbon akan dikombinasikan dengan bisnis kayu sebelum nantinya berpotensi menggantikan pendapatan dari penebangan hutan.<\/p>\n<p>\u201cTransformasi dari Perhutani yang paling nyata itu dari <em>switch revenue<\/em>-nya dari sebelumnya menebang hutan, nanti mulai dikombinasi dengan <em>carbon trading<\/em>. Titik tertentu kalau <em>carbon trading<\/em> sudah luas, mungkin Perhutani mendapatkan <em>revenue<\/em> dari <em>carbon trading<\/em> dan menggantikan pendapatan dari penebangan hutan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<h3>Perhutani Kelola 3,6 Juta Hektare Hutan<\/h3>\n<p>Sementara itu, Direktur Operasi Perum Perhutani Wawan Triwibowo mengatakan Perhutani saat ini memiliki izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) seluas 3,6 juta hektare (ha).<\/p>\n<p>Dari total tersebut, sekitar 2,4 juta ha berada di Pulau Jawa, sedangkan 1,21 juta ha berada di luar Jawa.<\/p>\n<p>Di Pulau Jawa, bisnis kayu dan industri kayu masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama Perhutani dengan kontribusi 41 persen. Sementara itu, 47 persen pendapatan berasal dari getah dan industri GTD, 6 persen dari agroforestri, 5 persen dari wisata, dan 1 persen dari MKP.<\/p>\n<p>Untuk kawasan hutan di luar Jawa, seperti Kalimantan dan Sulawesi Selatan, sebanyak 92 persen pendapatan berasal dari kayu dan industri kayu. Sisanya berasal dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa wisata sebesar 5 persen serta tanaman industri sebesar 3 persen.<\/p>\n<p>Adapun di Lampung dan Bangka Belitung, pendapatan Perhutani berasal dari getah pinus sebesar 82 persen, jasa dan rehabilitasi 4 persen, serta agroforestri 14 persen.<\/p>\n<p>Wawan mengatakan Perhutani ingin mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari kayu dengan mengembangkan sumber ekonomi lain dari kawasan hutan.<\/p>\n<p>\u201cKita berharap ke depan ketergantungan dari pendapatan kayu ini semakin kecil. Ke depan kita ingin mengembangkan <em>forest resort<\/em> dimana hutan ada, tetapi kita bisa memperoleh ekonomi,\u201d ujar Wawan.<\/p>\n<h3>Fokus Karbon di Sumatera dan Kalimantan<\/h3>\n<p>Khusus untuk perdagangan karbon, Perhutani tengah membentuk <em>Project Management Office<\/em> (PMO) yang akan mempelajari potensi perdagangan karbon sebagai sumber pendapatan baru bagi perusahaan.<\/p>\n<p>Wawan mengatakan kawasan hutan di luar Jawa, terutama Sumatera dan Kalimantan, akan menjadi fokus pengembangan perdagangan karbon. Saat ini, Perhutani masih melakukan asesmen terhadap kondisi PBPH di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKami berharap ke depan fokus kita di luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan, kita akan fokuskan ke <em>carbon trading<\/em>. Kita sedang melakukan asesmen, kondisi PBPH di sana,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Perhutani tetap menjalankan program penanaman untuk meningkatkan tutupan lahan. Pada musim tanam 2026, perusahaan menyiapkan 20.479.182 <em>planting stock<\/em> (plc) bibit tanaman untuk memenuhi target penanaman seluas 26.007 ha.<\/p>\n<p>Penanaman tersebut tersebar di 57 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di wilayah kerja Perhutani.<\/p>\n<p>\u201cPersiapan musim tanam merupakan bagian penting dari komitmen untuk menjaga kelestarian sekaligus memastikan hutan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/ekonomi\/594786\/bp-bumn-dorong-perhutani-alihkan-sumber-pendapatan-dari-kayu-ke-perdagangan-karbon\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDUNG &#8211; Badan Pengelola (BP) BUMN mendorong Perum Perhutani mengalihkan sumber pendapatan dari bisnis kayu ke perdagangan karbon. Saat ini, pendapatan Perhutani dari bisnis kayu dan industri kayu diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun per tahun. Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengatakan Perhutani memiliki potensi natural capital yang tidak hanya berasal dari kayu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":106940,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-106939","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106939","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106939"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106939\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106939"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106939"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106939"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}