{"id":106880,"date":"2026-09-19T08:59:29","date_gmt":"2026-09-19T01:59:29","guid":{"rendered":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/imigrasi-intensifkan-penindakan-wna-yang-terlibat-jaringan-scamming\/"},"modified":"2026-09-19T08:59:29","modified_gmt":"2026-09-19T01:59:29","slug":"imigrasi-intensifkan-penindakan-wna-yang-terlibat-jaringan-scamming","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/2026\/09\/19\/imigrasi-intensifkan-penindakan-wna-yang-terlibat-jaringan-scamming\/","title":{"rendered":"Imigrasi Intensifkan Penindakan WNA yang Terlibat Jaringan Scamming"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imgsrv2.voi.id\/OjTYMhefE6R_O5-2xKatLtOSxRzk6bnDFpcAQUGLpkg\/fill\/450\/280\/sm\/1\/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy81OTQ3OTUvMjAyNjA5MTkwMDQ3LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNzg5NzUzNjM4LmpwZw.jpg\" \/><\/p>\n<div>\n<p>JAKARTA &#8211; Direktorat Jenderal Imigrasi mengintensifkan penindakan terhadap warga negara asing (WNA) yang terlibat jaringan kejahatan siber berupa penipuan daring atau <em>scamming<\/em> di sejumlah wilayah Indonesia.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan setiap unit pelaksana teknis (UPT) hingga tingkat direktorat didorong memproses setiap pelanggaran yang dilakukan WNA melalui sanksi administratif keimigrasian maupun proses pidana.<\/p>\n<p>\u201cUntuk masalah penindakan di setiap UPT dan Direktorat, kita lakukan penegakan hukum secara presisi. Secara normatif kita akan lihat apakah kasusnya masuk ranah administrasi keimigrasian atau pidana,\u201d ujar Hendarsam di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dikutip<em> Antara<\/em>, Sabtu, 19 September.<\/p>\n<p>Terkait penanganan WNA yang terlibat kejahatan siber, Hendarsam menjelaskan Imigrasi menerapkan dua mekanisme, yakni melalui proses peradilan pidana di dalam negeri atau deportasi ke negara asal untuk menjalani proses hukum setempat.<\/p>\n<p>Khusus pelaku kejahatan asal Tiongkok, Imigrasi cenderung berkoordinasi dengan pemerintah negara tersebut untuk memulangkan para tersangka agar menjalani proses hukum di negara asal.<\/p>\n<p>\u201cKalau untuk praktik <em>scamming<\/em>, contohnya Tiongkok, ada yang kita deportasi dan proses hukum di sana. Karena proses hukum di sana juga berat, bisa 10 tahun sampai seumur hidup. Kita serahkan ke sana, tergantung komunikasi dengan negara terkait,\u201d tutur Hendarsam.<\/p>\n<h3>31 WNA Malaysia dan Taiwan Diamankan<\/h3>\n<p>Sementara itu, sebanyak 31 WNA asal Malaysia dan Taiwan yang diduga terlibat penipuan daring diamankan petugas Kantor Imigrasi bersama Polresta Pontianak di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.<\/p>\n<p>Kepala Kantor Imigrasi Pontianak Sam Fernando mengatakan pihaknya menindaklanjuti informasi dari Satuan Intelijen Polresta Pontianak mengenai keberadaan dan aktivitas sejumlah WNA di salah satu hotel di Kota Pontianak pada Selasa (8\/9).<\/p>\n<p>\u201cPetugas melakukan pemeriksaan dari sisi keimigrasian terhadap identitas dan kewarganegaraan, dokumen perjalanan, jenis dan masa berlaku izin tinggal, serta kesesuaian kegiatan yang dilakukan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal,\u201d kata Sam.<\/p>\n<p>Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tiga WNA asal Malaysia telah melampaui batas waktu izin tinggal atau <em>overstay<\/em>.<\/p>\n<p>Petugas juga menemukan dugaan penyalahgunaan izin tinggal berupa kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal.<\/p>\n<p>Kantor Imigrasi Pontianak kemudian melakukan penanganan dan tindak lanjut terhadap temuan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.<\/p>\n<p>                                    <a href=\"https:\/\/www.google.com\/preferences\/source?q=https:\/\/voi.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"&#10;    display:flex;&#10;    align-items:center;&#10;    justify-content:space-between;&#10;    gap:16px;&#10;    padding:14px 16px;&#10;    margin:20px 0;&#10;    border:1px solid #e5e7eb;&#10;    border-radius:14px;&#10;    background:#ffffff;&#10;    text-decoration:none;&#10;    max-width:480px;&#10;    box-shadow:0 1px 3px rgba(0,0,0,.08);&#10;  \"><\/p>\n<div style=\"display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n<div>\n<p>\n        Add VOI as a Preferred Source\n      <\/p>\n<p>\n        Follow VOI news updates across Google.\n      <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>\n    +\n  <\/p>\n<p><\/a><\/p><\/div>\n<p><script>\n      !function(f,b,e,v,n,t,s)\n      {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n      n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};\n      if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';\n      n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n      t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];\n      s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script',\n      'https:\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n      fbq('init', '243878556852666');\n      fbq('track', 'PageView');\n    <\/script><br \/>\n<br \/><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/voi.id\/berita\/594795\/imigrasi-intensifkan-penindakan-wna-yang-terlibat-jaringan-scamming\">Sumber <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Direktorat Jenderal Imigrasi mengintensifkan penindakan terhadap warga negara asing (WNA) yang terlibat jaringan kejahatan siber berupa penipuan daring atau scamming di sejumlah wilayah Indonesia. Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan setiap unit pelaksana teknis (UPT) hingga tingkat direktorat didorong memproses setiap pelanggaran yang dilakukan WNA melalui sanksi administratif keimigrasian maupun proses pidana. \u201cUntuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-106880","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-business"],"relative_dates":{"created":"7 hours ago","modified":"7 hours ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106880","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106880"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106880\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106880"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106880"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fokusberitaindonesia.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106880"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}