{"id":106893,"date":"2026-09-19T10:38:13","date_gmt":"2026-09-19T03:38:13","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/nielseniq-ungkap-empat-indikator-untuk-menjaga-kesehatan-finansial-anak-muda\/"},"modified":"2026-09-19T10:38:13","modified_gmt":"2026-09-19T03:38:13","slug":"nielseniq-ungkap-empat-indikator-untuk-menjaga-kesehatan-finansial-anak-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/nielseniq-ungkap-empat-indikator-untuk-menjaga-kesehatan-finansial-anak-muda\/","title":{"rendered":"NielsenIQ Ungkap Empat Indikator untuk Menjaga Kesehatan Finansial Anak Muda"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/4AVU5IUhzFHo1WjFiFpLg8BmvgIJiTqTegcEh0yZCP8\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81OTQ3OTQvMjAyNjA5MTkwMDQyLW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzg5NzUzMzUwLmpwZw.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Director Strategic Analytics &amp; Insight NielsenIQ (NIQ) Indonesia Inggit Primadevi mengatakan terdapat empat aspek yang dapat menjadi indikator untuk menjaga kesehatan finansial seseorang, terutama di kalangan anak muda Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cPentingnya anak muda tidak hanya memiliki kesadaran untuk mengelola keuangan, tetapi juga memastikan pengelolaan tersebut mencakup kebutuhan saat ini hingga persiapan jangka panjang,\u201d kata Inggit dalam acara OCBC Financial Fitness Index 2026 di Nyala Festival, Jakarta, dikutip Antara, Sabtu, 19 September.<\/p>\n<p>Inggit mengatakan hasil survei Financial Fitness Index (FFI) 2026 yang dilakukan PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) bersama NielsenIQ menunjukkan adanya penurunan tipis tingkat kesehatan finansial anak muda Indonesia.<\/p>\n<p>Pada 2026, skor FFI turun menjadi 39,4 dari 40,6 pada tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Menurut Inggit, kondisi tersebut dapat menjadi tolok ukur bagi anak muda untuk mulai memperbaiki kesehatan finansial melalui empat aspek, yakni <em>Financial Basic<\/em>, <em>Financial Safety<\/em>, <em>Financial Growth<\/em>, dan <em>Financial Freedom<\/em>.<\/p>\n<h3>Financial Basic<\/h3>\n<p>Aspek pertama adalah <em>Financial Basic<\/em>, yang berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan rumah tangga, cicilan, utang, hingga kewajiban lainnya.<\/p>\n<p>Inggit mengatakan fondasi keuangan perlu dipastikan kuat sebelum seseorang meningkatkan tujuan keuangannya ke tahap berikutnya. Artinya, pendapatan perlu dikelola agar kebutuhan pokok dan kewajiban rutin tetap terpenuhi.<\/p>\n<h3>Financial Safety<\/h3>\n<p>Aspek kedua adalah <em>Financial Safety<\/em>, yang mengukur kesiapan seseorang menghadapi kebutuhan tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau pengeluaran mendesak lainnya.<\/p>\n<p>Salah satu bentuk kesiapan tersebut adalah menyiapkan dana darurat yang terpisah dari dana untuk kebutuhan rutin maupun tujuan keuangan lainnya.<\/p>\n<p>\u201cKalau ada apa-apa, misalnya <em>layoff<\/em>, sakit, atau hal-hal yang diperlukan, kita cukup punya dana,\u201d kata Inggit.<\/p>\n<h3>Financial Growth<\/h3>\n<p>Setelah memiliki kesiapan menghadapi kebutuhan tidak terduga, indikator berikutnya adalah <em>Financial Growth<\/em>.<\/p>\n<p>Pada tahap ini, pengelolaan keuangan mulai diarahkan untuk mencapai tujuan jangka menengah dan panjang, termasuk investasi serta persiapan dana pensiun.<\/p>\n<p>Inggit mengatakan menabung tidak harus selalu dikaitkan dengan tujuan yang dianggap serius, seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun. Tujuan konsumtif, seperti liburan, juga dapat menjadi tujuan menabung selama sudah direncanakan dalam anggaran dan tidak mengganggu kebutuhan maupun keamanan finansial.<\/p>\n<p>\u201cTidak apa-apa banget kita punya tujuan menabung yang materialistik, selama ada tujuannya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h3>Financial Freedom<\/h3>\n<p>Aspek terakhir adalah <em>Financial Freedom<\/em>. Pada tahap ini, seseorang memiliki kemampuan finansial yang lebih kuat sehingga kebutuhan hidup dapat dipenuhi dari sumber daya keuangan yang telah dibangun.<\/p>\n<p>Menurut Inggit, keempat aspek tersebut menunjukkan bahwa kesehatan finansial bukan semata-mata persoalan besar atau kecilnya pendapatan maupun gaya hidup seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana pendapatan dikelola sesuai dengan kemampuan dan tujuan masing-masing.<\/p>\n<p>Inggit juga menyoroti gaya hidup yang kerap dianggap sebagai salah satu penyebab buruknya kondisi keuangan anak muda.<\/p>\n<p>Menurut dia, besarnya alokasi untuk gaya hidup tidak serta-merta menunjukkan rendahnya kesehatan finansial seseorang.<\/p>\n<p>Seseorang tetap dapat memiliki alokasi gaya hidup yang relatif tinggi selama memiliki dana darurat dan perencanaan keuangan yang memadai.<\/p>\n<p>\u201cBelum tentu orang-orang yang punya <em>lifestyle<\/em> yang tinggi itu <em>financial fitness<\/em>-nya jelek. Kalau dia sudah punya dana darurat, sudah punya perencanaan, itu sebenarnya <em>fine<\/em>-fine saja,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia pun berpesan kepada anak muda untuk membangun kesadaran dalam mengelola keuangan secara seimbang. Kesehatan finansial dapat dibangun secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing, dengan menetapkan tujuan menuju kebebasan finansial.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/ekonomi\/594794\/nielseniq-ungkap-empat-indikator-untuk-menjaga-kesehatan-finansial-anak-muda\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Director Strategic Analytics &amp; Insight NielsenIQ (NIQ) Indonesia Inggit Primadevi mengatakan terdapat empat aspek yang dapat menjadi indikator untuk menjaga kesehatan finansial seseorang, terutama di kalangan anak muda Indonesia. \u201cPentingnya anak muda tidak hanya memiliki kesadaran untuk mengelola keuangan, tetapi juga memastikan pengelolaan tersebut mencakup kebutuhan saat ini hingga persiapan jangka panjang,\u201d kata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":106894,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-106893","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"6 hours ago","modified":"6 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106893","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106893"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106893\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106894"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106893"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106893"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106893"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}